6 Reformasi Radikal Arab Saudi, dari Bioskop hingga Wanita Berkendara

kumparanNEWSverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman menghadiri perjanjian damai Yaman di Arab Saudi. Foto: Saudi Press Agency/Handout via REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman menghadiri perjanjian damai Yaman di Arab Saudi. Foto: Saudi Press Agency/Handout via REUTERS

Pemerintah Arab Saudi melakukan perubahan drastis berbagai kebijakan sosial yang telah dianut selama puluhan tahun. Hal ini tidak lain demi mendongkrak popularitas negara itu bagi investasi atau wisatawan.

Reformasi sosial di Saudi sebelumnya dianggap tidak pernah akan terjadi, setidaknya sebelum Mohammed bin Salman diangkat putra mahkota pada 2017. Pangeran 34 tahun yang biasa dijuluki MbS itu mencanangkan Visi 2030, sebuah mimpi ambisius Saudi bebas dari ketergantungan minyak.

kumparan post embed

Dalam visi tersebut, Saudi akan mendiversifikasi perekonomian, salah satu yang gencar digalakkan adalah meningkatkan sektor pariwisata. Demi menggaet wisatawan, Saudi merasa harus melakukan modernisasi dan reformasi kehidupan sosial yang menurut sudut pandang Barat "konservatif".

MbS lantas mengubah tatanan hidup rakyat Saudi yang sejak puluhan tahun akrab dengan segregasi gender. Wanita kini diberi lebih banyak kebebasan di Saudi. Bahkan tahun ini, Saudi untuk pertama kalinya menunjuk wanita sebagai Duta Besar untuk Amerika Serikat, yaitu Putri Reema binti Bandar Al Saud.

Berikut setidaknya enam reformasi radikal di Arab Saudi:

1. Pintu Pemisah Pria-Wanita di Restoran

Ilustrasi restoran Arab Saudi. Foto: AP Photo/Amr Nabil

Sejak puluhan tahun, restoran di Arab Saudi memiliki pintu yang berbeda untuk pria, wanita, dan keluarga. Hal ini bentuk interpretasi ajaran Islam yang melarang campur baur antara lelaki dan perempuan tanpa pemisah atau ikhtilat.

Namun pada Minggu (8/12), Kementerian Urusan Perkotaan Saudi mengumumkan penghapusan pemisahan pintu berdasar gender. Nantinya, pria dan wanita boleh masuk dari pintu yang sama, dan memesan makanan dari counter yang sama.

Pejabat Saudi mengatakan penghapusan kebijakan ini diharapkan bisa mengundang investasi dan menciptakan peluang bisnis yang lebih baik.

2. Bioskop Pertama di Saudi

Sejak 1980-an, pemerintah Arab Saudi menutup seluruh bioskop karena film Hollywood dianggap mengajarkan dosa dan vulgar. Namun, warga Saudi tetap bisa menikmati bioskop di negara Timur Tengah lain yang lebih bebas, seperti Dubai atau Qatar.

Warga Saudi berkumpul di sebuah teater bioskop di Mal Riyadh Park, Arab Saudi. Foto: AFP/FAYEZ NURELDINE

Pada 2018, Saudi menghapuskan pelarangan bioskop. Pada April di tahun itu, bioskop pertama Saudi dibuka setelah 35 tahun di ibu kota Riyadh. Film pertama yang diputar adalah Black Panther.

Modernisasi yang dilakukan MbS ini berhasil mengundang investasi dari AMC. Perusahaan bioskop Amerika Serikat ini berencana membuka 40 bioskop di 15 kota Saudi dalam waktu lima tahun. Perusahaan bioskop asal Dubai, VOX Cinema, juga telah melirik peluang ini.

3. Wanita Boleh Mengendarai Mobil

Saudi banyak dikecam aktivis kesetaraan gender karena larangan berkendara bagi perempuan yang telah diberlakukan sejak 1957. Saudi adalah satu-satunya negara di dunia yang melarang perempuan berkendara.

Kebijakan ini mengharuskan keluarga menyewa sopir pribadi. Menurut The Economist, pada 2002 gaji 500 ribu sopir pribadi bagi wanita di Saudi setara dengan 1 persen pendapatan nasional.

Perempuan Arab Saudi Menyetir Mobil Foto: Reuters/Faisal Al Nasser

MbS menghapuskan larangan wanita berkendara pada akhir 2017. Setahun kemudian, wanita di Saudi untuk pertama kalinya bisa mendapatkan surat izin mengemudi.

4. Wanita Nonton Sepak Bola di Stadion

Pada Januari 2018, perempuan di Arab Saudi akhirnya boleh ikut menonton pertandingan sepak bola langsung di stadion. Sebelumnya, hanya lelaki yang boleh menonton pertandingan secara langsung.

Walau perempuan memiliki pintu masuk dan kursi terpisah dari pria di stadion, namun kebijakan ini disebut sebagai salah satu reformasi sosial MbS yang mengejutkan.

Pertandingan pertama yang disaksikan langsung oleh wanita Saudi adalah laga antara tim sepak bola Al-Ahli dan Al-Batil di Liga Pro Saudi, stadion King Abdullah Sports City, Jeddah.

Suporter perempuan mendukung Al-Ahli saat pertandingan melawan Al-Batin di Liga Pro Saudi di King Abdullah Sports City di Jeddah. Foto: AFP

5. Wanita Pergi Tanpa Wali

Pada Agustus 2019, pemerintah MbS mereformasi "hukum perwalian" untuk wanita. Dalam reformasi tersebut, wanita dewasa bebas bekerja dan bepergian tanpa perlu mendapat izin dari wali.

Wanita Saudi di atas usia 21 tahun juga bebas membuat paspor dan bepergian ke luar negeri tanpa izin wali. Dalam UU Saudi yang baru, wanita mendapatkan perlindungan dari diskriminasi di tempat kerja.

6. Pasangan Turis Tak Menikah Boleh Sekamar

September 2019, Saudi meluncurkan program visa turis baru, mencakup reformasi radikal dalam aturan berlaku wisatawan asing. Reformasi visa ini diharapkan bisa membuat Saudi memenuhi target 100 juta turis per tahun pada 2030, menyumbang 10 persen GDP.

Suporter perempuan mendukung Al-Ahli saat pertandingan melawan Al-Batin di Liga Pro Saudi di King Abdullah Sports City di Jeddah. Foto: AFP

Salah satu reformasinya adalah pasangan turis asing pria dan wanita boleh sekamar di hotel Saudi tanpa perlu memperlihatkan surat nikah. Namun peraturan ini hanya berlaku bagi wisatawan asing, sementara wisatawan domestik masih harus menunjukkan bukti nikah.

Reformasi lainnya, wanita asing boleh bepergian sendirian ke Saudi dan menyewa kamar hotel. Sebelumnya, mereka harus ditemani oleh wali atau mahram, terutama saat menunaikan ibadah haji atau umrah.

Namun, para wisatawan asing itu tetap harus berpakaian sesuai dengan adat dan norma di Saudi, yakni menutupi aurat.