Jingrwai Iawbei, Tradisi Unik Para Ibu di India Menamai Bayi dengan Sebuah Lagu
ยทwaktu baca 2 menit

Setiap negara tentu memiliki tradisi dalam menyambut bayi yang baru lahir. Seperti halnya para ibu di India yang punya tradisi unik menamai bayi yang baru dilahirkan.
Dilansir Mentalfloss, Desa Kongthong di Meghalaya, India, punya tradisi unik menamai bayi yang baru lahir dengan sebuah lagu.
Seminggu setelah melahirkan, para ibu di desa ini akan membuat sebuah lagu untuk anak-anak mereka yang nantinya akan menjadi nama sang anak kelak.
Lagu-lagu tersebut pun sangat unik dan berbeda dari yang lainnya, sehingga kreativitas sang ibu akan diasah untuk membuat lagu. Tak heran jika Desa Kongthong disebut sebagai salah satu tempat paling musikal di dunia.
Asal-usul Tradisi Menamai Bayi di Desa Kongthong
Tradisi menamai bayi di desa ini dikenal dengan nama 'jingrwai iawbei' atau 'song of the mother' yang jika diterjemahkan berarti 'lagu dari para ibu'. Dalam tradisi ini, para ibu akan membuat sebuah lagu melalui sebuah nada tanpa kata-kata.
Proses ini dimaknai sebagai sebuah ekspresi dari kecintaan mereka terhadap sang buah hati. Nada dari sebuah lagu tersebut nantinya akan digunakan untuk memanggil anak-anak mereka atau untuk menyanyikan lagu pengantar tidur.
Nama ini akan tetap digunakan bahkan hingga sang anak beranjak dewasa. Dari penggalan nada atau lagu tadi, sang anak juga akan diberikan nama tertulis yang digunakan di dalam masyarakat.
Lalu, dari mana tradisi menamai bayi ini berasal?
Kabarnya, tradisi menamai bayi dengan sebuah lagu ini sudah digunakan sejak lampau oleh orang-orang Khasi yang merupakan penduduk asli desa tersebut.
Tradisi ini bermula saat para pria di desa tersebut melakukan perburuan di hutan. Konon, dipercayai dengan menyanyikan sebuah lagu hal tersebut membuat mereka akan sulit untuk dilacak roh yang mengikuti mereka.
Selain itu, cara ini juga dianggap lebih memudahkan mereka jika berburu dalam sebuah kelompok.
"Nenek moyang kami menggunakan nada-nada ini ketika mereka pergi berburu. Mereka percaya bahwa roh-roh di alam liar tidak dapat melacak kita, jika kita memanggil satu sama lain dengan nada," ujar salah satu penduduk yang bernama Barailang Khongsti, seperti dikutip Atlas Obscura.
Menurut penduduk setempat, Desa Khongtong setidaknya memiliki lebih dari 500 lagu atau nada.
Desa Kongthong sendiri menganut sistem kekerabatan matrilineal, di mana anak-anak menerima nama belakang ibu, dan diturunkan ke putri bungsu mereka.
***
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)
