Kilas Balik Perjalanan Karier Henky Solaiman di Dunia Akting

15 Mei 2020 20:42 WIB
comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Henky Solaiman. Foto: Instagram/@opahenky
zoom-in-whitePerbesar
Henky Solaiman. Foto: Instagram/@opahenky
ADVERTISEMENT
Industri film Indonesia berduka. Aktor Henky Solaiman meninggal dunia di usia 78 tahun.
ADVERTISEMENT
Hingga saat ini, keluarga belum mengonfirmasi apa penyebab kematian Hengky. Namun, anak Henky, aktor Verdi Solaiman, menjelaskan bahwa ayahnya sempat menderita kanker usus.
Untuk mengenang sosoknya, mari lihat perjalanan karier Henky di industri perfilman Indonesia.
Henky Solaiman. Foto: Instagram/@opahenky
Sebelum menjadi bintang film, Henky Solaiman menempuh pendidikan di Akademi Theater Nasional Indonesia, Yogyakarta. Sekolah itu juga yang mempertemukan Henky dengan sutradara kawakan, Teguh Karya.
Saat Teguh Karya mendirikan Teater Populer HI pada 1968, Henky sangat aktif terlibat sebagai aktor. Di kelompok itu pula Henky berkenalan dengan banyak aktor legendaris Indonesia, seperti Christine Hakim, Slamet Rahardjo Djarot, dan Alex Komang.
Awal era '70-an, Teguh mulai sering menjadi sutradara film dan Henky tentu saja mengikuti jejak sahabatnya itu. Henky bahkan menjadi salah satu pemeran pendukung di film Wadjah Seorang Lelaki (1971) yang disutradarai oleh Teguh Karya.
Henky Solaiman. Foto: Instagram/@opahenky
Setelah Wadjah Seorang Lelaki (1971), Henky Solaiman semakin sering dipercaya untuk menjadi pemeran pendukung di film-film Teguh, seperti Cinta Pertama (1973), Kawin Lari (1974), dan Doea Tanda Mata (1984). Ia juga ikut berperan di film pertama yang disutradarai oleh Slamet Rahardjo Djarot, Rembulan dan Matahari (1979).
ADVERTISEMENT
Memasuki pertengahan era '80-an, Henky menyutradarai di film Romantika (1985) yang ternyata sangat populer di masyarakat Indonesia. Film itu juga yang berhasil mempopulerkan nama Meriam Bellina.
Sejak film Romantika, Henky semakin sering memilih Meriam Bellina sebagai pemeran utama di film-film yang disutradarainya.
Aktor Henky Solaiman Foto: Instagram @opahenky
Biarpun sudah bisa menjadi sutradara, Henky sepertinya masih sangat senang berakting. Jelang akhir era '80-an, ia membintangi tiga film drama komedi populer, yakni Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1985), Lupus (1987), dan Joe Turun Ke Desa (1989).
Di era '90-an, Henky Solaiman sudah berusia 50 tahun. Bukannya beristirahat, Henky justru kian sering tampil di layar perak.
Hebatnya, ia bermain di 9 film pada 1990, termasuk Taksi, Ratapan Anak Tiri 3, dan Lupus 4. Meski hanya menjadi pemeran pendukung, ini menjadi salah satu prestasi yang menunjukkan betapa besar keinginan Henky untuk memajukan industri film Indonesia.
Henky Solaiman. Foto: Instagram/@opahenky
Di usia senja, Henky terus aktif bermain film. Agaknya, ia tak mau kalah saing dari sang anak, Verdy Solaiman, yang kini juga dianggap sebagai salah satu aktor terbaik Indonesia.
ADVERTISEMENT
Di era 2000-an, Henky terlibat di banyak film yang sering mendapat penghargaan di ajang penganugerahan bergengsi, seperti Laskar Pelangi, Soegija, dan Jendral Soedirman.
Ia bahkan turut terlibat di Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 yang kini menjadi film Indonesia terlaris dengan total 6,8 penonton. Artinya, saat usianya sudah lebih dari 70 tahun, ia tetap dikenal di kalangan milenial.
Henky Solaiman. Foto: Instagram/@opahenky
Tak heran jika Festival Film Bandung memberi Henky penghargaan Lifetime Achievement pada 2006. Dedikasinya di industri film Indonesia sepertinya tidak pernah luntur termakan usia.
Hingga 2018, Henky Solaiman masih menjadi nominasi di ajang Silet Awards kategori Aktor Tersilet. Meski tidak menang, setidaknya hal itu membuktikan bahwa ia tak pernah kalah saing dari aktor-aktor muda.
ADVERTISEMENT
Kini, Henky telah tiada. Namun, semua jerih payahnya tentu akan terus dikenang dan menjadi sejarah yang berarti bagi industri film Indonesia.