Manjakan Anak dengan Hadiah di Momen Natal, Yes or No?
ยทwaktu baca 3 menit

Dapat hadiah Natal, bagi banyak anak bukan lah satu mimpi atau harapan. Karena terbiasa mendapatkannya, anak bisa saja menganggap mendapat hadiah atau kado Natal merupakan hak mereka.
Tak hanya anak, tidak sedikit orang tua yang berpikir sama. Baju, mainan, games, hingga gadget terbaru yang anak inginkan akan dibeli meski harganya cukup mahal. Bila perlu, orang tua akan menggesek kartu kredit, menggunakan fasilitas pinjaman hingga mengencangkan ikat pinggang untuk pengeluaran lainnya.
Maklum, Natal adalah momen yang istimewa. Wajar bila di momen ini, orang tua ingin menyenangkan hati bahkan memanjakan anak-anaknya.
Tapi kata psikolog anak mengenai hal ini?
Alasan Orang Tua Memanjakan Anak dengan Hadiah di Momen Natal
Psychologies melansir sehari-hari kita dikelilingi oleh iklan, konten promosi dan penawaran yang menggembar-gemborkan gagasan bahwa kebahagiaan erat kaitannya dengan barang-barang yang kita beli atau miliki. Begitu juga dengan kebahagiaan anak.
Karenanya tidak heran kita lantas berpikir bahwa untuk menjadi orang tua yang baik kita perlu membelikan anak berbagai barang yang mereka inginkan. Apalagi di momen yang istimewa seperti Natal.
Menurut psikolog, Didier Bagnol, Ph. D., membelikan anak hadiah sering kali merupakan cara orang tua meredakan rasa bersalah atas ketidakhadiran mereka untuk anak. Misalnya karena sibuk bekerja sehari-hari.
Ada pula, orang tua yang kerap membelikan anak barang atau hadiah-hadiah sebagai pelampiasan dari apa yang tidak mereka dapatkan atau miliki saat kecil. Misalnya kalau saat kecil ibu ingin sekali punya rumah boneka besar lengkap dengan isinya tapi tidak pernah terwujud, sekarang ibu membelikannya untuk anak.
Bagnol menegaskan, semua ini adalah pola perilaku dan pengasuhan yang salah, Moms.
Dampak Memanjakan Anak dengan Hadiah di Momen Natal
Lebih lanjut Bagnol menjelaskan, memanjakan --termasuk di momen Natal, justru merugikan anak. Anak jadi tidak bisa membedakan apa yang mereka butuhkan dengan apa yang mereka inginkan.
Bila selalu mendapat hadiah, anak pada akhirnya bisa percaya bahwa hadiah adalah cara paling andal untuk merayakan Natal atau menunjukkan rasa sayang. Jika ini terjadi, bukan tidak mungkin anak kehilangan kemampuan untuk membedakan antara kasih sayang, hadiah dan makna Natal.
Anak mungkin juga akan kecewa atau tidak suka pada mereka yang tidak memberinya hadiah.
Perlu dipahami Moms, kemampuan anak untuk memahami nilai simbolis dari sebuah hadiah dan pentingnya tindakan memberi di momen yang istimewa memang belum sebaik orang dewasa.
Bagaimana bila memberi anak banyak hadiah Natal karena sekaligus jadi hadiah atas perilaku baik atau nilai bagus anak di sekolah?
Menurut Bagnol, orang tua bisa saja mempertimbangkan momen lain untuk memberi anak apresiasi sehingga momen Natal tidak melulu dipahami anak sebagai momen menerima banyak hadiah atau hadiah mewah.
Anne Gatecel, psikolog klinis asal Prancis memiliki pendapat serupa dengan Bagnol. Bahkan ia menyebut, anak juga perlu belajar mengungkapkan hal-hal yang mereka inginkan, tanpa keinginan ini segera terpenuhi.
Menurut Gatecel, dengan begitu anak akan belajar bermimpi, membayangkan diri mereka di masa depan, menandai momen ketika keinginan mereka terpuaskan dan tidak mengamuk ketika apa yang mereka inginkan tidak tercapai.
Ini penting dalam tumbuh kembang anak dan akan membawa manfaat bagi anak setiap hari --bukan hanya saat Natal saja.
