Kumparan Logo

Waspada, Moms! Kasus COVID-19 pada Anak Usia Sekolah Meningkat 2 Bulan Terakhir

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kasus COVID-19 pada Anak Usia Sekolah Meningkat 2 Bulan Terakhir. Foto: Feny Selly/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Kasus COVID-19 pada Anak Usia Sekolah Meningkat 2 Bulan Terakhir. Foto: Feny Selly/ANTARA FOTO

Pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen sudah berjalan di berbagai daerah. Namun sayangnya, masih banyak sekolah yang menyelenggarakan PTM tidak melakukan pelacakan kasus COVID-19 saat ditemukan siswa maupun tenaga pengajar yang positif.

Ya Moms, berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) per 23 Agustus 2022, dari total 440.071 sekolah yang menyelenggarakan PTM, hanya 6.796 atau 1,54 persen yang melakukan active case finding.

Selain itu, kasus positif COVID-19 selama penyelenggaraan PTM yang dimulai Juli 2022 juga menunjukkan kenaikan pada kelompok anak-anak.

Data Satgas COVID-19 per Juli 2022, terdapat penambahan 118.638 kasus positif corona di Indonesia. Dari data tersebut, anak-anak usia sekolah 7-18 tahun memberikan kontribusi penambahan kasus sebanyak 14,48 persen atau sebanyak 17.174 kasus.

Siswa SD mencuci tangan sebelum masuk kelas. Foto: Arif Firmansyah/ANTARA FOTO

Sementara pada Agustus 2022, terjadi penambahan kasus positif secara nasional sebesar 27,88 persen menjadi 151.710. Dari jumlah tersebut, kasus positif COVID-19 pada usia anak sekolah turut mengalami peningkatan sebesar 33,81 persen atau 22.980 kasus. Kasus positif pada kelompok usia anak sekolah ini berkontribusi sebanyak 15,15 persen pada tingkat nasional.

Sehingga, bila dihitung, dalam kurun waktu dua bulan, kasus positif COVID-19 pada anak-anak usia sekolah naik 5 ribu kasus. Meningkatnya jumlah kasus anak terinfeksi virus corona ini perlu menjadi perhatian orang tua hingga pihak sekolah. Meski begitu, memang belum bisa dipastikan apakah kasus-kasus ini penularannya semua terjadi di sekolah atau tidak.

Yang perlu menjadi perhatian juga adalah vaksinasi corona pada anak. Per tanggal 9 September 2022, cakupan vaksinasi COVID-19 pada anak berusia 6-11 tahun masih lebih rendah dibandingkan cakupan vaksinasi pada anak kelompok usia 12-17 tahun. Dengan cakupan dosis pertama di Indonesia mencapai 79,94% (21.105.395 anak) dan untuk vaksinasi dosis kedua baru mencapai 66,20% (17.475.772 anak).

Pencegahan Dini yang Bisa Dilakukan Agar Anak Tak Terinfeksi COVID-19 di Sekolah

Pencegahan Dini yang Bisa Dilakukan Agar Anak Tak Terinfeksi COVID-19 di Sekolah. Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO

Ketua Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia, Dr. dr. Retno Asti Werdhani, M.Epid, menyarankan agar anak yang mengalami gejala COVID-19 seperti demam, batuk, pilek, maupun diare agar tidak perlu masuk sekolah.

Selain itu, Retno meminta sekolah untuk melakukan pengawasan ketat pada penerapan protokol kesehatan, serta melakukan testing pada siswa-siswanya yang bergejala COVID-19. Bila ada yang hasilnya positif, maka tracing perlu lebih digencarkan agar penularan tidak semakin meluas.

“Pada anak-anak malah gejalanya lebih ringan dan kebanyakan tidak mengalami gejala atau orang tanpa gejala (OTG). Berarti memang mereka atau bahkan kita tidak tahu kalau ternyata mereka memiliki COVID-19,” kata Dr. Asti dalam talkshow 'Pengawasan Protokol Kesehatan di Sekolah' dilihat dari YouTube BNPB.

kumparan post embed

Si kecil juga perlu diingatkan bahwa waktu-waktu rentan penularan sekolah terjadi pada saat jam istirahat dan pulang sekolah, karena anak cenderung longgar penerapan prokesnya. Sehingga, orang tua perlu memastikan anak langsung pulang setelah dari sekolah. Tujuannya untuk meminimalisir anak berkontak fisik dengan orang lain, baik orang dewasa maupun anak-anak lainnya, yang berpotensi menularkan virus corona.

Orang tua juga perlu mewaspadai penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) yang masih menjadi penyebab masalah kesehatan di Indonesia. Sebab, kebanyakan orang yang terinfeksi corona juga mengalami gejala pernapasan, seperti demam, sakit tenggorokan, dan bersin-bersin.

Tak hanya itu, momen pergantian musim ini juga rentan membuat anak mengalami batuk dan pilek. Maka dari itu, orang tua juga perlu proaktif untuk melakukan tes COVID-19 untuk membedakan apakah anak terinfeksi corona atau flu biasa. Menurut Dr. Asti, tes COVID-19 dapat membantu orang tua memperkuat perlindungan pada anak-anak, terutama bagi anak di bawah usia enam tahun yang belum bisa divaksinasi.

“Kalau kita bilang, influenza like illness. Kita perlu untuk proaktif diperiksakan untuk tes COVID-19 supaya kita bisa memastikan bahwa itu positif atau tidak. Kalau pun misalnya positif, kita bisa langsung melakukan penelusuran (tracing),” tutup Dr. Asti.