Kumparan Logo

Hari Waisak, Ini 5 Ajaran Sang Buddha yang Klop dengan Situasi Pandemi Corona

kumparanMOMverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
10 Ajaran Sang Buddha  Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
10 Ajaran Sang Buddha Foto: Shutter Stock

Hari ini, Kamis (7/5) adalah peringatan Hari Waisak yang sakral bagi jutaan umat Buddha di seluruh dunia. Di hari inilah tiga peristiwa suci dalam kehidupan Guru Agung Buddha Gautama (Trisuci Waisak) diperingati.

Tiga peristiwa ini terjadi tepat pada saat bulan purnama sidhi (purnama penuh sempurna) di bulan Waisak, pada tahun yang berbeda-beda sebelum masehi (SM).

Peristiwa suci pertama, adalah lahirnya bayi Siddharta calon Buddha pada tahun 623 SM di Kapilavasthu, Nepal. Bayi Siddharta dilahirkan memiliki 32 tanda dari seorang Mahapurisa yang artinya "orang besar” dan kemudian hari menjadi Buddha dan dikenal dengan Buddha Gautama.

Diceritakan bahwa langit menjadi sangat cerah dan jernih, bunga-bunga bermekaran dan burung-burung bernyanyi, para naga muncul di angkasa menyemprotkan dua aliran air yang murni (yakni air panas dan air dingin), yang dengan lembut memandikan bayi kecil tersebut.

Peristiwa suci kedua, adalah peristiwa pertapa Siddharta Gautama mencapai Pencerahan atau Penerangan Sempurna menjadi Buddha, yaitu pada tahun 588 SM di Bodhgaya, India. Pencapaian (tingkat kebudhaan) ini, adalah hasil dari perjuangan Beliau melalui pelatihan diri yang luar biasa dengan meditasi yang khusyuk sehingga berhasil menembus 4 Kesunyataan atau Kebenaran Mulia dengan jelas dan terang.

Peristiwa suci ketiga adalah wafatnya Buddha Gautama pada tahun 543 SM di usia 80 tahun di Kusinara, India. Beliau wafat (parinibbana), dengan meninggalkan pesan agar para siswa-Nya memandang ajaran Beliau sebagai guru mereka.

kumparan post embed

Itulah kenapa, esensi dari Trisuci Waisak bagi umat Buddha adalah memperingati hari penting tentang ajaran yang agung dari Buddha.

Nah Moms, berikut kami merangkum 5 dari begitu banyak ajaran Sang Buddha yang terasa 'klop' dengan situasi pandemi virus corona yang tengah kita hadapi.

Siapa tahu bisa menjadi inspirasi bagi keluarga Anda, lepas dari merayakannya atau tidak. Apa saja?

ibu dan anak di tengah pandemi Foto: Shutterstock

"Janganlah menyesali masa yang telah berlalu, jangan mencemaskan masa yang akan datang."

"Janganlah menyesali masa yang telah berlalu, jangan mencemaskan masa yang akan datang. Masa yang telah berlalu tak bisa kembali lagi, masa yang akan datang belumlah tiba. Gunakan kebijaksanaanmu dan pusatkan perhatian pada masa sekarang. Selesaikan saja pekerjaanmu saat ini." - ringkasan Bhaddekaratta Sutta.

Sabda ini seolah mengingatkan kita untuk bersikap lebih tenang sekaligus terus fokus mengusahakan apa yang saat ini bisa kita lakukan untuk di tengah situasi pandemi yang serba tak pasti ya, Moms. Rencana liburan yang batal? Seperti apa anak nanti memulai tahun ajarab baru? Tidak usah dicemaskan!

Ilustrasi ibu dan anak bermain piano Foto: Shutterstock

"Jadikanlah harimu produktif, apakah sedikit ataukah banyak."

"Jadikanlah harimu produktif, apakah sedikit ataukah banyak. Karena setiap siang dan malam yang berlalu, kehidupanmu berkurang sebanyak itu." - Theragatha, 451

Di tengah pandemi, kita perlu manfaatkan waktu sebaik-baiknya. Mendampingi si kecil belajar, menyelesaikan pekerjaan meski via online, melakukan hobi, belajar hal-hal baru hingga mengatur donasi mungkin? Intinya tetap produktif meski #diRumahAja.

ibu dan anak di rumah Foto: Shutterstock

"Kesabaran adalah praktik bertapa yang paling tinggi"

"Kesabaran (nibbana) adalah praktik bertapa yang paling tinggi. Dia yang masih menyakiti orang lain, sesungguhnya bukanlah seorang pertapa (samana)" - Dhammapada, 184

Teruslah bersabar sampai pandemi berlalu, Moms. Yang kini paling utama, bersabar untuk tetap #diRumahAja dan menjaga jarak. Jangan sampai kita malah menyakiti orang lain karena tidak bisa menahan diri.

Anak cuci tangan pakai sabun. Foto: Shutterstock

"Sesuai dengan benih yang telah ditaburkan begitulah buah yang akan dipetiknya"

"Sesuai dengan benih yang telah ditaburkan begitulah buah yang akan dipetiknya, pembuat kebaikan akan mendapat kebaikan, pembuat kejahatan akan memetik kejahatan pula. Tertaburlah olehmu biji-biji benih dan engkau pulalah yang akan merasakan buah-buah dari padanya" - Samyutta Nikaya I, 227

Segala sesuatu yang menimpa kita, merupakan hasil dari apa yang kita lakukan sebelumnya. Bila kita terus menjalani pola hidup bersih dan sehat selama misalnya, tentu kita juga yang akan menuai hasil baiknya.

Ilustrasi anak memberi donasi Foto: Shutterstock

“Mereka hendaknya tidak pernah jemu melakukan persembahan dan derma dengan penuh keyakinan."

“Mereka hendaknya tidak pernah jemu melakukan persembahan dan derma dengan penuh keyakinan, karena persembahan dan derma yang dilakukan dengan penuh keyakinan itu akan mengantarnya mencapai tujuan hidup tertinggi.” - Manawa Dharmasastra IV, 226

Ya Moms, merayakan Waisak atau pun tidak, teruslah berderma dengan ikhlas terutama untuk mereka yang terdampak pandemi virus corona. Yang tengah sakit, menjadi relawan, tenaga medis hingga mereka yang mengalami masalah ekonomi atau pemutusan hubungan kerja misalnya. Dengan saling membantu, percayalah, kita akan menjadi kuat bersama.

kumparan post embed

---

kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!