Bobby Nasution, Menantu Jokowi, Bukan Sosok Istimewa: Pilwalkot Medan Bakal Seru

kumparanNEWSverified-green

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bobby Nasution sambangi Fraksi Gerindra di DPR. Foto: Rafyq Panjaitan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Bobby Nasution sambangi Fraksi Gerindra di DPR. Foto: Rafyq Panjaitan/kumparan

Pilwalkot Medan menjadi momen paling menarik bagi sejumlah pihak untuk terus diikuti. Bagaimana tidak, meski belum ada penetapan resmi, tapi sudah bisa diprediksi petahana Akhyar Nasution akan bersaing dengan menantu Presiden Joko Widodo Bobby Nasution.

Menariknya, Akhyar kini mendapatkan dukungan dari dua partai oposisi yaitu Demokrat dan PKS. Sementara, lawannya mendapatkan dukungan dari partai-partai pemilik suara besar yang membentuk koalisi seperti Golkar dan Gerindra. Belakangan, PDIP cenderung mendukung Bobby.

Pengamat Politik Adi Prayitno menyebut pillwakot Medan nanti akan cukup dinamis. Sebab, dukungan koalisi partai oposisi pada sang petahana dianggap mampu memberikan keuntungan.

Di sisi lain, dia menyebut keberadaan Bobby Nasution sebagai menantu Jokowi rupanya tidak memberikan keistimewaan apa pun.

"Ya artinya menantu Jokowi tidak terlampau punya keistimewaannya dalam tanda kutip ya di kota Medan. Artinya masih ada perlawanan di dua partai yang relatively serius gitu. Apalagi yang dimajukan adalah Akhyar Nasution gitu. Dia juga adalah politisi PDIP yang akhirnya tak diusung, dan kini PKS dan Demokrat," kata Adi kepada kumparan, Sabtu (25/7).

"Jadi ini seru, dia (Akhyar) juga petahana yang didukung PKS-Demokrat yang relatively sering bersama dan berseberangan misalnya dengan PDIP," lanjutnya.

Bobby Nasution saat mendaftarkan diri menjadi kader PDIPPerjuangan. Foto: Dok. Istimewa

Tak hanya itu, dia pun menilai Pilkada Medan akan sangat berbeda dengan pilkada Solo yang dikuti putra sulung Jokowi, Gibran Rakabuming. Jika di Solo, dinilai Gibran akan gampang untuk memenangkan pilkada, namun jauh berbeda dengan kondisi di Medan. Hal itu pun yang akan dialami Bobby Nasution.

"Karena selain melawan petahana harus juga melawan soliditas Demokrat-PKS yang memang kuat di Medan. Beda dengan di Solo. Kalau di Solo beda ceritanya. Lebih mudah lah Mas Gibran memenangkan," ujarnya.

Sejauh ini, Adi menyebut meski hanya dua partai yang mendukung Akhyar namun hal itu dianggap cukup. Sebab, dalam pilkada sosok figur jauh lebih dilihat masyarakat. Apalagi yang bersangkutan juga saat ini tengah menjabat sebagai Plt Wali Kota Medan.

"Demokrat-PKS cukup. Pertama syarat mendaftar di KPU Medan. Kalau di pilkada juga yang dilihat bukan pilkada lagi. Tapi bagaimana sosok figur yang bertarung ini. Sejauh mana mereka meyakinkan pemilih dan mencoblos kandidat mereka," ujarnya.

"Kan banyak contoh kasusnya bahwa dukungan sedikit partai itu kan banyak juga. Ya di Jakarta misalnya Anies PKS-Gerindra menang. Di Jabar RK kan diusung partai kecil," tambahnya.

Sebelumnya, Ketua Bappilu Demokrat Andi Arief menyebut di pilwalkot medan mereka akan melawan koalisi raksasa pendukung menantu Presiden Jokowi.

"Pilkada Kota Medan 2020, sah. Koalisi Rakyat (Demokrat-PKS) menghadapi koalisi raksasa pendukung mantu Pak Presiden Jokowi," tulis Andi Arief dalam Twitternya.