Agar Pertumbuhan Ekonomi Dirasakan Masyarakat Miskin

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Rapat Banggar. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Rapat Banggar. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Angka pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,02 persen pada tahun lalu dinilai belum bisa dirasakan seluruh lapisan masyarakat. Laju kelompok yang kaya tetap lebih cepat dibandingkan kelompok miskin.

Jurang ketimpangan pun cukup lebar. Catatan Badan Pusat Statistik (BPS) pada September 2016, indeks gini (gini ratio) di Indonesia tercatat 0,394, hanya turun tipis dari Maret 2016 sebesar 0,408.

[Baca juga: Sri Mulyani Targetkan Angka Ketimpangan Tahun Depan Menurun]

Menteri Keuangan Sri Mulyani memastikan pemerintah pada tahun depan akan fokus untuk mengejar pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Seperti diketahui, pada 2018 pertumbuhan ekonomi ditargetkan mencapai 5,4 hingga 6,1 persen.

"Selain mengejar ketertinggalan infrastruktur, kami mendorong belanja sosial karena pengaruhnya positif dan lebih cepat ke kelompok menengah ke bawah," kata Sri Mulyani dalam rapat kerja kerangka makro ekonomi RAPBN 2018 dengan Badan Anggaran DPR, di Kompleks DPR RI, Selasa (6/6).

[Baca juga: Konsumsi Rumah Tangga dan Investasi Penopang Pertumbuhan Ekonomi 2018]

Dalam rapat kerja bersama Banggar DPR tersebut, hadir juga Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro.

Menurut Sri Mulyani, belanja sosial diperlukan karena pemerintah harus memberikan perlindungan kepada 40 persen kelompok menengah ke bawah. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi akan lebih berkualitas dan dirasakan semua kelompok lapisan masyarakat.

[Baca juga: Bank Dunia Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh 5,3 Persen Pada 2018]

"Makanya kami berikan perlindungan ke 40 persen kelompok ekonomi bawah, sehingga address pertumbuhan ekonomi lebih baik," jelasnya.

Sebelumnya, Sri Mulyani menargetkan rasio gini pada tahun depan bisa mmenjadi 0,38. Dan tingkat kesejahteraan masyarakat juga ditargetkan semakin meningkat, tercermin pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang mencapai 71,38.

Sementara itu, Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan angka kemiskinan pada tahun depan ditargetkan bisa menurun menjadi 9-10 persen.

Adapun berdasarkan data BPS per September 2016, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 27,76 juta orang (10,70 persen).

Asumsinya, kata Bambang, adalah pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang tetap terjaga, harga bahan makanan stabil, dan program untuk mengentaskan kemiskinan berjalan dengan baik.

"Kami memperluas konversi dari beras sejahtera jadi layanan nontunai di seluruh kota dan kabupaten. Tidak hanya beras, tapi juga protein seperti telur dan gula," kata Bambang.

Selain itu, Bambang menargetkan angka pengangguran terbuka di Indonesia pada tahun depan juga ditargetkan sebesar 5,1-5,4 persen, terendah sejak 2007.

"Ada kurang lebih 2 juta angkatan kerja baru, kesempatan kerja baru ada 2,3-2,5 juta. Elastisitas per 1 persen pertumbuhan adalah 700 ribu lapangan pekerjaan," ujarnya.