Kumparan Logo

Kisah Masa Lalu Fanny Ghassani: Orang Tua Pisah dan Hidup Susah

kumparanHITSverified-green

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Fanny Ghassani. Foto: Instagram/fannyghassani
zoom-in-whitePerbesar
Fanny Ghassani. Foto: Instagram/fannyghassani

Fanny Ghassani dikenal sebagai pemain sinetron dan presenter Tanah Air. Siapa sangka, sebelum namanya ada di jajaran selebriti, perempuan berusia 29 tahun itu lebih dulu melalui masa-masa sulit dalam hidup.

Mengenai masa lalunya tersebut dikisahkan Fanny Ghassani saat berbincang dengan Jessica Iskandar, sebagaimana dapat disaksikan di kanal YouTube pemilik nama sapaan Jedar itu.

Fanny Ghassani. Foto: Instagram/fannyghassani

Dikisahkan Fanny Ghassani, ibu dan mendiang ayahnya berpisah pada 1998. Kala itu, ia masih berusia delapan tahun dan belum terlalu paham arti perceraian.

Orang tua Fanny Ghassani bercerai karena adanya orang ketiga dari pihak ayah. Pada masa tersebut, ia begitu kerap menyaksikan pertengkaran mereka.

"Gue menyaksikan semua pertengkaran keluarga. Namanya orang berpisah, kan, enggak ada, tuh, baik-baik, pasti awalnya kisruh. Mereka berantem di depan mata, gue nangis gegerungan. Itu pengalaman yang gue enggak lupa sampai sekarang. Gue masih ingat rentetannya, mereka berantem karena ini, masalahnya gue tahu persis seperti apa," ungkapnya.

Setelah orang tuanya berpisah, Fanny Ghassani tinggal berdua bersama sang ibu. Ayahnya memang bertanggung jawab memberi nafkah, namun mulai tak demikian adanya ketika ia SMA.

Fanny Ghassani. Foto: Instagram/fannyghassani

"Terus tiba-tiba di perjalanan menuju kuliah, dia mulai mandek, tuh, enggak kasih (biaya) bulanan. Terus, gue bingung, kan. Gue keinginan kuliah juga ada. Biaya hidup gue dan nyokap itu, ya, dari nyokap jual-jualin semua warisannya," ucap Fanny Ghassani.

Meski terasa tak menyenangkan, Fanny Ghassani percaya bahwa itu merupakan bagian dari rencana terbaik Tuhan. Sebab, karena ayahnya tak lagi rutin memberi uang bulanan, ia—yang tengah berusia 16 tahun—mulai terdorong untuk mengambil pekerjaan sebagai pemain sinetron.

"Pas bokap sudah enggak kasih, ada tawaran, tuh, buat main sinetron atau apa, langsung diambil-ambil saja. Waktu itu gue enggak ngerti ini, tuh, kerja untuk menghasilkan duit. Yang gue tahu, ya, cuma gue mau kerja, gue happy, ketemu teman-teman. Gue enggak ngerti uangnya ternyata buat biaya makan, kuliah. Dulu, ya, uang cuma numpang lewat saja, buat hidup," ucapnya.

Tak sampai di situ, awal meniti karier sebagai pesinetron pun Fanny Ghassani belum juga merasakan hidup berkecukupan. Terlebih, ia dan ibunya tinggal berpindah-pindah tak menentu alias nomaden.

video youtube embed

Perempuan kelahiran 19 Februari 1991 tersebut lalu mengenang honor pertamanya sebagai pemain sinetron. Besaran yang ia dapatkan itu rupanya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Rp 600 ribu. Gue inget banget. 'Nih, Rp 600 ribu, ya.' Gue sama nyokap, tuh lihat-lihatan terus kayak, 'Ya, sudah. Iya.' Terus, enggak tahu ternyata ongkosnya pulang pergi saja Rp 400 ribu. Waktu itu gue masih nomaden, ya, berpindah-pindah rumahnya," ujar Fanny Ghassani.

Seiring berjalannya waktu, nama Fanny Ghassani kian akrab di telinga para produser sinetron dan pihak-pihak yang berkiprah di dunia hiburan. Pekerjaan pun terus berdatangan.

Ia pun pada akhirnya mampu sampai di titik ini dan tak hidup susah seperti dulu. Menurut Fanny Ghassani, itu juga berkat ibunya yang selalu ada dan menjadi sosok kuat dalam hidupnya.