6 Langkah Ini Bisa Selamatkan Anda & Anak bila Kapal Tenggelam

Kapal Motor (KM) Lestari Maju yang tenggelam di Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, Selasa (3/7), merupakan kapal kelima yang karam dalam rentang waktu Juni hingga awal Juli 2018. Sebelumnya, ada KM Sinar Bangun tenggelam di Danau Toba pada Senin (18/6) dan KM Ramos Risma Marisi yang tenggelam saat berlayar dari Pulau Sibandang di Kabupaten Tapanuli Utara menuju Pelabuhan Nainggolan di Kabupaten Samosir.
Selain kedua kapal tersebut, terjadi kecelakaan antara dua speedboat terjadi di perairan Sei Nyamuk, perbatasan RI-Tawau, Malaysia, Jumat (29/6) yang menewaskan lima orang dan kecelakaan antara speedboat yang membawa TKI dari Tawau Malaysia ke Sebatik Indonesia dengan speedboat dari Sebatik Indonesia.
Semua berita kapal tenggelam ini tentu membuat yang membacanya merasa prihatin. Apalagi dalam kecelakaan-kecelakaan ini, anak-anak bahkan bayi ikut menjadi korban. Banyak juga yang lantas merasa takut untuk melakukan perjalanan laut terutama bila bersama anak. Apakah Anda termasuk salah satunya, Moms?
Padahal sebenarnya, perjalanan laut dengan kapal dapat menjadi perjalanan yang sangat menyenangkan dibandingkan perjalanan darat atau udara. Apalagi untuk si kecil yang mungkin jarang mengalaminya. Apalagi negara kita adalah negara maritim. Untuk banyak destinasi, perjalanan lewat laut merupakan pilihan terbaik atau bahkan pilihan satu-satunya.
Lantas apa solusinya? Mengetahui apa yang harus dilakukan saat terjadi bencana merupakan salah satu tindakan pencegahan yang dapat Anda lakukan sekarang juga, Moms. Baik untuk Anda yang memang sudah memiliki rencana perjalanan dengan kapal laut maupun tidak.
Tidak perlu membayangkan yang sulit-sulit sehingga Anda jadi kecil hati duluan. Kali ini, kumparanMOM merangkum apa-apa yang harus Anda dan anak lakukan bila kapal tenggelam menjadi 6 langkah yang mudah dipahami. Yuk, simak dengan seksama!

1. Tetap tenang
"Bila terjadi musibah pelayaran, penumpang harus tetap tenang, tidak panik serta berpikir jenih!"
Demikian tips keselamatan untuk penumpang kapal laut dari Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, R. Agus H. Purnomo, sebagaimana dilansir laman resmi hubla.dephub.go.id.
BIla Anda panik, akan sulit bagi Anda untuk tetap fokus dan dapat mengikuti instruksi keselamatan yang sangat menentukan nyawa Anda maupun si kecil. Kepanikan Anda pun tentunya akan tertangkap oleh anak dan dapat membuatnya ketakutan.
Gandeng atau dekaplah anak agar ia merasa aman dan dilindungi, pesankan untuk tidak meninggalkan sisi Anda.
2. Tunggu aba-aba evakuasi
Anda mungkin akan mendengar sinyal evakuasi berupa beberapa kali suara ledakan yang menunjukkan kapten dan Anak Buah Kapal (ABK) menyuruh penumpang untuk mulai evakuasi. Tujuan utama dari setiap evakuasi darurat adalah pemindahan penumpang dan awak ke tempat yang aman.
Bila mendengarnya, segera ikuti dan tinggalkan barang-barang bawaan Anda, Moms.
Pesan Dirjen Agus, "Ikuti instruksi dari Nakhoda kapal serta ABK-nya dalam prosedur keselamatan. Tinggalkan semua barang bawaan dan fokus pada keselamatan jiwa."

3. Pakai pelampung
Bila sudah memperoleh pelampung, segera pakai. Pastikan Anda memasang dengan benar hingga pelampung memeluk tubuh Anda dengan pas.
Menurut Amri Muharram, pelatih dan pimpinan dari Bima Nusantara, perusahaan konsultan dan pelatihan keselamatan yang juga menyediakan pelatihan Basic Sea Survival, penggunaan pelampung yang tepat akan dapat menjaga posisi tubuh Anda dengan benar saat masuk ke dalam air.
"Pelampung akan menjaga kepala, dagu dan telinga tetap berada di atas permukaan air meskipun dalam kondisi pemakai tidak sadarkan diri," ujar Amri.
Bila Anda sudah memakai pelampung Anda, barulah Anda dapat membantu anak memakai pelampungnya.
4. Berjalan dengan hati-hati
Bila diminta bergerak atau keluar untuk berkumpul di satu area, berjelanlah dengan cepat namun tidak perlu berlari atau tergesa-gesa. Ini justru dapat membahayakan Anda maupun si kecil, Moms. Tetaplah berhati-hati.
Jika Anda melihat barang-barang mulai berjatuhan atau bergeser karena posisi kapal yang miring, cobalah menghindar atau gunakan objek yang lebih besar dan tidak bisa bergeser sebagai perlindungan dengan memposisikan diri Anda dan anak di belakangnya.

5. Jangan lompat ke air
Gunakan sekoci atau perahu karet darurat (life raft) untuk meninggalkan kapal sesuai instruksi ABK dan jangan melompat ke air bila Anda bersama anak! "Kapal kan tinggi, bisa sekitar 10 meter. Itu terlalu tinggi kalau lompat sama anak, bisa cedera anaknya kalau masuk air dari ketinggian segitu!" pesan Amri.
Amri menambahkan, bila tidak dapat sekoci jangan pula bertahan di kapal. Usahakan masuk ke air dari level terendah lalu segeralah menjauh dari kapal.
Anda juga mungkin akan menemukan banyak life raft yang mengembang secara otomatis jika badan kapal sudah 2/3 tenggelam. "Usahakan naik ke life raft yang paling mudah dijangkau. Setelah Anda naik, baru dan angkat anak dari air."
6. Jangan gendong atau peluk anak di dalam air
Bila masih ada di dalam air, tariklah pelampung anak dan jangan menggendong atau mendekapnya. "Kalau digendong atau dipeluk di dalam air dengan kondisi memakai pelampung, malah bisa tenggelam. Tarik atau pegang saja pelampungnya. Usahakan dagu, kepala dan telinga anak ada di atas permukaan air," ujar ayah dua anak yang tinggal di Balikpapan ini.
Selain ditarik, Anda juga bisa mengusahakan agar pelampung anak selalu tersangkut atau terikat dengan pelampung yang Anda kenakan. Tapi tetap, jangan dipeluk atau digendong.
