kumparan
1 Agustus 2019 16:31

Benarkah Minum Pil KB Bisa Sebabkan Kanker Payudara?

Pil KB
Pil KB Foto: Gabi Sanda
Setelah melahirkan, beberapa pasangan mungkin memilih untuk memberikan jeda pada kelahiran berikutnya, salah satunya dengan mengkonsumsi pil KB. Ya, alat kontrasepsi ini dipilih karena dianggap cukup efektif dan reversibel.
ADVERTISEMENT
Meski begitu, tak sedikit pula yang percaya bahwa mengkonsumsi pil KB bisa memicu risiko kanker payudara. Hmm, apakah Anda salah satu yang percaya, Moms?
Ilustrasi payudara
ASI perah dari payudara kiri dan kanan bisa berbeda jumlahnya Foto: Shutterstock
Menurut dokter umum dr. Handrawan Nadesul dan dr. Kartono Mohamad dalam bukunya yang berjudul Mitos Seputar Masalah Seksualitas & Kesehatan Reproduksi menuliskan bahwa banyak studi justru menunjukkan sebenarnya tidak ada hubungan antara pil KB yang berisi hormon estrogen dan progesterone dengan meningkatnya risiko kanker payudara.
Selain sebagai alat kontrasepsi, pil KB memiliki beberapa manfaat, seperti: menurunkan risiko kanker endometrium dan kanker ovarium, mengurangi serangan menstruasi, penyakit radang panggul dan kista, hingga meningkatkan densitas mineral tulang, Moms.
Namun, jika Anda masih menyusui, Anda sebaiknya lebih cermat memilih pil KB. Ibu menyusui tidak disarankan mengkonsumsi pil KB kombinasi. Menurut dr. Tirsa Verani SpOG, mengkonsumsi pil KB kombinasi justru bisa mengurangi produksi ASI.
Ilustrasi payudara
Ilustrasi payudara Foto: Shutterstock
"Pil KB kombinasi karena mengandung hormon estrogen dan progestin. Kombinasi dua hormon itu sebenarnya baik, yakni dapat menunda pelepasan sel telur membuat cairan vagina menjadi lebih kental. Tujuannya demi mencegah pertemuan sel telur dengan sperma. Jika ibu menyusui minum pil KB kombinasi, produksi ASI bisa berkurang karena pil itu mengandung hormon estrogen," jelas dr. Tirsa kepada kumparanMOM beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
Nah Moms, alih-alih menggunakan pil KB kombinasi, ibu menyusui sebaiknya menggunakan pil KB progestin yang hanya mengandung hormon progesteron.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan