kumparan
7 Feb 2019 9:22 WIB

Bolehkah Anak Sarapan Telur Setiap Hari?

Telur untuk sarapan anak Foto: Shutterstock
Menyediakan menu sarapan yang praktis namun tetap bergizi tentu bisa meringankan pekerjaan Anda di pagi hari.Tak heran jika pilihan Anda mungkin saja jatuh pada telur sebagai menu sarapan sehari-hari anak. Selain kaya protein, merebus atau menggoreng telur butuh waktu yang singkat.
ADVERTISEMENT
Jika Anda pintar mengolahnya, mungkin anak tak keberatan atau bahkan doyan untuk makan telur setiap hari. Tapi amankah bagi kesehatannya? Sebelum menjawabnya, kita perlu memahami kandungan telur terlebih dulu. Telur ayam memang mengandung zat yang dibutuhkan anak sehari-hari. Diantaranya protein, kalori, vitamin A, dan vitamin B kompleks. Namun, tak semua kandungan dalam telur menyehatkan. Mengutip Parents, setiap butir telur mengandung sekitar 186 miligram kolesterol dan 5 gram lemak (1,5 gram lemak jenuh). Dua zat itu sebaiknya dikonsumsi terbatas untuk menjaga kesehatan jantung.
Telur. Foto: Thinkstock
Menurut American Heart Association, batas harian kolesterol adalah 300 mg. Namun, jika seseorang punya riwayat penyakit jantung, batas harian kolesterolnya kurang dari 200 mg. Artinya satu butir telur sudah memenuhi lebih dari setengah batas kolesterol harian si kecil. Anda perlu mengingat bahwa makanan lain yang anak konsumsi juga mengandung kolesterol. Misalnya makanan yang diolah dengan telur, makanan yang digoreng, dan daging. Boleh saja anak Anda sarapan satu butir telur sebelum ia berangkat sekolah. Namun jangan lupa kombinasikan dengan sumber protein lain. Anda juga perlu menyeimbangkan asupan gizinya dengan sayuran dan buah-buahan yang kaya vitamin.
Memasak telur Foto: Shutter Stock
Bagaimanapun, anak mengkonsumsi telur setiap hari bukanlah ide yang bagus. Anda tentu sepakat bahwa semua yang berlebihan juga tidak baik hasilnya. Dilansir Very Well Family, jika anak Anda rutin mengkonsumsi makanan lain yang mengandung kolesterol seperti susu sapi murni, keju, yoghurt, es krim, sebaiknya ia tidak makan telur terlalu sering. Jika dibiarkan, asupan kolesterol dan lemak jenuhnya bisa terlalu tinggi.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan