Update Kasus Gangguan Ginjal Akut: Serang 131 Anak, Penyebab Masih Misterius
ยทwaktu baca 4 menit

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengumumkan sedang terjadi lonjakan kasus gangguan ginjal akut pada anak-anak dalam dua bulan terakhir. Yang dikhawatirkan adalah penyebab gangguan ginjal akut (Acute Kidney Injury/AKI) ini masih belum diketahui penyebabnya!
Menurut data terbaru yang dikumpulkan IDAI, per 10 Oktober 2022 sudah tercatat ada 131 anak mengalami gangguan ginjal akut misterius. Ini baru data yang diterima cabang-cabang IDAI di 14 provinsi saja, sehingga tidak merepresentasikan seluruh Indonesia.
Keempat belas provinsi yang telah melaporkan kasus gangguan ginjal akut pada anak adalah DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Bali, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Aceh, Sumatera Barat, Jambi, Kepulauan Riau, Papua Barat, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Riwayat Munculnya Kasus Gangguan Ginjal Akut yang Menyerang Anak
Dijelaskan Sekretaris Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nefrologi IDAI dr. Eka Laksmi Hidayati, SpA(K), kasus gangguan ginjal akut ini mulanya dilaporkan hanya muncul 1-2 kasus per bulannya, terhitung sejak Januari hingga Juli 2022. Namun secara tidak terduga, kasusnya jadi melonjak selama Agustus hingga September kemarin.
"Di Agustus itu kami catat ada 35 kasus. Kemudian di September meningkat menjadi 71 (kasus). Di Oktober ini, sampai tanggal 11 sembilan kasus," kata dr. Eka dalam konferensi pers virtual bersama Ketua Pengurus Pusat IDAI dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K), dikutip dari Antara.
IDAI awalnya menduga munculnya penyakit ini berkaitan dengan multisystem inflammatory syndrome in children (MIS-C) pada anak-anak yang pernah terinfeksi COVID-19. Namun, berdasarkan diskusi dan analisis, kasus yang ditemukan ternyata terdapat pula anak yang tidak positif COVID-19 sebelumnya.
Data-data lain yang dikumpulkan IDAI, sejauh ini belum ditemukan juga bahwa gangguan ginjal akut misterius ini terkait dengan obat-obatan tertentu yang menewaskan 66 anak di Gambia, Afrika Barat. BPOM juga sudah memastikan obat-obatan yang diproduksi di India itu tidak beredar di Indonesia.
Sejauh ini, IDAI mencatat kasus gangguan ginjal, terutama di DKI Jakarta, banyak terjadi pada anak di bawah usia lima tahun. Ada juga beberapa pasien di Jakarta yang berusia delapan tahun. Namun, dilaporkan terdapat pula pasien di luar Jakarta berusia belasan tahun. dr. Piprim menegaskan, penyebab gangguan ginjal akut misterius masih terus didalami lebih lanjut. Ia pun mengimbau agar masyarakat tidak panik berlebihan dan tetap waspada apabila anak menunjukkan gejala.
Pahami Gejala Gangguan Ginjal pada Anak
Lebih lanjut, dr. Eka menjelaskan, biasanya anak-anak yang mengalami AKI memiliki masalah ginjal bawaan. Namun laporan IDAI menunjukkan kasus pasien-pasien yang ditemukan menderita gangguan ginjal akut misterius memiliki ginjal awal yang normal, dan bukan sesuatu yang merupakan kelainan bawaan. Begitu juga riwayat penyakitnya yang bisa tiba-tiba mengalami penurunan jumlah urinenya.
Mengingat penyebab penyakit ini masih didalami, IDAI memberikan pesan agar para orang tua lebih memperhatikan kondisi kesehatan anak dengan memperhatikan gejala-gejala berikut ini:
Terjadi penurunan jumlah urine secara tiba-tiba atau bahkan tidak keluar sama sekali dalam 3-5 hari
Diikuti batuk dan pilek
Diare
Muntah
Demam
Umumnya, kondisi gangguan ginjal terjadi karena kehilangan cairan secara berlebihan. Dalam kondisi tersebut, biasanya pertolongan pertama yang dilakukan adalah pemberian cairan secepatnya. Namun, penanganan berbeda diberlakukan pada pasien dengan gangguan ginjal akut misterius.
"Pada AKI yang berbeda kondisinya, kami tidak melihat ada kehilangan cairan yang berlebihan. Maka tidak disarankan untuk memberikan cairan yang berlebihan, tetapi disarankan untuk segera ke rumah sakit untuk diberikan terapi obat, dipantau, kemudian bila tidak berhasil maka kami akan melakukan cuci darah," jelas Eka.
Terkait pengobatan, dokter anak akan melakukan berbagai intervensi seperti terapi obat atau cairan agar urine kembali diproduksi. Karena pada beberapa kasus pasien yang ketika datang ke rumah sakit dalam kondisi tidak ada produksi urine. Namun untuk pasien yang tetap tidak memproduksi urine setelah diberikan obat, maka tindakan cuci darah diperlukan seperti hemodialisis, dialisis peritoneal (cuci darah lewat perut), ataupun metode lain yang lebih memungkinkan.
