Kumparan Logo

Rekomendasi Ahli Cegah Stunting: Minimal Anak Makan 2 Jenis Protein Tiap Hari

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak stunting. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak stunting. Foto: Shutter Stock

Berbagai masalah kesehatan, terutama yang terjadi pada anak-anak, sebagian besar disebabkan oleh ketidakseimbangan nutrisi. Dampaknya, hal ini bisa menyebabkan obesitas, anemia, hingga stunting pada anak-anak.

Ya Moms, stunting menjadi masalah gizi pada anak di Indonesia yang masih menjadi fokus dan perhatian pemerintah. Itulah sebabnya, momen Hari Gizi Nasional yang diperingati tiap tanggal 25 Januari ini digunakan pemerintah untuk menggaungkan dan mengajak masyarakat bersama mencegah stunting. Tema yang diusung adalah ‘Protein Hewani Cegah Stunting’.

Selain itu, tema ini diangkat karena permasalahan stunting yang belum mencapai target pemerintah. Untuk mempercepat penanganan stunting, asupan protein hewani menjadi salah satu hal yang penting diperhatikan.

Makanan sehat cegah stunting pada anak. Foto: Nathasya Elvira/kumparan

Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, prevalensi angka stunting di Indonesia menjadi 21,6 persen. Meskipun angka tersebut mengalami penurunan sejak 2019, tetapi isu stunting masih menjadi tantangan besar pemerintah agar turun hingga 14 persen pada 2024.

Berdasarkan data Peraturan Menteri Kesehatan No 2 tahun 2020, anak disebut stunting bila tinggi badan kurang dari angka yang ditetapkan sebagai berikut:

Data PMK No. 2 tahun 2020. Foto: Nathasya Elvira/kumparan

Lantas, kenapa kasus stunting perlu ditangani dengan tepat?

Kata Ahli soal Bahaya Stunting pada Anak

Ilustrasi anak stunting. Foto: Shutter Stock

Guru Besar Pangan dan Gizi di Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, MS., menjelaskan, stunting tak hanya mempengaruhi tinggi badan anak. Tetapi juga akan mempengaruhi sumber daya manusia dan kualitas kecerdasannya di kemudian hari.

“Setelah 2017, pemerintah menganggap stunting menjadi isu besar karena berpengaruh pada SDM dan kualitas kecerdasannya,” jelas Prof. Ali, dalam Media Briefing Hari Gizi Nasional 2023 yang diselenggarakan oleh Nestle Indonesia, Rabu (25/1).

Prof. Ali di media briefing Nestle Indonesia. Foto: Nathasya Elvira/kumparan

Stunting juga menyebabkan anak mudah terserang berbagai jenis penyakit, masalah kecerdasan, dan menurunkan produktivitas. Hal ini dipengaruhi oleh terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan organ-organ di dalam tubuh anak. Penyakit yang mudah menyerang anak stunting adalah diabetes, obesitas, stroke, dan masalah jantung.

“Kekurangan gizi bukan saja membuat stunting, tetapi juga menghambat kecerdasan, memicu penyakit, dan menurunkan produktivitas,” tambah Prof. Ali.

Penyebab Stunting pada Anak

Balita menerima makanan bergizi dari relawan Omaba di Bandung. Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

Penelitian Dubois et.al (2012) dalam penjelasan Prof Ali, stunting karena faktor genetik hanya menyumbang sedikit kasus, yakni sekitar 4-7 persen. Sementara penyumbang kasus terbesar disebabkan oleh faktor lingkungan yang mencapai 74-87 persen.

Selain itu, tingginya kasus stunting di Indonesia juga dipengaruhi oleh faktor ekonomi. Sebab, kemampuan ekonomi ayah dan ibu akan mempengaruhi kualitas makanan dan nutrisi yang diberikan pada si kecil.

“Kalau saya asumsinya adalah faktor ekonomi ya. Kalau ekonominya bagus, orang tua bisa memberikan makanan yang bernutrisi,” ujar Ketua Divisi Gizi Terapan IPB itu.

Rekomendasi Ahli untuk Percepatan Penanganan Stunting

Ilustrasi anak minum susu. Foto: Shutter Stock

Dalam penanggulangan stunting, pemerintah disarankan untuk terus menggemparkan kiat mencegah stunting sejak masa kehamilan, yakni dengan memberikan nutrisi terbaik di 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Di samping itu, Prof. Ali juga merekomendasikan agar pemerintah membuat program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) secara gratis untuk anak-anak, terutama di kabupaten atau kota yang mempunyai banyak kasus stunting. Misalnya susu, telur, atau produk hewani lainnya.

Bila memungkinkan, pemerintah bersama dengan orang tua juga menerapkan sistem makan dua jenis protein hewani. Keduanya digunakan untuk mengganti protein yang kurang selama masa pertumbuhan. Akan tetapi, salah satu protein hewani tersebut juga boleh diganti dengan susu ya, Moms.

“Saya berharap saat makan kalau bisa pangan hewaninya ada dua jenis. Atau kalau satu jenis ya berikan juga dia (anak) susu, keduanya untuk mensuplai kekurangan protein yang selama ini terjadi pada masa pertumbuhan,” tutup Prof. Ali.

kumparan post embed