Adik di India Dipaksa Gantikan Kakak Perempuan yang Meninggal di Hari Pernikahan
·waktu baca 3 menit

Peristiwa memilukan terjadi di hari pernikahan Surabhi dan Manoj Kumar di negara bagian Uttar Pradesh, India. Surabhi, sang pengantin perempuan, mendadak pingsan di tengah upacara pernikahan dan dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian.
Meninggalnya sang mempelai nyatanya tak menghentikan upacara pernikahan itu. Sebab kedua keluarga memutuskan untuk menikahkan adik mendiang Surabhi, Nisha, dengan mempelai pria, Manoj Kumar.
“Kami tak tahu apa yang harus kami lakukan saat itu. Kedua keluarga mempelai langsung berdiskusi dan seseorang menyarankan untuk menikahkan adik perempuan saya, Nisha, dengan mempelai pria,” ujar kakak Surabhi, Saurabh, kepada portal berita lokal IANS.
Dikutip dari South China Morning Post, pihak keluarga berdiskusi lebih lanjut dan akhirnya menyetujui saran tersebut.
Jenazah Surabhi diletakkan di sebuah ruangan terpisah, sementara upacara pernikahan antara Nisha dan Kumar berlangsung.
Paman Surabhi, Ajab Singh, mengaku bahwa keputusan menikahkan adik mendiang sangatlah berat.
“Duka atas meninggalnya Surabhi dan kebahagiaan atas pernikahan Nisha masih belum terasa,” ungkap Ajab.
Insiden ini lantas ramai diperbincangkan di media sosial. Para pengguna Twitter menyatakan kekesalan dan rasa tidak setujunya atas keputusan keluarga yang dianggap tidak mengindahkan hak sang adik mendiang.
“Ini sangat kacau. Mau hari pernikahan ataupun tidak … seseorang meninggal dunia. Harusnya mereka menghormati sang pengantin yang wafat. Mengerikan,” ujar salah satu pengguna.
Kabar ini bahkan terdengar sampai China. Di media sosial Weibo, para pengguna mengutarakan berbagai opini hingga berspekulasi mengapa kedua keluarga memutuskan untuk menikahkan Nisha dengan Kumar.
Pendapat Sosiolog
Para sosiolog menjelaskan, insiden memilukan ini merupakan cerminan dari kebudayaan patriarki serta ketidaksetaraan gender di India. Tradisi pernikahan kuno yang menempatkan derajat laki-laki di atas perempuan memang sudah mengakar di India.
“Kebanyakan pernikahan di India adalah perjodohan antara keluarga, bukan keinginan si perempuan atau laki-laki yang bahkan persetujuannya jarang sekali dipertimbangkan,” jelas Profesor Sosiologi di Delhi University, Kamei Aphun.
“Begitu pun pada kasus Surabhi ini, para sesepuh keluarga mungkin berpendapat bahwa menikahkan anak perempuan mereka yang satunya lagi dengan sang mempelai pria adalah pilihan terbaik.
Tetapi, apakah mereka mempertimbangkan perasaan sang adik? Atau bahkan fakta bahwa sang adik harus selamanya hidup dengan stigma ia menikahi suami dari kakaknya yang meninggal?” lanjut Aphun.
Direktur Pusat Penelitian Sosial India, Ranjana Kumari, mengungkapkan bahwa kasus seperti ini tidak mengejutkan. Pernikahan paksa dilakukan atas nama tradisi, tanpa mempertimbangkan opini mempelai yang bersangkutan.
“Ini adalah sistem yang sangat eksploitatif tetapi tak mengejutkan, mengingat 95 persen pernikahan di India merupakan perjodohan oleh keluarga,” ungkap Kumari.
Yang lebih mengejutkan lagi adalah pernikahan yang serupa dengan kasus Nisha dan Kumar ini dilandaskan dengan syarat bahwa si adik tak boleh mengandung dan melahirkan anak, karena dikhawatirkan mereka akan mengabaikan anak dari si kakak yang wafat.
“Dalam kata lain, lebih dari istilah ‘istri’, peran para saudara perempuan itu adalah sebagai pengasuh tak dibayar yang juga harus mengorbankan cita-cita mereka untuk menjadi seorang Ibu,” kata Kumari.
