Kisah Pilu Pamungkas: Lahir dengan Usus Pendek hingga Alami Gangguan Pendengaran

26 September 2020 19:06
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Pamungkas. Foto: Instagram/@pamunqkas
zoom-in-whitePerbesar
Pamungkas. Foto: Instagram/@pamunqkas
ADVERTISEMENT
Pamungkas kini menjadi salah satu penyanyi populer di Indonesia. Musiknya digandrungi oleh sebagian besar anak muda, khususnya perempuan.
ADVERTISEMENT
Di balik kesuksesannya sebagai penyanyi, Pamungkas ternyata pernah mengalami masa lalu yang sulit. Hal tersebut diceritakannya kepada Onadio Leonardo lewat video yang diunggah ke YouTube.
"Gue bisa main drum dari kelas 4 SD. Tapi bukan kemauan gue, karena gue dulu half deaf, sebelah kiri," ungkap Pamungkas dalam video berjudul PAMUNGKAS : FROM NOTHING TO SOMETHING!.
Pamungkas. Foto: Instagram/@pamunqkas
zoom-in-whitePerbesar
Pamungkas. Foto: Instagram/@pamunqkas
Pelantun lagu One Only itu mengisahkan penyebab dirinya bisa tuli sebelah. Ia mengenang momen saat baru dilahirkan ke dunia.
"Waktu gue lahir, zaman dulu 1993, nyokap gue caesar. Menurut cerita nyokap gue, caesar harus lima tahun baru boleh melakukan caesar lagi. Tapi baru setahun sudah hamil gue. Kata dokter, mungkin, pilihannya ibu atau anaknya yang lewat," jelasnya.
ADVERTISEMENT
Pamungkas melanjutkan ceritanya. Ia bilang saat hamil, ibunya sering jalan-jalan sambil menulis buku. Hal tersebut dilakukan agar apabila nanti meninggal karena melahirkan, anak-anaknya bisa tahu seperti apa ibunya.
"Ternyata gue yang hancur. Usus gue tuh harusnya gini (panjang), tapi gue gini (pendek) selesai, gitu doang. Akhirnya dicangkok. Gue enggak bisa makan keju, telur kuning, karena alergi sama fat, sampai sekarang," terangnya.
"Karena diinfus, dioperasi, dicangkok, efek sampingnya THT. Kupingnya efeknya. Sampai gue umur 18," imbuhnya.

Pamungkas Tak Sadar Tuli Sebelah hingga Dewasa

Kendati demikian, musisi berusia 27 tahun tersebut ternyata tak sadar bahwa dirinya tuli sebelah. Saat itu, ia menganggapnya sebagai hal yang normal.
"Gue enggak sadar, menurut gue itu normal. Enggak ada yang ngasih tahu. Sampai gue naik pesawat Ambon-Jakarta 4,5 jam. Naik pesawat, 'kan, kuping lo dengung, itu enggak hilang tiga hari. Nyokap ngajak ke dokter, dibilang gue udah gede, perasaan enggak pernah ketemu. Akhirnya diceritain," tutupnya.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020