Kumparan Logo

Moms, Yuk Cegah Anak Stunting dengan Penuhi Konsumsi Protein Hewani Sejak Hamil

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi ibu hamil makan ikan. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu hamil makan ikan. Foto: Shutter Stock

Salah satu masalah kesehatan yang masih menjadi perhatian di Indonesia adalah stunting. Kondisi ini terjadi ketika bayi di 1.000 hari pertama kehidupannya mengalami kekurangan gizi yang berlangsung lama dan menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembangnya. Pada jangka panjang, stunting dapat menyebabkan kemampuan akademis yang rendah, dan risiko terkena penyakit kronis.

Menurut dokter spesialis gizi klinik dr. Raissa Edwina Djuanda, M.Gizi, Sp.GK, AIFO-K, angka stunting di Indonesia sebenarnya sudah mengalami penurunan. Pada tahun 2019, angka stunting yang tercatat yaitu 27,7 persen. Angka tersebut kemudian menurun pada tahun 2021 menjadi 24,4 persen. Meski begitu, kondisi tersebut masih membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah dan masyarakat.

“Kalau dilihat, 24,4 persen ini tentunya angka yang masih cukup tinggi nih, karena bisa dibilang artinya 1 dari 5 anak itu mengalami stunting. Nah, ini sebenarnya perlu menjadi perhatian kita semua, gimana cara mencegah stunting,” jelasnya pada acara diskusi media bertajuk ‘Mencegah Stunting’ yang diadakan oleh Rumah Sakit Pondok Indah di Roemah Kuliner, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (18/1).

Menurut dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Pondok Indah tersebut, stunting dapat dicegah sejak masa kehamilan. Salah satu caranya adalah dengan memenuhi nutrisi ibu hamil dengan gizi seimbang. Misalnya, dengan memperbanyak konsumsi protein hewani, seperti telur, susu, dan daging.

Kata Ahli soal Pentingnya Protein Hewani untuk Mencegah Stunting

Ilustrasi ibu hamil makan telur Foto: Shutterstock

Ada beberapa zat dalam protein hewani yang dibutuhkan ibu hamil untuk mencegah bayinya stunting saat lahir nanti, seperti asam amino, zat besi, asam folat, kalsium, iodium, dan zinc. Di antara banyaknya zat tersebut, salah satu yang penting adalah asam amino atau susunan protein.

Ya Moms, menurut dr. Raissa, protein hewani diketahui memiliki asam amino lebih tinggi daripada protein nabati. Itulah sebabnya ibu hamil disarankan untuk mengkonsumsi protein hewani selama masa kehamilan.

“Asam amino di dalam protein hewani dibanding protein nabati itu lebih lengkap yang hewani, nih. Jadi, itu lebih baik untuk mendukung ini semua ini, membentuk hormon pertumbuhan, regenerasi sel, kekebalan tubuh, menambah massa otot,” ungkapnya.

Agar manfaatnya lebih terasa, dr. Raissa menyarankan untuk mengkonsumsi protein hewani yang lebih bervariasi, jadi tidak berfokus pada satu jenis saja. Selain itu, saat bayi memasuki masa MPASI, protein hewani juga boleh diberikan untuk mencegah stunting.

Lantas, bagaimana jika ibu dan bayi alergi protein hewani?

“Sebenarnya protein nabati diperbolehkan juga ya karena protein nabati ini tetap mengandung asam amino, tetap mengandung protein, B12, meskipun dengan komposisi yang tidak selengkap protein hewani. Jadi tetap boleh diganti dengan protein nabati gitu,” ujar dr.Raissa.

Karena kandungannya yang sedikit berbeda dibanding protein hewani, ia menyarankan agar ibu dan bayi selalu mengonsumsi protein nabati setiap kali makan agar tetap mendapatkan manfaatnya.

kumparan post embed