kumparan
9 April 2019 9:31

5 Fakta yang Perlu Orang Tua Tahu Soal Kebiasaan Isap Jempol Anak

Ilustrasi bayi mengisap jempol
Biarkan bayi mengisap jari atau jempolnya Foto: Shutterstock
Moms, apakah anak Anda punya kebiasaan mengisap jempol? Bila ya, sebaiknya Anda tidak cuek atau membiarkannya. Tapi juga tidak perlu menjadi terlalu khawatir atau parno ya, Moms. Yang paling baik, ketahuilah fakta seputra kebiasaan isap jempol anak agar Anda dapat bersikap lebih bijak. Yuk, simak!
ADVERTISEMENT
1.Wajar bila dilakukan bayi
Mengisap jempol atau memasukkan jari bahkan tangan ke mulut memang lazim dilakukan bayi. Jadi bila anak memiliki kebiasaan ini tapi usianya masih di bawah 18 bulan, Anda tak perlu khawatir.
Bahkan sebaiknya Anda juga tidak mencegah anak melakukannya. Sebab hal ini justru baik untuk tumbuh kembangnya dan bagian dari eksplorasi yang perlu didukung.
Anak mengisap jempol
Anak mengisap jempol Foto: Shutterstock
2.Bisa membuat gigi anak tonggos
Bila anak yang punya kebiasaan mengisap jempol sudah balita, orang tua sebaiknya tidak membiarkan kebiasaan ini. Pasalnya, kebiasaan isap jempol dapat membuat gigi anak jadi rusak maupun tonggos.
“Anak yang masih memiliki kebiasaan mengisap jempol atau jari setelah ia berumur 4 tahun dengan intensitas atau frekuensi tinggi cukup berisiko tinggi untuk mengalami masalah gigi atau masalah bicara saat ia dewasa,” ujar drg.Yulia Sri Bono Widyastuti SpKGA dari RSUD Pasar Minggu, Jakarta Selatan, saat dihubungi oleh kumparanMOM.
Ilustrasi dokter gigi memeriksa gigi anak
Ilustrasi dokter gigi memeriksa gigi anak Foto: Shutter Stock
Yulia menjelaskan bahwa akan ada tiga hal yang paling menentukan tingkat keparahan masalah gigi dan mulut anak di masa mendatang.
ADVERTISEMENT
Pertama, intensitas mengisap jempol. Jika anak selalu dan setiap saat selalu mengisap jempolnya, maka kemungkinan ia memiliki gigi tonggos tentu akan semakin tinggi dan parah.
Lalu kedua, frekuensi. Seberapa kuat anak mengisap jempol juga menentukan seberapa maju gigi anak.
Dan yang terakhir, durasi. Jika durasi anak mengisap jempol dilakukan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, maka sangat wajar jika gigi anak jadi tonggos.
Ilustrasi anak menutup wajah saat bermain
Anak tidak boleh jadi bintang utama dari iklan politik. Foto: Shutterstock
3.Bisa berpengaruh pada wajah anak
Menurut drg.Yulia, selain membuat gigi anak jadi tonggos, wajah anak yang sering mengisap jempol juga mungkin mengalami perubahan saat ia kelak dewasa.
"Lebih besar kemungkinan untuk memiliki wajah yang kurang proporsional saat remaja hingga dewasa,” Yulia menjelaskan. Hal ini kembali lagi juga dipengaruhi oleh intensitas mengisap jempol, frekuensi dan durasinya.
ADVERTISEMENT
4.Bila ingin menguranginya, pahami dulu sebabnya.
Anak mengisap jempol bisa saja karena berbagai alasan, Moms. Pada batita misalnya, kebiasaan mengisap jempol biasanya muncul beberapa saat setelah jam makan terakhir atau saat ia mulai merasa lapar.
Jadi bila ingin mengurangi kebiasaan mengisap jempol anak, Anda perlu lebih dulu memahami penyebab di balik kebiasaannya itu. Bila karena lapar, coba beri anak camilan seperti buah potong atau atur kembali jam jam makannya.
Sementara bila Anda menduga anak mengisap jempol ketika ia merasa tidak tenang, cemas, sedih atau butuh kehangatan, segera kurangi ketidaknyamanan si kecil dengan memberinya pelukan hangat atau belaian. Lepas isapan jempolnya perlahan, genggam tangan anak, dan katakan, "Ibu ada di sini menemani kamu. Semua akan baik-baik saja".
Ilustrasi anak mewarnai dengan cat
Ilustrasi anak mewarnai dengan cat Foto: Shutterstock
5.Aktivitas dan permaianan positif bisa mengatasi kebiasaan isap jempol.
ADVERTISEMENT
Kebiasaan isap jempol juga bisa diatasi dengan mengajak anak melakukan aktivitas atau permaianan positif yang membuat jari-jarinya aktif bergerak. Bisa dengan menyusun mainan yang berantakan, bertepuk tangan, atau apapun yang bisa mengalihkannya dari mengisap jempol atau jari.
Selain bagus untuk motoriknya, anak juga akan lebih percaya diri dan terhindar dari kecemasan yang membuatnya mengisap jempol atau jari.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan