Aturan Baru Pasangan di China: Mudah Menikah, Sulit Bercerai
·waktu baca 2 menit

Pemerintah China sedang menggodok aturan baru demi menyelamatkan populasi penduduknya yang makin merosot. Nantinya warga China akan mudah menikah, tapi sulit bercerai.
Pada pekan ini Kementerian Urusan Sipil China merilis rancangan undang-undang yang disebut: "Masyarakat Ramah Keluarga". Warga China dimintai pendapatnya perihal rancangan aturan baru itu sampai 11 September 2024.
Apa yang dilakukan Kementerian Urusan Sipil China menjadi trending topic di kalangan pengguna media sosial di China.
Itu dipicu kebijakan ini keluar setelah dua tahun berturut-turut populasi China menunjukkan penurunan. Sejumlah pemangku kepentingan di China bahkan berulang kali mendorong muda-mudi untuk berkeluarga dan memiliki anak.
Dalam rancangan UU itu, jika disahkan maka pembatasan pendaftaran pernikahan di lokasi rumah tangga pasangan terdaftar akan dihapuskan.
Sedangkan untuk perceraian setiap pasangan akan diberi waktu selama 30 hari. Bila salah satu pasangan menolak bercerai maka permohonan perceraian gugur.
Aturan baru ini ternyata direspons negatif. Salah satu postingan yang menyebut aturan mudah menikah sulit bercerai adalah hal bodoh mendapat puluhan ribu like di Weibo.
Menurut profesor dari Institut Studi Pembangunan dan Populasi Universitas Xi'an Jiantong, Jiang Quanbao, aturan baru ini ditujukan untuk mempromosikan pentingnya pernikahan dan keluarga.
"(Juga untuk) mengurangi perceraian impulsif, menegakkan stabilitas sosial, dan lebih melindungi hak-hak sah pihak yang terlibat," ujar Jiang seperti dikutip dari Reuters.
Sampai pertengahan 2024 ini jumlah pasangan di China yang menikah turun sebesar 498 ribu. Angka pernikahan di China tercatat hanya 3,43 juta — penduduk China sekitar 1,4 miliar jiwa.
Angka pernikahan itu merupakan yang terendah sejak 2013. Pernikahan adalah syarat utama di China untuk memiliki anak agar mendapat tunjungan dari pemerintah.
Data resmi menunjukkan anak muda di China memilih menunda pernikahan. Faktor seperti keamanan pekerjaan sampai tingginya biaya hidup mendorong semakin sedikitnya pasangan di China yang menikah.
