Cerita Ibu Jalani Karantina COVID-19 di Asrama Haji Bersama Keluarga dan Bayinya

kumparanNEWSverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Masker. Foto: Indra Fauzi/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Masker. Foto: Indra Fauzi/kumparan

Pemerintah memberlakukan karantina untuk WNI yang tiba dari luar negeri melalui Bandara Soekarno Hatta. WNI yang baru tiba akan menjalani prosedur tes COVID-19.

Sambil menunggu hasil tes, mereka dikarantina di sejumlah tempat yang disediakan, yakni Asrama Haji Pondok Gede, Asrama Haji Bekasi dan Wisma Atlet.

Salah satu WNI yang menjalani karantina di Asrama Haji adalah Soraya. Dia dan keluarganya baru pulang dari Hongkong. Soraya bersama suami dan dua orang anaknya yang berusia 6 tahun dan 9 bulan tiba di Bandara Soekarno Hatta pada 13 Mei 2020. Soraya dan keluarga pulang bukan untuk mudik, melainkan project suaminya di Hongkong sudah selesai.

Petugas memeriksa kesehatan calon penumpang di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (15/5). Foto: ANTARA FOTO/Fauzan

Setelah di tiba di Bandara, Soraya dan keluarga harus melalui sejumlah proses pendataan hingga akhirnya tiba di Asrama Haji Bekasi. Saat itu, Soraya sempat mempertanyakan kepada petugas mengenai protokol isolasi mandiri untuk anak-anak dan bayi, namun petugas tetap menyarankan anak-anaknya ikut karantina bersama orang tua.

“Dari awal yang saya perjuangkan bukan saya meminta fasilitas memadai. Saya pertanyakan soal karantina anak dan bayi, itu yang saya perjuangkan, bukan meminta fasilitas walau kenyataannya fasilitasnya kurang persiapan, tapi saya tidak menyalahkan petugas di lapangan, karena kata petugas itu maksimal yang sudah mereka lakukan,” kata Soraya saat dikonfirmasi kumparan, Rabu (20/5).

Petugas medis beraktivitas di salah satu ruangan di Rumah Sakit Haji Pondok Gede, Jakarta, Rabu (13/5). Foto: ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Dia dan suami juga menyiapkan kebutuhan karantina sendiri, mulai dari kipas angin, peralatan mandi, hand sanitizer hingga makanan untuk bayinya yang masih berusia 9 bulan. Petugas baru memberikan family hygine kit untuknya sehari sebelum kepulangan.

"Saya lelah secara psikologis, saya cari info ke sana ke sini tidak ada jawaban, terakhir yang saya punya info soal protokol kesehatan untuk anak ya kan anak bisa isolasi mandiri, itupun saya ajukan," katanya.

Namun permohonan isolasi mandiri yang diajukan Soraya ditolak. Dokter yang bertugas meminta agar dia dan keluarga bersabar dan tetap menjalani karantina di asrama selama 3 hari sambil menunggu hasil swab.

Tiga hari yang dijanjikan itu ternyata molor. Soraya dan keluarga harus menjalani karantina selama enam hari. Ia baru mendapat hasil swabnya pada hari Senin (18/5) jelang dipulangkan.

“Asumsi kita hari pertama karantina langsung swab (13/5) , ternyata enggak, hari kedua enggak juga tapi sempat dengar ada yang di swab, kami kebagian hari Jumat (15/5),” lanjutnya.

kumparan post embed

Soraya berharap ke depannya pemerintah bisa lebih memberikan sosialisasi untuk WNI yang akan pulang ke Indonesia, terutama peraturan mengenai anak dan balita yang harus mengikuti karantina.

“Sebenarnya kalau peraturan itu sosialisasinya meluas, koordinasinya sudah oke, kami bisa dari Hongkong mempersiapkan semuanya, saya bawa health certificate biasa, karena harus yang membuktikan hasil PCR negatif yang biasa ini enggak dianggap," tambahnya.

Hasil swab tes Soraya dan keluarganya negatif, saat ini ia bersama suami dan kedua anaknya sudah kembali ke rumah dalam keadaan sehat.

"Kami sekeluarga akhirnya pulang setelah hasil swab kami negatif, begitupun sekitar 200 teman-teman PMI lainnya dari Hongkong dan Taiwan yang dikarantina di Asrama Haji Bekasi, semua hasil swab nya negatif. Alhamdulillah," pungkasnya.

kumparan masih berusaha melakukan konfirmasi ke pihak terkait namun belum mendapat balasan.

***

Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona

***

Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.