Berantas Narkoba, Rio de Janeiro Bak Medan Perang: Mayat Bergelimpang

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Anggota unit khusus polisi militer menangkap tersangka pengedar narkoba selama operasi polisi melawan perdagangan narkoba di favela do Penha, di Rio de Janeiro, Brasil (28/10/2025). Foto: Aline Massuca/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Anggota unit khusus polisi militer menangkap tersangka pengedar narkoba selama operasi polisi melawan perdagangan narkoba di favela do Penha, di Rio de Janeiro, Brasil (28/10/2025). Foto: Aline Massuca/REUTERS

Permukiman kumuh di Rio de Janeiro berubah menjadi medan perang. Polisi bersenjata lengkap meluncurkan serbuan mematikan terhadap pengedar narkoba di sana.

Dalam operasi itu polisi menurunkan 2.500 anggota bersenjata lengkap. Mereka juga mengerahkan kendaraan lapis baja, helikopter hingga drone. Sasaran utamanya pengedar narkoba utama di Rio de Janeiro yang berada di dua kawasan kumuh atau dikenal favelo, sebelah utara kota tersebut.

Operasi ini digelar jelang pelaksanaan KTT COP30 yang membahas situasi perubahan iklim. Sejumlah pemimpin negara, selebriti sampai atlet ternama di dunia dijadwalkan hadir pada KTT COP30 yang digelar 10 sampai 21 November 2025 di Brasil.

Saat serbuan polisi berlangsung berbagai laporan mengungkap soal terdengarnya letupan senjata di sekitar bandara. Bahkan pada Selasa sore api terlihat di sejumlah titik di Rio de Janeiro.

Klaim kepolisian para pengedar narkoba membalas dengan menyerang menggunakan drone. Imbasnya warga terpaksa mencari tempat perlindungan dan menutup sejumlah bisnisnya.

Gubernur Rio de Janeiro, Claudio Castro, mengakui penggerebekan ini merupakan terbesar sepanjang sejarah negara bagian tersebut.

“Sebanyak 60 anggota geng tewas,” kata Castro seperti dikutip dari AFP.

Sumber kantor berita AFP mengungkap serbuan maut ini juga menewaskan sebanyak empat anggota kepolisian.

kumparan post embed

81 Orang Ditangkap

Sejumlah tersangka pengedar narkoba duduk di tanah setelah ditahan oleh anggota unit khusus polisi militer pada operasi melawan perdagangan narkoba di favela do Penha, Rio de Janeiro, Brasil, Selasa (28/10/2025). Foto: Aline Massuca/REUTERS

Sebanyak 81 orang ditangkap dalam operasi yang menargetkan geng Red Command tersebut. Gubernur Negara Bagian Rio, Claudio Casatro, mengatakan polisi juga mengamankan 93 senapan dan lebih dari setengah ton narkoba.

Situasi di Rio de Janeiro mencekam saat operasi berlangsung. Dalam rekaman video yang beredar di media sosial, terlihat api dan asap mengepul dari kedua favela yang jadi lokasi penggerebekan.

Sementara media lokal melaporkan terduga anggota geng memblokir jalan di wilayah utara dan selatan Rio sebagai respons atas penggerebekan itu.

Kementerian Pendidikan memutuskan menutup 46 sekolah di dua favela itu. Kelas malam di Federal University of Rio de Janeiro ditutup dan mahasiswa diminta untuk mencari tempat berlindung.

kumparan post embed

Lebih 40 Mayat Terlihat di Jalanan

Sejumlah warga menyaksikan anggota polisi militer membawa jenazah korban yang tewas pada operasi melawan perdagangan narkoba di favela do Penha, Rio de Janeiro, Brasil, Selasa (28/10/2025). Foto: Aline Massuca/REUTERS

Usai penggerebekan tersebut atau pada Rabu (29/10), terdapat lebih dari 40 mayat terlihat di jalanan kawasan kumuh Rio de Janeiro.

Berdasarkan kesaksian sejumlah warga, jenazah-jenazah itu sengaja dibawa oleh warga setempat ke jalanan. Mereka mencari kerabat dan saudara yang hilang saat penggerebekan.

Belum diketahui apakah mayat-mayat yang berada di jalan tersebut merupakan bagian dari 60 korban tewas yang sebelumnya telah dilaporkan.

kumparan post embed