ASI Bisa Lindungi Bayi dari Alergi, Benar Enggak Ya?

Alergi adalah respons sistem kekebalan tubuh terhadap zat asing yang biasanya tidak berbahaya. Zat asing ini disebut alergen dan salah satu pemicu alergi adalah beberapa jenis makan tertentu. Bagi bayi yang mengonsumsi ASI, alergi bisa saja menyerang si kecil akibat makanan yang dikonsumsi oleh ibu.
Ya Moms, bahan makanan pemicu alergi bayi biasanya adalah protein pada susu sapi. Bila hal itu juga terjadi pada bayi Anda, maka ibu biasanya dianjurkan untuk menghentikan dulu konsumsi produk yang mengandung susu sapi selama 7-10 hari dan melihat responsnya pada bayi.
Namun ternyata, sebuah penelitian mengatakan, ASI bisa melindungi bayi dari alergi lho. Benarkah demikian? Yuk, simak penjelasan lengkapnya di sini.
Penjelasan soal ASI Bisa Melindungi Bayi dari Alergi
Dalam jurnal PubMed, penelitian yang dilakukan Saarinen dan Kajosaari dengan memantau kondisi 150 bayi dari lahir hingga berusia 17 tahun. Ternyata mereka menemukan bahwa ASI dapat mencegah timbulnya alergi, baik alergi makanan, eksim, maupun alergi pernapasan, selama masa kanak-kanak dan remaja.
Hal itu karena, ASI mengandung antibodi sIgA dalam jumlah tinggi. Antibodi jenis ini berperan melapisi permukaan usus bayi yang masih sangat mudah ditembus protein asing. Sehingga, ASI membuat usus menjadi lebih rapat hingga akhirnya tidak mudah ditembus protein asing, Moms.
Mengutip laman resmi Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia atau AIMI, protein susu sapi memang menjadi penyebab alergi paling sering pada bayi karena mengandung lactoglobulin, kasein, albumin serum sapi, dan laktalbumin. Nah, ASI selain mengandung imunoglobulin, juga mengandung oligosakarida, sitokin, glikoprotein, LCPUFA, lisozim, nukleotida, dan komplemen.
Bahan-bahan yang disebutkan di atas dapat mengendalikan reaksi tubuh terhadap bahan asing, sehingga tidak akan muncul reaksi alergi yang berlebihan. Pada alergi, antibodi yang berperan adalah IgE.
Antibodi tersebut teraktivasi oleh adanya protein asing, dan hanya diperlukan satu kali kontak untuk membuat IgE teraktivasi. Sehingga, pada kontak selanjutnya, sel imunitas tubuh bayi sudah memiliki memori secara spesifik terhadap protein tersebut dan akan memicu timbulnya reaksi yang sama secara terus menerus.
Maka, dengan memberikan ASI eksklusif, Anda dapat membantu pematangan ‘pelapis usus’ dan menghalangi masuknya molekul pemicu alergi. Sehingga IgE tidak teraktivasi sampai bayi sudah berusia lebih dari 6 bulan dan sel imunitasnya sudah berfungsi dengan lebih sempurna.
Masih mengutip laman AIMI, penelitian oleh Furukawa dkk (1994) menemukan bahwa bayi yang diberikan susu formula memiliki kadar IgE yang lebih tinggi daripada bayi ASI, sehingga lebih mudah terkena alergi.
