Kumparan Logo

Waspada Bahaya Makanan Ultra Proses untuk Bayi dan Anak-anak

kumparanMOMverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Waspada bahaya makanan ultra proses Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Waspada bahaya makanan ultra proses Foto: Shutterstock

Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) meluncurkan dokumen bertajuk 'Bahaya Terselubung dari Makanan Ultra Proses' dalam rangka memperingati Hari Gizi Nasional 2021 yang jatuh pada 25 Januari. Dokumen tersebut merupakan terbitan dari Breastfeeding Promotion Network of India (BPNI) yang merupakan mitra kerja AIMI selama ini di International Baby Food Action Network (IBFAN).

Ketua Umum AIMI, Nia Umar, menjelaskan makanan ultra proses atau makanan instan yang dimaksud adalah makanan yang diproduksi di pabrik, dijual dalam bentuk kemasan, terdapat 5 atau lebih kandungan zat, dan mengandung zat yang tidak tersedia di dapur.

kumparan post embed

Biasanya makanan ultra proses diolah dengan cara karbonasi, pemadatan, pengocokan, penambahan massa, pemipihan, dan lain-lain.

"Beberapa contoh produk untuk bayi termasuk makanan ultra proses, seperti susu formula untuk bayi, formula lanjutan, sereal, makanan kemasan terfortifikasi untuk bayi," kata Nia melalui Zoom, Jumat (29/1).

Sedangkan makanan ultra proses untuk orang dewasa adalah makanan-makanan instan pabrikan yang banyak beredar di pasaran.

Bahaya Makanan Ultra Proses

Waspada bahaya makanan ultra proses. Foto: dok.Shutterstock

Nia menyebut, menurut penelitian WHO, peningkatan konsumsi makanan ultra proses menyebabkan peningkatan nafsu makan dan kenaikan berat badan yag lebih besar daripada makanan yang tidak diproses, meskipun kalorinya sama. Dampak buruk kesehatan termasuk obesitas, asma, obesitas, diabetes tipe-2, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, depresi, sindrom iritasi usus besar, dispepsia, dan kelemahan otot.

"Tidak ada penelitian yang menemukan manfaat konsumsi UPF bagi kesehatan," tegasnya.

Waspada bahaya makanan ultra proses Foto: Shutterstock

Sayangnya, kata Nia, di era modern saat ini, manusia cenderung mengonsumsi makanan ultra proses karena praktis. Terlebih makanan-makanan tersebut mencantumkan label gizi yang terlihat sehat untuk tubuh, padahal menurutnya, dampaknya justru tidak baik.

"Dalam konteks Indonesia, kami melihat promosi makanan ultra proses sangatlah masif, tidak hanya di kota besar namun sampai di pelosok pun makanan pabrikan sangat mudah dijumpai dan sering kali menjadi pangan pokok dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dari semua kalangan” paparnya.

Nia menyebut, masyarakat perlu diedukasi lebih jauh terkait risiko dari makanan ultra proses pabrikan. Selain itu pemerintah diminta mengatur dengan lebih tegas agar masyarakat juga terlindungi dari risiko yang ada.

kumparan post embed