Anies Targetkan Banjir Jakarta Surut dalam Waktu 6 Jam

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menargetkan banjir di Jakarta bisa ditangani dalam waktu 6 jam. Namun, sejak Minggu (7/2) sore, hingga pagi ini, Selasa (9/2) sejumlah kawasan di Jakarta masih terendam banjir.
"Bila curah hujan di bawah 100 mm, seharusnya bisa terkelola dengan baik. Bila di atas 100 mm, kita targetkan dalam waktu enam jam harus bisa menanggulangi genangan hingga surut," ujar Anies dikutip keterangan resmi Pemprov DKI.
"Di Jakarta ada 3.000 RW, jadi ketika kita mendengar ada genangan di beberapa wilayah seperti Pejaten dan Kampung Melayu, hampir semuanya dalam waktu kurang dari enam jam terkondisikan dengan baik," lanjutnya.
Sementara itu dia mengatakan, curah hujan bukan satu-satunya penyebab banjir di Jakarta. Setidaknya ada tiga sumber banjir di Jakarta, yakni air hujan lokal, air dari hulu, dan air laut atau rob.
"Apabila permukaan air laut meningkat, maka kawasan yang persis berdempetan dengan pesisir pantai, berpotensi mengalami banjir. Jadi bukan satu-satunya curah hujan, tapi juga ada seperti ketinggian permukaan air laut," jelasnya.
Untuk memantau air dari hulu, kata dia, Pemprov DKI memantau kondisi curah hujan yang ada di kawasan pegunungan dengan tujuan mengukur jumlah volume air yang mengalir ke hilir.
Dia memastikan seluruh jajaran SDA DKI konsisten memantau kondisi Bendung Katulampa, Bogor, Depok, hingga Pintu Air Manggarai, agar koordinasi antar pintu air di Jakarta aman terkendali.
"Kita bersyukur bahwa program gerebek lumpur yang kita jalankan dalam beberapa bulan terakhir telah menunjukkan hasilnya. Di mana saluran-saluran air dalam sistem drainase di Jakarta, sedimentasinya bisa dibersihkan," kata Anies.
"Sehingga bisa mengelola limpahan air hujan dengan lebih baik. Kita tentu tetap waspada karena musim hujan belum selesai, tapi tim kita semuanya bersiap, baik dari pintu Katulampa, Depok, Manggarai, hingga ke semua pintu air lainnya di Jakarta," tuturnya.
Pemprov DKI juga telah menyiagakan pompa-pompa untuk menyedot genangan yang merendam jalan dan permukiman di Jakarta. Penyiagaan pompa juga belajar dari banjir yang terjadi di awal tahun 2020.
"Yang sudah kita kerjakan sejak lama adalah pengerukan waduk-waduk di Jakarta sejak tahun lalu. Kemudian pembersihan sedimentasi di saluran saluran dikerjakan dengan luar biasa. Lalu yang ketiga membangun sumur vertikal untuk drainase, keempat memastikan semua pompa air berfungsi dengan baik," terangnya.
"Karena kita memiliki lebih dari 50 rumah pompa. Kemudian yang kelima adalah pengendalian pintu pintu air, jadi seluruh persiapannya dikerjakan tahun lalu. Hal ini supaya saat musim hujan datang, kita posisinya siaga, dan tanggap," tutupnya.
