Mengenal Sindrom D-Mer, Ketegangan Psikologis yang Bisa Dialami Ibu Menyusui

15 November 2022 9:17
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi ibu menyusui mengalami ketegangan psikologis. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu menyusui mengalami ketegangan psikologis. Foto: Shutter Stock
ADVERTISEMENT
Menyusui memang menjadi cara untuk membangun ikatan yang intens antara ibu dan bayi. Namun, bukan berarti proses ini tanpa tantangan. Sebab, semua ibu memiliki perjalanan menyusui yang berbeda-beda.
ADVERTISEMENT
Ya Moms, tantangan secara fisik hingga psikologis bisa saja dirasakan selama menyusui. Salah satu kondisi yang bisa dialami ibu menyusui disebut sindrom D-Mer yang mempengaruhi suasana hati ibu.
Lantas, apa yang dimaksud dengan sindrom D-Mer?

Penjelasan soal Sindrom D-Mer pada Ibu Menyusui

Ilustrasi ibu menyusui mengalami ketegangan psikologis. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu menyusui mengalami ketegangan psikologis. Foto: Shutterstock
Mengutip Romper, sindrom D-Mer atau syndrome dysphoric milk ejection merupakan salah satu efek samping selama menyusui yang menyebabkan ketegangan psikologis dan emosional pada ibu menyusui. Ini terjadi ketika kadar dopamin di dalam tubuh ibu menurun yang membuatnya memiliki perasaan negatif.
“Sindrom D-Mer itu penurunan dopamin secara tiba-tiba dapat terjadi pada ibu menyusui ketika pelepasan ASI. Hal ini membawa gelombang perasaan negatif yang berlangsung kurang dari lima menit,” ungkap dokter kandungan, Dr. Monte Swarup, MD.
ADVERTISEMENT
Dopamin merupakan neurotransmitter yang bertanggung jawab dalam perasaan baik pada diri seseorang. Sehingga, kadarnya yang rendah dapat meningkatkan iritabilitas dan kecemasan. Meski berlangsung sebentar, perasaan negatif ini berkisar dalam tingkat keparahan dari sedih hingga membenci diri sendiri.
“D-Mer dapat mengganggu kemampuan ibu mempertahankan jadwal menyusui yang tepat,” lanjut Dr. Monte.
Perasaan sedih yang luar biasa dapat menurunkan dorongan ibu untuk tetap menyusui bayinya. Meski begitu, sindrom D-Mer ini hanya akan terjadi saat proses menyusui sedang berlangsung dan akan menghilang ketika bayi melepaskan perlekatannya. Oleh karenanya, kondisi tersebut sering kali tidak lagi menjadi masalah setelah ibu menyapih anaknya.
Penelitian menunjukkan, hanya sekitar 9,1 persen ibu menyusui yang mengalami sindrom D-Mer sehingga termasuk kondisi yang langka, Moms. Masih dibutuhkan lebih banyak penelitian untuk membuktikan apakah sindrom D-Mer terkait dengan depresi selama kehamilan, pasca-persalinan, hingga risiko berulang pada anak berikutnya.
ADVERTISEMENT
“Belum ada penelitian yang mendukung bahwa seorang ibu cenderung mengalami sindrom D-Mer berulang pada kehamilan berikutnya,” pungkas dokter kandungan, Dr. Kimberly Langdon, MD.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020