Alasan Lokalisasi Sunan Kuning di Semarang Ditutup Tahun Depan

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi. (Foto: Kumparan/ Afiati Tsalitsati)
zoom-in-whitePerbesar
Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi. (Foto: Kumparan/ Afiati Tsalitsati)

Pemerintah Kota Semarang memiliki alasan kuat untuk menutup kompleks binaan Argorejo yang berubah dan kini dikenal sebagai lokalisasi Sunan Kuning. Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, menyebut rencana penutupan lokalisasi sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari.

Pria yang akrab disapa Hendi ini mengungkapkan muncul berbagai persoalan di lokalisasi itu, yang membuat kompleks tersebut akan ditutup tahun depan.

"Persoalannya Sunan Kuning itu banyak, yang pertama memang dari hal paling fundamental. Masak kita harus mencari uang dari hasil persoalan (prostitusi) seperti itu. Itu sangat fundamental," ungkap Hendi kepada kumparan, Rabu (12/12).

Alasan kuat lainnya yakni sering terjadinya tindak kriminal di wilayah lokalisasi Sunan Kuning. Mulai dari perkelahian bahkan pembunuhan. Termasuk ada tindak pidana trafficking dan berpeluang tersebarnya virus HIV/AIDS di lokalisasi yang sudah berdiri puluhan tahun itu.

Petugas INAFIS dari Polrestabes Semarang saat terjadi pembunuhan beberapa waktu lalu. (Foto: Afiati Tsalitsati/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Petugas INAFIS dari Polrestabes Semarang saat terjadi pembunuhan beberapa waktu lalu. (Foto: Afiati Tsalitsati/kumparan)

"Kemudian pada saat hal-hal itu (praktek prostitusi) itu beroperasi, banyak hal-hal yang kemudian lebih banyak mudharatnya. Perkelahian, pembunuhan, kemudian trafficking bahkan peredaran dan penularan virus HIV/AIDS. Saya rasa sesuai dengan Keputusan Menteri Sosial, kita sepakat tahun depan di Sunan Kuning harus di tutup," tegasnya.

Politisi PDIP itu kemudian membeberkan data dari Kementerian Kesehatan yang menunjukkan Semarang menjadi kota dengan jumlah penduduk tertinggi yang terserang virus HIV/AIDS di Jawa Tengah, dengan jumlah 1.940 pengidap.

Banyaknya penderita HIV/AIDS menjadi persoalan yang mesti ditangani serius oleh pemerintah. Berkaitan dengan HIV/AIDS, Hendi juga mengajak dan mendukung para pengidapnya untuk berani memeriksakan dirinya.

"Dan melaporkan bahwa dirinya terkena HIV/AIDS supaya memudahkan penanganan. Juga untuk menutup gerak penularan dan penyebarannya. Ini butuh keterbukaan dari para penderita HIV/AIDS," pungkasnya.