Cerita Nurhadi saat Selamatkan Satu Keluarga yang Dianiaya di Depok

Keheningan pagi buta di Curug, Bojongsari, Sawangan, Depok, pada Jumat (10/1) mendadak pecah. Pukul 03.30 WIB, Fadli, seorang anak berusia 11 tahun, berlari tergopoh-gopoh. Ia mengetuk rumah milik Nurhadi, pedagang kopi di depan SMAN 10 Depok.
Istri Nurhadi membuka gorden. Ia terkejut melihat Fadli. Darah ada di kepala dan bajunya.
"Fadli datang, tangannya kiri megang tangan satunya. Kepalanya darah semua, di rambut, kepala, baju. Ia bilang, Pak tolongin Pak, bapak, ibu dan adik saya dipukulin orang," cerita Nurhadi (49) saat ditemui kumparan di kediamannya, Jalan Curug, Bojongsari, Depok, Sabtu (11/1).
Nurhadi jadi saksi, kisah penganiayaan keluarga Fadli di Depok itu. Ayah Fadli, Sumitro (45) serta ibunya, Zuleha (40), dan adiknya, Fikri (4), juga mengalami hal serupa.
Nurhadi lantas keluar, ia ketakutan dan mengajak ketua RT 6, Nata untuk menuju ke kediaman Sumitro. Dalam perjalanan keluar rumah, ia mendapati Sumitro telah menggelepar tak berdaya di bale warungnya.
Nurhadi kian panik. Langkah ia percepat menuju rumah Gubuk Sumitro, yang terletak di belakang SDN 02 Curug.
"Waktu saya datang, pelaku sudah kabur. Pintu terbuka, darah ada dimana-mana. Istrinya Sumitro, Zuleha ada di kasur. Anaknya yang paling kecil juga. Udah semua sudah berlumur darah di kepala," kata Nurhadi.
Saat kumparan mengunjungi kediaman Sumitro pada Sabtu siang, jejak darah masih terlihat dari pintu yang menganga.
Bersama Nata, Nurhadi kemudian pergi menuju kediaman menantu dari Nata. Dipinjamlah sebuah mobil untuk mengantar Sumitro sekeluarga ke RSUD Depok.
"Saya sudah enggak bisa berpikir apa-apa, Sumitro dan istri, saya letakkan di belakang. Anaknya yang paling kecil di depan. Dia udah benjut (lebam) di kepala, juga di belakang kepala, sudah enggak karuan," kata Nurhadi.
Nurhadi tak bisa menanyakan kepada Sumitro, apa yang sebenarnya terjadi. Saat diselamatkan Nurhadi, Sumitro hanya dapat merintih kesakitan.
"Dia masih sadar, tapi saya enggak kebayanglah untuk tanya. Saya bawa langsung ke rumah sakit," kata Nurhadi.
Nurhadi tak menyangka hal ini bisa terjadi ke keluarga kecil milik Sumitro yang merupakan salah satu kawannya. Nurhadi mengaku sering berkunjung ke gubuk Sumitro untuk melepas lelah.
"Rumahnya kan enak itu ya, ngadem, dikelilingi tanaman, jadi enak buat ngobrol," ujar Nurhadi.
Menurut Nurhadi, Sumitro adalah sosok yang mandiri. Ia memilih mendirikan rumah di tanahnya sendiri, meski sudah memiliki rumah pemberian orang tuanya.
Bekerja di Bengkel dan Miliki Usaha Tanaman
Sehari-hari Sumitro bekerja di sebuah bengkel sepeda motor, tak jauh dari rumahnya. Oleh Nurhadi, Sumitro dikenal sebagai orang yang sangat baik hati.
"Kalau saya servis motor, dia enggak matok harga. Dia selalu bilang, terserah abang aja, atau seikhlasnya," ucap Nurhadi.
Selain itu, Sumitro juga berdagang tanaman. Memang, saat kumparan mengunjungi rumah Sumitro, ada beberapa tumbuhan siap tanam terletak di sisi kiri kediaman Sumitro.
"Kita tahunya jualan tanaman kembang gitu aja, yang di samping punya dia, yang di bawah punya adiknya," kata Nurhadi.
Nurhadi tidak tahu menahu soal pesaing bisnis milik Sumitro. Sumitro cenderung tertutup soal masalah pribadi.
"Dia baik orangnya, enggak neko-neko, cuma kalau ada masalah dia cenderung tertutup orangnya. Kita tidak tahu jadinya," tutup Nurhadi.
Sampai saat ini, keluarga Sumitro masih dirawat di RSUD Depok. Nurhadi belum sempat membesuk Sumitro, ia juga belum mendapat kabar dari rekannya itu.
Sementara itu, Sumitro dan keluarganya mengalami luka di bagian kepala. Polisi menduga, luka penganiayaan diakibatkan dari benda tumpul.
