Waspada Burnout Syndrome, Stres Berlebihan yang Bisa Ganggu Kesehatan Ibu

Ada banyak tanggung jawab yang harus dilakukan ibu setiap hari. Mulai dari mengurus anak, rumah tangga, hingga pekerjaan kantor misalnya. Untuk bisa mengerjakan semua hal itu, kesehatan ibu tentu harus jadi prioritas.
Ya Moms, esibukan yang menumpuk tak jarang membuat ibu merasa kelelahan dan memicu stres. Terlebih, bila Anda adalah ibu bekerja, yang juga punya tanggung jawab di luar rumah. Ya, Anda tentunya harus bisa membagi waktu antara mengurus anak dan pekerjaan.
Bila tidak, bisa saja ibu jadi rentan terserang burnout syndrome. Wah, apa maksudnya?
Mengenal Istilah Burnout Syndrome
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), burnout syndrome adalah kondisi stres kronis yang biasa dialami ibu akibat pekerjaannya. Biasanya burnout syndrome memiliki tanda-tanda seperti kelelahan, kesal dan merasa tidak puas dengan hasil pekerjaan.
Burnout tidak hanya menyebabkan kelelahan secara fisik dan emosional, tapi juga meningkatkan sinisme dan menurunkan keefektifan dalam bekerja. Selain berpengaruh dalam pekerjaan, kondisi ini juga akan mempengaruhi pola asuh ibu terhadap anaknya. Sebab, ibu yang sudah terlalu lelah dan stres di kantor bisa jadi tidak ada minat untuk melakukan apapun ketika berada di rumah. Nah Moms, kondisi seperti ini tentu akan berbahaya jika berlangsung lama. Apalagi jika anak Anda masih bayi dan sangat memerlukan perhatian lebih dari ibunya.
Dikutip dari Parents, Psikolog Spesialis Kesehatan Mental Perinatal, Katayune Kaeni, Psy.,D mengatakan, beberapa penelitian menunjukkan bahwa kondisi burnout syndrome dirasakan oleh 14 persen orang tua, bahkan lebih. Biasanya burnout syndrome dialami oleh wanita yang mendapatkan tekanan dari diri mereka untuk menjadi sosok ibu yang sempurna dengan tetap bekerja meski sedang mengasuh anaknya.
Bahaya Burnout Syndrome bagi Kesehatan Ibu
Tak hanya itu, rupanya burnout syndrome juga berbahaya untuk kesehatan ibu. Menurut seorang Dokter Spesialis Jantung Amerika sekaligus penulis buku Heart Health: A Guide to the Tests and Treatments You Really Need, Dr. J. Shah mengatakan, rasa kemarahan, kelelahan, kekhawatiran dan depresi seseorang, ternyata berhubungan dengan berkembangnya risiko penyakit jantung koroner dan gagal jantung kongestif.
Sebuah penelitian menunjukkan adanya hubungan antara kondisi burnout syndrome yang parah dengan kondisi gangguan irama jantung yang biasa disebut fibrilasi atrium. Pada kondisi ini, jantung akan berdenyut cepat dan tidak teratur yang menyebabkan kemampuan jantung untuk memompa darah menurun.
Burnout syndrome yang parah juga dapat menyebabkan gangguan kesehatan lain seperti, kesulitan tidur atau insomnia, risiko lebih tinggi untuk terkena penyakit diabetes melitus tipe 2, susah mengendalikan emosi dan akan lebih rentan terserang berbagai penyakit lainnya.
Oleh sebab itu, penting bagi Anda untuk mengelola stres dan tingkat kelelahan sejak dini, Moms. Jangan sampai, masalah pekerjaan memengaruhi pola asuh Anda terhadap si kecil. Mungkin Anda bisa melakukan berbagai aktivitas yang menyenangkan dan menenangkan untuk mengembalikan mood saat sedang stres. Misalnya, Anda bisa menonton film kesukaan atau melakukan meditasi agar mendapatkan ketenangan.
Penulis: Hutri Dirga Harmonis
