Kumparan Logo

Tips Ajarkan Anak Mampu Terima Kekalahan dengan Baik

kumparanMOMverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Anak Bermain Bulu Tangkis (Foto: Shutterstock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Anak Bermain Bulu Tangkis (Foto: Shutterstock)

Orang tua tentu ingin berbuat dan menyediakan yang terbaik buat anak. Terlebih, karena tahu persaingan di masa depannya kelak bisa jadi akan semakin 'mengerikan'. Mempersiapkan anak dengan menyodorkan aneka fasilitas terbaik, mulai dari sekolah dan tempat khursus, memang tak salah. Namun dampaknya, banyak orang tua yang selalu berharap anaknya dapat juara di berbagai bidang.

Namun yang juga perlu diperhatikan, sebaiknya orang tua jangan sampai terlalu menuntut anak untuk selalu juara, Moms. Kadang, ia perlu mengalami gagal dan kalah. Menurut Susan K.Perry, Ph.D, psikolog dari Los Angeles, Amerika, anak juga harus belajar menerima kekalahan secara sportif. Ini baik, demi kematangan emosinya pula. Berikut ini yang bisa Anda ajarkan agar anak bisa legawa atau menerima dengan tulus hati saat mengalami kekalahan:

Belajar Empati

Ilustrasi Anak Bahagia (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Anak Bahagia (Foto: Pixabay)

Saat menang dan menjadi juara, anak tentu akan merasa senang. Ingatkan anak, agar kebahagiannya itu jangan sampai membuatnya menjadi anak yang sombong. Sebaliknya, saat kalah, beritahu ia bahwa menang-kalah adalah hal biasa dalam sebuah pertandingan. Ingat, kalau kalah, sedih boleh. Tapi tak perlu hingga berlarut-larut.

Hargai Usahanya

Berhasil menjadi juara memang bagus, Moms, tapi yang tak kalah penting adalah selalu mengingatkan anak untuk menikmati saat bertanding dan tidak perlu merasa terbebani. Ketahuilah, bahwa anak telah berlatih dengan sungguh-sungguh dan tidak berbuat curang. Adalah lebih menyejukan anak, saat Anda juga memuji bagaimana anak sudah bermain dengan baik dan berlatih setiap hari dengan tekun, di samping memuji hanya bila ia berhasil jadi juara.

Ilustrasi ibu dan anak berpelukan. (Foto: Shutterstock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu dan anak berpelukan. (Foto: Shutterstock)

Jika tidak sempat menyaksikan anak berlaga, bertanyalah seperti "Asyik enggak pertandingannya, nak?" Bukan "Jadi siapa yang menang?" Pujilah usahanya, apapun hasilnya yang dibawanya pulang.

Berikan Contoh

Terapkan juga hal ini di rumah, Moms. Misalnya dengan mengajak anak bermain dan menerapkan cara menerima kemenangan dan kekalahan, dengan memberi contoh secara langsung. Bila Anda kalah, tunjukkan raut wajah senang dan beri selamat pada pemenang. Bila Anda menang, tunjukkan bahwa pemenag tidak boleh menyombongkan dirinya dan mencela orang yang kalah.

Tetap Meluapkan Perasaan

Di samping rasa empati, ada kalanya anak tetap masi merasa kesal dan ingin marah. Jadilah tempat yang menenangkan baginya, Moms. Biarkan ia menangis dan meluapkan emosi di depan Anda. Bagaimanapun juga, ini adalah hal yang normal. Redakan anak, dan berikan motivasi yang bisa menenangkan, misalnya: "Ibu tahu kamu sedang sedih dan kesal, karena kalah.

Anak menangis  (Foto:  THINKSTOCK)
zoom-in-whitePerbesar
Anak menangis (Foto: THINKSTOCK)

Tapi percayalah kamu sudah bersungguh-sungguh tadi sewaktu bertanding." Setelah mereda, bersama anak, Anda bisa mengoreksi dan terus berlatih di mana yang salah dan perlu perbaikan.

Jangan Selalu Mengalah

Demi menjaga perasaan anak, seringkali orang tua sengaja mengalah ketika bermain bersama anak. Padahal, seperti semua jenis keahlian lain, agar bisa menjadi "ahli" maka mesti bisa menerima kekalahan dengan baik, anak butuh pengalaman berkali-kali menjadi pihak yang kalah. Jadi, jangan terus-terusan mengalah ya, Moms!