kumparan
25 Juni 2018 21:42

Hari Moekti di Mata Gilang Ramadhan: Bisa Redam Penonton yang Arogan

Hari Moekti
Hari Moekti Meninggal (Foto: harimoekti/instagram)
Kepergian musisi sekaligus ustaz Hari Moekti tak hanya menyisakan duka mendalam untuk keluarga. Namun, juga bagi rekan-rekannya di dunia hiburan, termasuk musisi Gilang Ramadhan. Ia mengaku terkejut mendengar kabar meninggalnya lelaki berusia 61 tahun itu.
ADVERTISEMENT
"Terus terang, pas tahu, shock juga saya. Personel band kami juga shock," ucap Gilang ketika dihubungi kumparan melalui sambungan telepon, Senin (25/6).
Pada kesempatan tersebut, Gilang sekaligus menceritakan mengenai awal pertemuannya dengan mendiang Hari. Menurutnya, mereka berkenalan pada 1985, melalui grup musik Krakatau.
"Sebelum saya masuk di Krakatau kan dia duluan masuk. Saya melihat sosok dia itu kan rock and roller Cimahi, orang Jawa Barat yang petantang-petenteng, terus doyan berantem. Mungkin karena dia anak kolong kan, ya," beber Gilang.
Loading Instagram...
Setelah Hari tak lagi menjadi vokalis Krakatau, mereka kembali menjadi rekan kerja pada 1989. Kala itu, Hari bergabung dengan Adegan, grup musik yang dibentuk oleh Gilang bersama Indra Lesmana, Gonny Suhendra, dan AS Mates.
ADVERTISEMENT
Gilang mengaku merekrut Hari lantaran terkesan dengan sosok almarhum yang lantang dalam berbicara, dan mampu mengarahkan penonton untuk menjadi lebih tertib.
"Saya berpikir, ini orang nyanyi dan mengutarakan kata-kata di panggung itu cukup lantang. Saya butuh yang kriterianya di Indonesia itu bisa tembus dari segmentasi menengah ke bawah. Nah, dia ini cukup piawai, bisa meredam penonton yang arogan. Dia bisa mengontrol massa," tuturnya.
Menurut musisi berusia 55 tahun ini, dengan kemampuan tersebut, saat itu Hari telah mampu berdakwah.
"Bukan dakwah secara agamis. Saat itu, dia juga sudah bisa melakukan hal yang positif pada masyarakat umum. Orang penonton yang urakan-urakan itu saja bisa dia kontrol," ujarnya.
Hari Moekti
Hari Moekti Meninggal (Foto: harimoekti/instagram)
Di samping itu, bagi Gilang, Hari juga merupakan seseorang yang setia kawan. Kala itu, ia juga memiliki obsesi untuk menjadi bintang besar.
ADVERTISEMENT
"Dia ingin mempunyai grup band pada saat itu, menjadi superstar. Dia ingin terkenal di seluruh Asia, sifat kebintangannya tuh tinggi," ungkapnya.
Sementara itu, Gilang sempat bertemu Hari untuk terakhir kalinya di kawasan Cibubur, belum lama ini. Mereka pun saling bersapa.
"Apakah memang itu message-nya dia untuk say goodbye, karena lama saya enggak ketemu dia. Begitu saya ketemu sama dia, maaf nih ya, biasanya kan dia pakai baju koko atau baju yang sesuai sesuai figurnya sebagai ustaz, tapi terakhir-terakhir balik lagi kayak dulu," tutur Gilang.
"Saya tanya pakai bahasa Sunda, apakah kangen menyanyi. Dia mengiyakan. Di mata saya, saat itu ibarat lihat sosok Hari di masa lalu," tandasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan