Pentingnya Skrining Hipotiroid pada Bayi Baru Lahir

29 Juli 2022 10:35
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Ilustrasi pemeriksaan kelenjar tiroid bayi. Foto: Roman Zaiets/shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pemeriksaan kelenjar tiroid bayi. Foto: Roman Zaiets/shutterstock
ADVERTISEMENT
Meski terlihat lahir dengan sehat dan sempurna, tetapi bayi baru lahir penting melakukan berbagai macam skrining atau pemeriksaan. Salah satunya adalah skrining hipotiroid.
ADVERTISEMENT
Mengutip laman resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), hipotiroid adalah kondisi di mana kelenjar tiroid tidak berfungsi dengan optimal. Jika kondisi itu terjadi sejak lahir, maka disebut hipotiroid kongenital.
Kelenjar tiroid merupakan salah satu bagian tubuh yang memiliki peran penting, yaitu menghasilkan hormon tiroid. Hormon itu berfungsi untuk mengatur metabolisme tubuh, pergerakan otak, jantung, dan otot.
Di samping itu, hipotiroid kongenital juga bisa disebabkan oleh kelainan pembentukan kelenjar, terdapat gangguan saat pembuatan hormon tiroid, dan gangguan kesehatan ibu saat hamil seperti kekurangan iodium.
ilustrasi bayi baru lahir. Foto: Anucha Cheechang/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi bayi baru lahir. Foto: Anucha Cheechang/Shutterstock
Sebagian besar bayi dengan hipotiroid akan tampak normal saat lahir. Sebab, selama di dalam kandungan mendapatkan hormon tiroid dari sang ibu melalui plasenta. Sehingga, bayi dengan hipotiroid sering luput dari pengamatan dokter dan dianggap lahir tanpa kelainan.
ADVERTISEMENT
Di Indonesia, terdapat lebih dari 1.600 bayi lahir dengan hipotiroid setiap tahunnya. Akibatnya, kondisi itu akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia di masa yang akan datang. Oleh karena itu, skrining hipotiroid pada bayi baru lahir penting untuk dilakukan.

Alasan Pentingnya Lakukan Skrining Hipotiroid pada Bayi Baru Lahir

ilustrasi bayi dengan hipotiroid. Foto: Julia Dorofeeva/shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi bayi dengan hipotiroid. Foto: Julia Dorofeeva/shutterstock
Umumnya, hipotiroid terbagi menjadi dua sifat, yaitu sementara dan permanen. Bila kondisi ini cepat diketahui dan diatasi, maka bayi dengan hipotiroid memiliki peluang untuk tumbuh dan berkembang seperti anak normal lainnya. Sebaliknya, jika terlambat diketahui, maka hipotiroid dapat bersifat permanen dan membutuhkan pengobatan seumur hidup dan perawatan khusus.
Sementara itu, hipotiroid kongenital juga dapat memicu terjadinya perubahan bentuk tubuh seperti perut buncit, pusar bodong menonjol, dan kulit kuning. Selain mengganggu perkembangan bayi, hipotiroid kongenital dapat menyebabkan gangguan mental saat anak tumbuh besar.
tali pusat atau pusar bayi Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
tali pusat atau pusar bayi Foto: Shutterstock
IDAI menyarankan, skrining hipotiroid paling tepat dilakukan saat bayi berumur 48-72 jam atau sebelum bayi pulang ke rumah. Pemeriksaannya pun cukup sederhana, Moms. Ya, sedikit darah bayi akan diteteskan di atas kertas saring khusus, kemudian dikeringkan dan sampel dikirim ke laboratorium. Hasilnya pun dapat diketahui dalam waktu kurang dari satu minggu.
ADVERTISEMENT
Bila hasilnya menunjukkan adanya gangguan pada kelenjar tiroid, maka bayi akan diperiksa oleh tim konsultan program skrining pada bayi baru lahir. Selanjutnya, bayi akan menjalani perawatan untuk mengganti hormon tiroid yang diberikan melalui tablet tiroksin. Anda pun tak perlu khawatir, Moms, obat ini dapat digerus dan dicampur di dalam ASI.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020