Kumparan Logo

Tips Jadi Istri Cerdas sebagai Manajer Keuangan Keluarga

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tips Jadi Istri Cerdas sebagai Manajer Keuangan Keluarga. Foto: Thinkstock
zoom-in-whitePerbesar
Tips Jadi Istri Cerdas sebagai Manajer Keuangan Keluarga. Foto: Thinkstock

Menjalani hubungan rumah tangga merupakan kerja sama antara suami dan istri agar berjalan lancar. Namun, seringkali untuk urusan keuangan keluarga, istrilah yang diberi mandat untuk menjadi pengelola keuangannya. Anda juga begitu, Moms?

Tidak ada yang salah ketika istri menjadi manajer keuangan keluarga. Ini berlaku pada suami dan istri yang sama-sama bekerja, atau hanya salah satunya saja.

Perlu dipahami juga bahwa dalam keuangan keluarga, pengelolaannya terdiri dari beberapa macam, yaitu:

  1. Sistem satu keranjang, yakni semua penghasilan dijadikan satu untuk memenuhi kewajiban keluarga. Ini umumnya diterapkan saat hanya salah satu pihak yang bekerja.

  2. Sistem dua keranjang, yaitu suami dan istri sama-sama bekerja, lalu menjadikan satu penghasilannya untuk membayar semua kebutuhan dan kewajiban keluarga. Dalam pembagian ini, biasanya suami dan istri menetapkan peran masing-masing dalam memenuhi kebutuhan keluarga.

  3. Suami menyerahkan seluruh penghasilannya kepada istri. Di sinilah istri berperan untuk memastikan dan mengatur penghasilannya harus cukup untuk memenuhi kewajiban, kebutuhan, dan merencanakan keinginan.

Saat diberi mandat untuk mengatur penghasilan, maka istri diharapkan dapat mengalokasikan kepada setidaknya empat pos:

- Kewajiban kepada Tuhan: membayar zakat, perpuluhan, sedekah (10 persen dari penghasilan)

- Kewajiban pada orang lain: bayar utang seperti cicilan KPR hingga cicilan lainnya (30-35 persen)

- Kebutuhan masa depan: tabungan dana darurat, pendidikan, pensiun, kesehatan, hingga travelling rohani (20 persen)

- Kebutuhan saat ini seperti makan, listrik, dan lain-lain (40 persen atau maksimal 60 persen jika tidak memiliki cicilan utang).

Lantas, kenapa sih wanita yang cenderung diminta agar mengatur dan mengelola keuangan keluarga? Simak penjelasan lebih lanjutnya di bawah ini.

Istri Lebih Sering Mengelola Keuangan Keluarga, Apa Alasannya?

Ilustrasi mengatur keuangan bersama pasangan. Foto: Shutterstock

Mungkin Anda sudah sering mendengar bahwa istri lebih pandai mengelola keuangan keluarga. Ternyata, hal ini bukan tanpa alasan lho, Moms!

"Hasil riset menyatakan wanita cenderung lebih pandai mengelola keuangan. Riset-riset ini mungkin karena adanya faktor kreativitas yang tinggi sehingga cenderung lebih cerdas dan pintar dalam mengalokasikan dana yang ada dari sifat multitasking-nya seperti itu," kata Financial Planner, Ila Abdulrahman, kepada kumparanMOM.

Meski begitu, komunikasi dua arah dalam urusan keuangan ini juga tetap dipelukan. Karena dalam hubungan rumah tangga, baik suami dan istri harus sama-sama terlibat dalam membuat keputusan dan menyepakatinya bersama. Meski begitu, tidak perlu semua omongan tentang budgeting ini dilibatkan, seperti misalnya yang berhubungan dengan uang pribadi. Seperti ingin memberikan uang kepada orang tua meminjamkan uang ke rekan.

"Yang perlu dilakukan adalah membicarakan keuangan secara rutin, money talk. Mungkin satu kali sekali menjelang gajian atau sesudah gajian akan lebih mudah. Jangan membicarakan kondisi keuangan saat kondisi tidak enak, misal pulang kantor, peak akhir bulan. Sesuaikan waktunya yang paling enak," tutur Ila.

Tips Jadi Istri Cerdas dalam Kelola Keuangan Keluarga

Ilustrasi mengatur pengeluaran keuangan. Foto: Shutter Stock

1. Hitung Semua Pendapatan Suami

Ila menuturkan, penting bagi para istri untuk mengetahui dan memahami dari mana saja penghasilan suami. Termasuk apakah penghasilan yang didapat itu legal atau tidak.

2. Rencanakan Pengeluaran

Dalam merencanakan keuangan perlu dibagi menjadi tiga sifat: kewajiban yang sifatnya wajib, kebutuhan perlu dipenuhi, dan keinginan yang harus direncanakan.

Apa sih beda dari ketiga sifat tersebut? Untuk kewajiban itu termasuk zakat, perpuluhan, atau derma. Kemudian kebutuhan seperti makan, pendidikan, dan konsumsi sehari-hari, misalnya listrik. Kemudian setelah kewajiban dan kebutuhan terpenuhi, selanjutnya silakan merencanakan keinginan dalam mencapai tujuan keuangan sesuai dengan kemampuan finansial masing-masing.

3. Rencana Bila Penghasilan Tidak Mencukupi

Dan tidak ada salahnya untuk membuat rencana sejak dini bila suatu saat penghasilan tidak lagi mencukupi untuk kebutuhan tersebut. Misalnya, Anda bisa menyesuaikan penghasilan dengan kebutuhan. Atau sebaliknya, sesuaikan kebutuhan, kewajiban, dan keinginan dengan penghasilan yang dimiliki.

"Delete pengeluaran yang tidak perlu, cari alternatif sejenis. Kalau sudah mepet banget, tidak bisa atau tetap kurang, maka harus kreatif lagi nih seorang ibu mencari penghasilan tambahan. Yang tentunya mendapat persetujuan dari keluarga, termasuk suami pintar-pintar cari peluang," ungkap Ila.

Dan terakhir, Ila mengingatkan bahwa penghasilan yang dihasilkan sebenarnya akan cukup untuk memenuhi kewajiban dan kebutuhan hidup. Namun, seringkali terasa kurang cukup bila hanya untuk memenuhi satu keinginan saja bila tidak direncanakan dengan baik. Setuju, Moms?