kumparan
Mom14 Maret 2019 19:15

Ciri Keuangan Keluarga yang Sehat

Konten Redaksi kumparan
LIPSUS, Manajemen Keuangan Keluarga
Ilustrasi manajemen keuangan keluarga. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Moms, bagaimana sih, kondisi keuangan Anda saat ini dibandingkan ketika masih lajang? Bagi banyak orang, kondisi keuangan setelah berkeluarga memang bisa terasa sangat berbeda. Untuk itu, kita mau tak mau mesti bisa mengaturnya dengan bijak.
ADVERTISEMENT
"Pengalaman hidup yang mengajari aku. Dulu waktu aku masih single, aku merasa berkecukupan. Lalu waktu Papa meninggal, ternyata Papa meninggalkan tunggakan kartu kredit. Sehingga sewaktu sudah berkeluarga, aku jadi sadar kalau pengeluaran mesti dijaga. Sekarang mesti me-list dulu sebelum membeli barang," cerita Vendryana, founder komunitas Dear Moms, di acara Financial Journey, di Jakarta, (9/3).
Pengalaman yang dialami Vendryana memang bisa dialami siapa saja, mungkin termasuk Anda. Prita Ghozie, seorang perencana keuangan dalam acara ini merespon, mengkomunikasikan tentang keuangan dengan pasangan adalah penting. Terlebih juga berpengaruh dengan usianya anak, karena semakin besar anak sudah bisa meminta ini-itu dan hal tersebut akan berpengaruh terhadap keuangan keluarga.
LIPSUS, Manajemen Keuangan Keluarga
Ilustrasi manajemen keuangan keluarga. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
"Nomor satu, pentingnya menentukan siapa yang jadi manajer keuangan di rumah, yaitu yang memang lebih jago mengelola keuangan. Bisa suami atau istri. Bagi yang jadi manajer, maka dia mesti melaporkan minimal 6 bulan sekali. Terlebih karena setiap keluarga punya tujuan keuangan yang beda-beda, jadi pengeluaran bisa ditracking," kata Prita memberi tips soal perencanaan keuangan keluarga.
ADVERTISEMENT
Langkah selanjutnya, lanjut Prita, adalah financial check up. Anda mesti mengecek dari kondisi berikut, mana yang sedang dijalani keluarga Anda. Ini menunjukkan sehat tidaknya kondisi keuangan keluarga Anda, Moms.
"Situasi pertama, kita punya hutang enggak? Saya bayar cicilan lewat sepertiga gaji saya nggak, kalau ya berarti tidak sehat. Kedua, tiap bulan, saya punya sisa nggak dari penghasilan? Kalau impas, itu juga belum sehat. Karena kalau jumlah pemasukan dan pengeluaran itu sama, kita nggak punya tabungan buat masa depan," terang Prita.
Acara Financial Journey bersama komunitas Dear Moms
Acara Financial Journey bersama komunitas Dear Moms Foto: Fina Prichilia
Sementara model yang selanjutnya adalah ketika pemasukan lebih besar daripada pengeluaran, punya cicilan tapi tak lebih dari 30% pemasukan atau tidak punya utang, serta punya dana darurat dan investasi. Inilah yang bisa dikatakan ciri keuangan keluarga yang sehat.
ADVERTISEMENT
Selanjutnya, Prita juga membagikan persentase dari pemasukan untuk dibagi ke pos-pos pengeluaran yang sehat. Di antaranya:
  • 5% untuk dana sosial, misalnya untuk sedekah atau bantuan dana buat orang tua kita, yang sifatnya sukarela (bukan kewajiban),
  • 10% untuk dana darurat dan asuransi. Dana darurat ini sifatnya mesti liquid alias gampang cairnya saat dibutuhkan mendadak,
  • 60% untuk biaya hidup dan cicilan (punya cicilan maksimal 30%). Jika punya cicilan, berarti Anda mesti bisa membiayai hidup dari 30% dana sisanya. Selain itu, bila Anda punya tanggungan untuk membiayai orang tua sebagai kewajiban, berarti masuk ke pos ini,
  • 15% untuk investasi,
  • dan 10% adalah gaya hidup.
"Dana untuk investasi sebesar 15% itu terdiri dari 10% buat dana pendidikan dan 5% buat pensiun. Kalau anak sudah makin gede, mesti dibalik persentasenya," tambah Prita.
Acara Financial Journey bersama komunitas Dear Moms
Acara Financial Journey bersama komunitas Dear Moms Foto: Fina Prichilia
Bagi Prita, punya perencanaan keuangan seharusnya bisa membuat tenang. Misalnya bicara soal persiapan pendidikan anak, Prita menyarankan agar orang tua memprioritaskan dana untuk kuliah.
ADVERTISEMENT
"Ini tidak terlalu dini kok, karena kalau SD sampai SMA, anak masih ada opsi masih bisa sekolah di sekolah negeri. Sementara kalau kuliah kan, belum otomatis bisa masuk negeri. Menurut saya, sekarang mungkin banyak ada sekolah untuk bayi, untuk batita, dan sebagainya. Jangan sampai, dana untuk pendidikan anak sudah habis saat ia baru duduk di SMA, dan tak tahu apa menguliahkan anak atau tidaknya, karena orang tua sudah jor-jor-an masukin anak waktu bayi dan TK ke sekolah-sekolah yang mahal," tutup Prita.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan