Benarkah Anak dengan ADHD Selalu Alami Gangguan Tidur?
·waktu baca 3 menit

Salah satu masalah kesehatan mental yang dapat dialami oleh anak-anak yaitu attention deficit hyperactivity disorder atau ADHD. Mengutip Kids Health, anak dengan ADHD memiliki perkembangan dan aktivitas otak yang mempengaruhi perhatian, kemampuan duduk diam, dan pengendalian diri.
Penyebab pastinya belum diketahui. Namun, anak dengan ADHD biasanya memiliki keluarga dengan riwayat penyakit tersebut.
Beberapa tanda ADHD pada anak yaitu mudah teralihkan, sulit berkonsentrasi, sering melamun, hiperaktif, dan implusif atau sulit mengontrol gerakannya. Akibat sulit mengontrol gerakannya, anak dengan ADHD kerap dikaitkan dengan gangguan tidur. Benarkah demikian? Simak penjelasan berikut ini, Moms.
Anak ADHD Selalu Alami Gangguan Tidur, Benar Enggak Ya?
Mengutip Parents, studi laboratorium tidur menunjukkan hubungan antara ADHD dan masalah tidur. Anak dengan ADHD cenderung memiliki tingkat gangguan tidur yang lebih tinggi yang disebabkan oleh kondisi medis tersebut.
Salah satunya restless legs syndrome (RLS) atau sindrom kaki gelisah. Kondisi tersebut ditandai dengan dorongan untuk bergerak, sensasi kesemutan atau nyeri saat kaki diam, dan gangguan gerakan tungkai periodik atau periodic limb movement disorder (PLMD).
Selain itu, sebuah studi dari University of Illinois di Urbana-Champaign yang melibatkan 69 anak dengan ADHD menemukan bahwa 26 persen di antaranya mengalami PLMD. Kondisi ini membuat otot-otot kaki berkontraksi berulang kali pada malam hari, sehingga membuat anak terbangun.
Studi lain juga menunjukkan bahwa anak dengan ADHD cenderung berisiko mengalami gangguan tidur. Seperti studi yang dilakukan oleh Pusat Gangguan Tidur Universitas Michigan. Sebanyak 33 persen dari anak dengan ADHD antara usia 2 – 18 tahun mengalami apnea tidur obstruktif.
Kondisi tersebut disebabkan oleh amandel atau kelenjar gondok yang besar yang menyumbat tenggorokan dan mengurangi aliran oksigen. Hal itu dapat menyebabkan gangguan kecil dalam tidur.
Menurut asisten profesor pulmonologi pediatrik di University of Kentucky di Lexington, Michael Anstead, MD., anak-anak dengan apnea tidur obstruktif memiliki kualitas tidur yang buruk dan sulit berkonsentrasi selama di sekolah. Kondisi ini mungkin akan lebih parah jika dialami oleh anak dengan ADHD.
“Setiap anak yang sulit berkonsentrasi di sekolah atau anak yang mengalami ADHD harus dievaluasi oleh dokter anak mereka. Dokter anak harus melakukan tes riwayat tidur menyeluruh jika ada masalah seperti mendengkur, berkeringat di malam hari, atau tidur gelisah. Evaluasi lebih lanjut, termasuk studi tidur semalaman, dapat diindikasikan untuk menentukan apakah ada apnea tidur,” jelasnya.
Senada dengan itu, profesor pediatri di Brown University of Medicine Judith Owens, MD., juga menyebut bahwa anak dengan ADHD perlu mendapatkan skrining untuk mendeteksi adanya gangguan tidur atau tidak.
“Tentu saja setiap anak yang dievaluasi untuk masalah akademik, masalah belajar, masalah perilaku, atau ADHD, harus diskrining bagaimana masalah tidurnya,” ungkapnya.
Jadi Moms, kesimpulannya banyak anak dengan ADHD yang mengalami gangguan tidur. Namun, hal itu tidak terjadi pada semua kasus. Oleh karena itu, orang tua perlu konsultasi dokter karena penanganan pada setiap kasus ADHD tidak sama.
