Anies Bicara Penanganan Corona DKI: Tes 12 Kali Standar WHO; Siap Vaksin Lansia

kumparanNEWSverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Anies Baswedan menjawab pertanyaan wartawan di acara Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2021. Foto: Dok. Pemprof DKI
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Anies Baswedan menjawab pertanyaan wartawan di acara Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2021. Foto: Dok. Pemprof DKI

Pemprov DKI Jakarta terus berkomitmen mengatasi pandemi virus corona. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pun menyampaikan sejumlah perkembangan terkait penanganan corona.

Mulai dari upaya testing yang sudah 12 kali lipat dari standar WHO, infeksi melandai berkat rem darurat pengetatan pembatasan, hingga komitmen untuk melaksanakan vaksinasi terhadap lansia.

Berikut kumparan merangkum laporan Anies tersebut:

Testing 12 Kali Lipat dari Standar WHO

Petugas medis melakukan rapid tes antigen COVID-19 kepada calon penumpang Kereta Api (KA) di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Senin (21/12). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO

Keseriusan Pemprov DKI dalam menangani pandemi corona, terlihat dari testing yang terus dilakukan. Anies menyebut kemampuan testing di DKI mencapai 12 kali lipat dari standar WHO. Hal ini berdasarkan jumlah orang yang dites setiap pekannya.

"Januari pekan pertama sampai pekan keempat, jumlah orang tes setiap pekan itu di atas 120 ribu. Sementara menurut WHO, 10 ribu testing per minggu ini minimum di Jakarta. Karena penduduk Jakarta 10 juta, sementara harus seribu penduduk per satu juta," kata Anies dalam webinar bersama JMSI, Senin (8/2).

Sementara dalam upaya tracing di Jakarta, Anies mengatakan, saat ini ada 1.500 tenaga tracer di puskesmas. Dari 301 puskesmas, setiap unit terdapat 5 petugas.

kumparan post embed

Kasus Corona di DKI Didominasi Usia 19-30 Tahun

Sebuah bajaj melintasi mural yang berisi pesan waspada penyebaran virus Corona di kawasan Tebet, Jakarta. Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/Reuters

Penularan corona tak memandang usia dan bisa menjangkiti siapa saja. Anies menyebut kasus corona di DKI paling banyak didominasi usia 19 sampai 30 tahun.

"Yang paling banyak sampai 3 Februari penduduk usia 19 sampai 30 tahun. Lalu makin tinggi usianya makin kecil jumlah kasus. Nah di sisi lain klaster terbesar adalah klaster keluarga 41 persen," kata Anies, Senin (8/2).

Sementara untuk kasus kematian terjadi pada warga berusia tua. "Jadi kira-kira begini kalau narasi, yang muda interaksi di luar bawa COVID kemudian tularkan ke yang tua, yang paling menderita yang tua," ucap Anies.

Oleh karena itu, Anies meminta anak muda untuk menahan diri tidak bepergian jika tak mendesak. Agar terhindar dari potensi membawa virus dan menularkannya ke kelompok lansia.

kumparan post embed

Siapkan 100 Tenda Pengungsi Banjir Khusus COVID-19

Petugas menggunakan perahu karet mengevakuasi warga yang rumahnya terendam banjir di Kawasan Rawajati, Kalibata, Jakarta, Senin (8/2). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO

Ancaman banjir di tengah pandemi corona kini menjadi perhatian serius Anies dan jajarannya. Mitigasi terhadap banjir pun terus dilakukan, termasuk menyiapkan skema dan fasilitas sesuai dengan protokol kesehatan untuk evakuasi warga terdampak banjir.

Anies menyebut sudah disiapkan lebih dari 100 tenda pengungsian banjir khusus untuk orang dengan permasalahan COVID-19. Tenda khusus ini dibuat seperti bilik-bilik untuk memberi batas pada setiap pengungsi.

"Jadi tandanya ada bilik-biliknya. Jadi bila ada pengungsian apakah karena banjir, bencana alam, sudah ada lebih dari 100 tenda yang bisa untuk penanganan COVID-19. Jadi itu salah satu yang khas," tuturnya.

kumparan post embed

Krisis Pandemi Corona sebagai Perubahan yang Dipercepat

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tiba di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (17/11). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO

Anies memastikan pihaknya terus berupaya dalam mengatasi pandemi corona. Menurutnya, menyikapi krisis kesehatan ini sebagai perubahan yang cepat. Sehingga dibutuhkan adaptasi dalam segala upaya.

"Dalam situasi krisis, dalam situasi di mana terjadi perubahan yang amat cepat. Kami sering mengistilahkan di antara kita di DKI kami sering sebutkan bahwa kita sebutnya krisis tapi sesungguhnya ini perubahan yang dipercepat jadi kalau melihat krisis ini sebutlah sebagai accelerated changes itulah krisis," kata Anies.

Anies memastikan pemerintah harus bergerak cepat untuk mengatasi krisis pandemi corona. Kebijakan yang diambil pun tidak biasa, karena krisis ini berbeda dengan bencana alam.

kumparan post embed

Kasus Melandai Berkat Pengetatan

Warga menggunakan masker dan pelindung wajah saat menggunakan KRL dari stasiun Bogor. Foto: Adek Berry/AFP

Anies mengungkapkan, kasus aktif corona di Jakarta saat ini sebanyak 23 ribu kasus. Tren penambahan kasus di Jakarta kerap terjadi selama musim libur panjang atau long weekend.

