Ahli Wabah UI Nilai Anjing Pelacak Lebih Praktis daripada GeNose Cek COVID-19

kumparanNEWSverified-green

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Layanan tes GeNose di stasiun Foto: Dok. Humas KAI
zoom-in-whitePerbesar
Layanan tes GeNose di stasiun Foto: Dok. Humas KAI

Ahli wabah UI Pandu Riono berpendapat anjing pelacak juga bisa menjadi alternatif Indonesia untuk mendeteksi virus corona. Anjing pelacak dinilai lebih praktis dibanding GeNose karya UGM.

Sebab diketahui saat ini, banyak negara yang tengah mengembangkan opsi tersebut.

"Kita kan punya anjing untuk mendeteksi narkoba, kan. Jadi ada yang punya kelompok anjing pelacak. Polisi juga punya Brimob, jadi perguruan tinggi yang memiliki fakultas kedokteran hewan bisa mengembangkan juga. Di banyak negara (anjing pelacak) ternyata jauh lebih sensitif, penggunaan anjing pelacak itu," jelas Pandu, Jumat (19/3).

"Tapi itu bukan jadi satu-satunya diagnostik, ya. Misalnya ada kerumunan penumpang bandara, kalau anjingnya bisa terlatih untuk mendeteksi orang yang harus tes antigen, itu kan jauh lebih murah daripada semua orang harus dites antigen," lanjutnya.

Pandu bahkan menganggap anjing pelacak lebih praktis dari alat deteksi corona berbasis embusan napas, GeNose, yang dikembangkan UGM. Anjing pelacak dinilai punya intervensi yang lebih rendah dari GeNose.

Polisi dengan menggunakan anjing pelacak bersiap melakukan penyisiran di GPIB Bahtera Hayat Jalan Laksda M Natsir, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (23/12). Foto: Didik Suhartono/ANTARA FOTO

Musababnya kalau memakai GeNose, orang masih harus mengembuskan napas ke alat yang artinya kasus positif akan mengembuskan virusnya ke alat.

Pandu Lebih Percaya Anjing Pelacak

Pandu melanjutkan, GeNose juga masih memerlukan kocek sekitar Rp 30 ribu per orang, tak seperti anjing pelacak yang menurutnya gratis. Ia juga masih ragu dengan tingkat akurasi GeNose.

"Saya tidak percaya sama GeNose, saya lebih percaya sama anjing pelacak. Coba kalau sudah dideteksi anjing positif, apa GeNose juga positif? Nanti kita bandingkan dengan standar PCR dan antigen. Paling penting, (anjing pelacak) tidak ada intervensi kan seperti harus niup atau diambil spesimen, kecuali untuk pelatihan anjing yang diseleksi," kata Pandu.

Seekor anjing pelacak yang dilatih untuk mendeteksi penyakit coronavirus (COVID-19) di tempat-tempat yang sering dikunjungi bekerja, di Bandara Internasional Santiago, Chile, Senin (21/12). Foto: Ivan Alvarado/REUTERS

"Tingkat akurasinya (GeNose) belum akurat. Di beberapa negara yang sistemnya sama dengan GeNose, jadi GeNose tuh bukan eksklusif buatan Indonesia, teknologi itu juga ada yang sama di beberapa negara tapi tidak pernah lolos uji validasi untuk dimanfaatkan," imbuhnya.

Negara Pemakai Anjing Pelacak

Dilansir Reuters, Thailand, Chile, Finlandia, India, dan Jerman adalah sejumlah negara yang tengah mengembangkan anjing pelacak pendeteksi corona.

Thailand mengeklaim anjing pelacak yang mereka latih dapat mendeteksi COVID-19 melalui keringat manusia. Akurasinya bahkan mencapai 95 persen.

Epidemiolog UI, Pandu Riono. Foto: Dok. Pribadi

Penelitian itu melibatkan enam anjing Labrador Retriever dan berlangsung selama enam bulan. Mereka dilatih untuk mengenali sampel keringat dari pasien COVID-19.

Pandu berpendapat pemerintah Indonesia harusnya juga ikut mengembangkan anjing pelacak untuk mendeteksi corona.

"Kan bisa dipakai kalau nanti dibuka konser musik, PON, atau kegiatan-kegiatan yang menghimpun banyak orang. Apa tiap orang harus ditesting, kan enggak? Kalau anjing kan paling keliling-keliling. Jadi kan bisa membantu masa transisi saat kita mulai membuka kegiatan-kegiatan massal atau pariwisata. Enggak mungkin semua orang dites," ujar Pandu.