Bertemu 8 Januari, Singapura-Malaysia Bahas Sengketa Wilayah Udara

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bendera Malaysia dan Singapura. (Foto: PixaBay)
zoom-in-whitePerbesar
Bendera Malaysia dan Singapura. (Foto: PixaBay)

Perwakilan Malaysia dan Singapura dijadwalkan bertemu pada 8 Januari 2019 mendatang. Pertemuan ditujukan untuk menyelesaikan sengketa wilayah udara antar dua negara itu.

Nantinya, pada pertemuan tersebut Malaysia akan dipimpin Menteri Luar Negeri Saifuddin Abdullah. Sementara Singapura diwakili Menlu Vivian Balakrishnan.

Saifuddin menjelaskan, pertemuan pekan depan merupakan lanjutan dari pertemuan antara Perdana Menteri Mahathir Mohamad dan Wakil PM Singapura Teo Chee Hean di Putrajaya, Senin (31/12) lalu.

"Lawatan saya ke Singapura adalah tindak lanjut dari pertemuan kemarin. Ada beberapa isu yang akan dibahas. Namun, yang perlu mendapat perhatian cepat soal rencana Singapura terkait Seletar Airport mempengaruhi wilayah udara kami di Pasir Gudang, Johor," ucap Saifuddin, seperti dikutip dari The Star, Selasa (1/1).

Ilustrasi Singapura (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Singapura (Foto: Pixabay)

"Kami protes dan mengumumkan bahwa wilayah udara kami adalah area terbatas, dan ini akan menjadi masalah bagi Singapura. Saya yakin, masalah ini akan didiskusikan dengan baik dan akan pula menemukan win-win solution untuk kedua negara," sambung dia.

Dia menambahkan, yang diinginkan Malaysia adalah Singapura membatalkan rencana pembangunan instrumen sistem pendaratan dan mengubah jalur udara di Bandar Udara Selatar. Menurut Saifuddin rencana Singapura itu mengganggu kedaulatan Malaysia.

Selain pertikaian wilayah udara, Malaysia dan Singapura juga terlibat sengketa maritim. Singapura mempermasalahkan rencana Malaysia memperlebar pelabuhan di Johor Bahru.

Terkait pertemuan dengan Malaysia, pada Desember lalu Menteri Transportasi Singapura Khaw Boon Wan menyatakan negaranya siap berunding.

"Kami siap untuk berbicara. Kami akan berdiskusi dan bernegosiasi dalam sebuah keyakinan besar. Kami harap kebenaran akan menang," kata Khaw.