Namun berkat rem darurat memperketat PSBB beberapa waktu lalu, Anies menyebut kurva kasus corona mulai melandai. Namun tidak bisa langsung terlihat karena butuh waktu.

"Kebijakan COVID perlu waktu buat lihat dampak. Beda sama musim hujan kita tutup pintu air saat itu juga berubah alirannya. Kalau pandemi perlu waktu 2 mingguan untuk sebuah kebijakan terlihat dampaknya," jelasnya.

kumparan post embed

Penjelasan Anies soal RS di DKI Sering Penuh

Petugas menggunakan pakaian pelindung lengkap melakukan pengecekan fasilitas diruang isolasi bagi pasien suspect COVID-19. Foto: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso

Ketersediaan tempat tidur bagi pasien corona di DKI kerap dikeluhkan masyarakat karena selalu penuh. Padahal jumlah RS rujukan COVID-19 di DKI sudah sebanyak 106.

Anies Baswedan menjelaskan tak semua rumah sakit rujukan 100 persen melayani pasien COVID-19, namun juga melayani pasien dengan penyakit lain.

Bila ruangan untuk pelayanan pasien COVID-19 sudah penuh, maka rumah sakit akan mengumumkan penuh. Tapi bukan dalam artian semua ruangan penuh, melainkan hanya ruang pelayanan pasien COVID-19.

"Karena 1 rumah sakit itu ketika ikut dalam jaringan COVID-19 dia harus konversi. Misal 1 rumah sakit 200 tempat tidur. Kalau rumah sakitnya hanya konversi 20 persen atau 40 tempat tidur, bila 40 penuh akan diumumkan sebagai penuh. Jadi bukan rumah sakit penuh tapi jatah buat COVID-19 yang penuh," jelas Anies.

Selain itu, Anies juga sudah berkoordinasi dengan RS swasta agar 50 persen kapasitasnya untuk melayani pasien COVID-19.

kumparan post embed

Lonjakan Corona Bahaya Bukan Liburnya tapi Bepergian Bersama

Sejumlah wisatawan keluar dari kendaraanya menunggu kemacetan reda akibat buka tutup jalan Puncak, Gadog, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (28/10). Foto: Yulius Satria Wijaya/ANTARA FOTO

Anies menganggap hari libur sebenarnya tidak berbahaya dalam penularan virus corona. Namun yang menjadi masalah adalah bepergian di momen liburan, apalagi yang dilakukan bersama-sama.

"Yang menarik bukan liburnya tapi bepergian bersama. Begitu libur warga Jakarta banyak liburan sekeluarga dan naik mobil artinya semobil bisa lima orang lebih," kata Anies.

Menurutnya, masyarakat yang pergi dengan satu mobil namun diisi banyak orang rawan penularan. Apalagi berada di satu tempat tertutup dalam waktu yang lama.

"Bayangkan ada 400 ribu mobil dan di dalamnya ada anak-anak muda terpapar ikut punya potensi penularan tinggi. Itu sebabnya liburan kasus naik," terangnya.

kumparan post embed

Kasus Aktif Corona Harus Diperhatikan, Total Kasus Tak Penting

Petugas yang mengenakan kostum berbentuk virus corona membawa poster saat sosialisasi penggunaan masker di kawasan Sarinah, Jakarta. Foto: Wahyu Putro A/Antara Foto

Total kasus positif corona di DKI sudah mencapai lebih dari 290 ribu, dengan kasus aktif 23 ribu. Namun Anies merasa hal yang harus menjadi perhatian adalah kasus aktif, bukan total kasus positif.

"Jadi kasus aktif, orang yang terdeteksi positif tapi belum sembuh. Dia dalam penanganan. Ini 23 ribu. Artinya yang harus kita perhatikan kasus aktif bukan kasus total. Kasus total (di Jakarta) 293 ribu," kata Anies.

Menurutnya, total kasus juga terdiri dari kasus-kasus yang telah sembuh sejak awal pandemi sehingga sudah tak menjadi masalah saat ini.

"Itu termasuk kasus Maret tahun lalu, April tahun lalu, Mei tahun lalu. Yang sudah enggak penting lagi. Sudah selesai. Yang penting berapa kasus aktif, tapi kebanyakan teman-teman kasus baru kasus total sudah akumulatif 9 bulan," terangnya.

Anies Siap Vaksinasi Lansia karena Keputusan Medis Bukan Politis

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meninjau vaksinasi corona di pendopo Balai Kota Jakarta, pada Jumat (15/1). Foto: Pemprov DKI Jakarta

Sejalan dengan keputusan Kemenkes untuk vaksinasi corona pada lansia, Anies mengaku siap menjalankannya. Menurut Anies, keputusan ini sudah berdasarkan hasil medis dan izin BPOM.

"Kami merujuk ke sana, apabila BPOM izinkan dan IDI rekomendasikan, maka kami di pemerintahan siap untuk laksanakan," kata Anies.

Dia menjelaskan, keputusan terkait pengobatan, termasuk vaksinasi, di Jakarta akan selalu merujuk pada keputusan medis dan tak akan ada kepentingan politis di dalamnya.

"Kalau kami selalu merujuk pada ahlinya (medis). Bila sebuah treatment dibuat maka itu harus keputusan medis, bukan keputusan politis. Bila langkah vaksinasi dilakukan maka harus dilakukan juga harus keputusan medis dan ini rujukan BPOM, IDI," tegasnya.

kumparan post embed