Kumparan Logo

Peluk Cooler Bag Istri, Kisah Duka Aji di Balik Tragedi Tabrakan Kereta

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Keluarga tas pendingin milik Tutik Anitasari, korban kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Rumah Sakit Polri, Jakarta, Selasa (28/4/2026). Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Keluarga tas pendingin milik Tutik Anitasari, korban kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Rumah Sakit Polri, Jakarta, Selasa (28/4/2026). Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS

Suasana rumah itu masih dipenuhi rasa kehilangan. kumparanMOM mendatangi kediaman Aji, salah satu keluarga korban dalam tragedi kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL arah Cikarang di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat. Di sanalah, cerita pilu tentang kehilangan seorang istri sekaligus ibu dari dua anak terungkap perlahan.

Istri Aji, Tutik Anita Sari, menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam kecelakaan tersebut. Kepergiannya menyisakan luka mendalam, terlebih ia meninggalkan dua anak yang masih sangat membutuhkan kehadiran seorang ibu. Anak pertamanya berusia 10 tahun sedangkan si bungsu baru 16 bulan.

Trauma yang Masih Terasa

Rumah salah satu korban kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek-KRL, di Cikarang, Senin (4/5/2026). Foto: Eka Nurjanah/kumparan

Saat di lokasi pada Senin malam (4/5), ayah Aji menyampaikan kondisi keluarga yang masih berduka. “Anak saya masih trauma, kasihan,” ujarnya lirih.

Ucapan itu menggambarkan betapa peristiwa tersebut tidak hanya meninggalkan kehilangan, tetapi juga luka emosional yang mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.

Sosok Aji sempat menjadi perhatian publik. Potret dirinya yang memeluk cooler bag milik sang istri yang dibawa sebelum kejadian, viral di media sosial. Bagi banyak orang, foto itu menjadi simbol duka, cinta, dan kehilangan yang begitu nyata.

Setelah kejadian, Aji mengantar jenazah istrinya ke tempat peristirahatan terakhir di Wonogiri, Jawa Tengah, didampingi keluarga besar. Saat tim kumparanMOM berkunjung ke rumahnya di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, ia baru saja kembali malam sebelumnya dari perjalanan panjang tersebut.

Rumah salah satu korban kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek-KRL, di Cikarang, Senin (4/5/2026). Foto: Eka Nurjanah/kumparan

Kini Berjuang untuk Dua Anak

Di tengah duka, Aji kini melanjutkan hidup dengan merawat buah hatinya yang berjenis kelamin perempuan berusia 16 bulan, ditemani kedua orang tua kandungnya. Sementara itu, satu anak lainnya yang laki-laki untuk sementara dirawat oleh ibu mertuanya di Wonogiri, Jawa Tengah.

Dalam kesehariannya, Tutik dikenal sebagai sosok pekerja keras. Ia berangkat kerja dari Stasiun Metland Telaga Murni dan turun di Stasiun Tebet. Rutinitas itu kini tinggal kenangan.

Hati Netizen Tergerak Ingin Mendonorkan ASI

Buket bunga di meja pascakecelakaan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Aggrek di Stasiun Bekasi Timur, Senin (4/5/2026). Foto: Dok. Istimewa

Di tengah duka yang menyelimuti, muncul gelombang empati dari masyarakat. Banyak netizen yang menawarkan bantuan, termasuk mendonorkan ASI untuk anak bungsu Aji. Namun, setelah dikonfirmasi langsung, bantuan tersebut ternyata belum sampai kepadanya.

“Nggak ada sih bantuan ASI ke sini,” ucapnya kepada kumparanMOM.

Aji menjelaskan, anaknya memang sudah tidak sepenuhnya mengonsumsi ASI. Sejak usia 6 bulan, sang anak telah mendapatkan kombinasi ASI dan susu formula, hingga kini di usia 16 bulan.

“Dari usia 6 bulan anak saya sudah nggak (full) minum ASI, jadi dicampur susu formula,” sambungnya.

Seorang kerabat memegang tas pendingin milik Tutik Anitasari, korban tabrakan maut antara kereta komuter dan kereta jarak jauh, di Rumah Sakit Nasional Kramat Jati, Jakarta, Selasa (28/4/2026). Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS

Meski demikian, perhatian dan kepedulian masyarakat menjadi penguat di tengah masa sulit ini. Kisah Aji bukan hanya tentang kehilangan, tetapi juga tentang bagaimana solidaritas dan empati bisa hadir dari banyak arah, bahkan dari orang-orang yang tak saling mengenal.

Tragedi ini meninggalkan luka bagi banyak keluarga. Namun, di balik itu, terselip harapan bahwa kepedulian dan dukungan akan terus mengalir, membantu mereka yang ditinggalkan untuk perlahan bangkit dan melanjutkan hidup.

kumparan post embed