Penyebab Nyeri Sendi Setelah Melahirkan
ยทwaktu baca 2 menit

Ada banyak hal yang umum dialami ibu setelah melahirkan. Mulai dari kemunculan stretch mark, payudara terasa mengendur, hingga ketidaknyamanan pada tulang seperti nyeri sendi.
Meski tidak dialami semua ibu, nyeri sendi termasuk kondisi kondisi umum usai persalinan. Mengutip Orthopaedics and Sports Medicine, University of Washington, kondisi ini ditandai dengan kekakuan dan pembengkakan area sendi yang mengakibatkan penurunan kemampuan bergerak.
Ya Moms, ibu mungkin mengalami nyeri sendi selama beberapa minggu atau bulan setelah melahirkan. Lantas, apa yang jadi penyebab kondisi tersebut?
Beberapa Penyebab Nyeri Sendi Setelah Melahirkan
Kondisi tubuh
Tubuh ibu membawa beban yang berat selama kehamilan, baik itu bayi di dalam kandungan atau karena berat badannya terus mengalami kenaikan. Bila kondisi tulang ibu lemah, mereka bisa merasa tidak nyaman pada sendi-sendinya karena menopang beban yang berlebih.
Kemudian kondisi tubuh usai persalinan juga bisa memengaruhi kekuatan tulang ibu. Proses persalinan yang berat membuat ibu mudah lelah, belum lagi jika ibu harus begadang setiap malam untuk menjaga bayinya.
Kurang bergerak
Sendi pada tulang akan lebih kaku jika kita kurang bergerak, Moms. Oleh sebab itu, ibu hamil biasanya disarankan untuk melakukan olahraga ringan seperti jalan kaki untuk membuat tubuhnya tetap bugar. Kurangnya aktivitas fisik selama kehamilan dan setelah melahirkan dapat menyebabkan nyeri sendi yang membuat Anda tidak nyaman.
Sistem kekebalan tubuh
Mengutip Health Direct, sistem kekebalan tubuh biasanya meningkat setelah kehamilan. Nah, sistem kekebalan yang terlalu aktif ini dapat menyebabkan alergi yang sudah ada sebelumnya kambuh, hingga penyakit autoimun seperti lupus, rheumatoid arthritis (RA), dan psoriatic arthritis atau nyeri sendi.
Faktor lainnya
Dokter Spesialis Kandungan, dr. Sangeeta Agrawal, MD, menjelaskan di laman Mom Junction, nyeri sendi usai persalinan sering terjadi karena adanya perubahan fisik setelah ibu mengalami kehamilan dan melahirkan. Namun, ada beberapa faktor lain yang bisa meningkatkan risikonya, seperti usia saat hamil, kebiasaan merokok, mengalami infeksi, diet saat hamil dan setelah melahirkan, hingga faktor genetik.
