Corona di Jakarta Tinggi, Jam Malam dan Rapid Antigen Diusulkan Diperpanjang

6 Januari 2021 10:34 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Suasana di Mal Pelayanan Publik DKI Jakarta saat dibuka kembal di masa PSBB transisi. Foto: Dok. DPMPTSP DKI.
zoom-in-whitePerbesar
Suasana di Mal Pelayanan Publik DKI Jakarta saat dibuka kembal di masa PSBB transisi. Foto: Dok. DPMPTSP DKI.
ADVERTISEMENT
Pemprov DKI Jakarta memperpanjang PSBB transisi hingga 17 Januari di tengah tingginya kasus corona di Jakarta. Fraksi PSI DPRD DKI Jakarta menilai perlu ada pengetatan aturan selama PSBB transisi, utamanya usai libur Natal dan Tahun Baru.
ADVERTISEMENT
Ketua Fraksi PSI Jakarta Idris Ahmad mengatakan masa pascalibur akhir tahun merupakan masa kritis. Menurutnya, Pemprov DKI harusnya memperpanjang penerapan aturan ketat yang berlaku pada liburan Natal dan Tahun Baru pada PSBB Transisi hingga 17 Januari mendatang.
Pengetatan aturan ini seperti pembatasan jam malam dan kewajiban untuk melakukan rapid test antigen bagi yang keluar masuk wilayah Jakarta. Sebab saat ini, menurutnya, kasus corona aktif di Jakarta cukup tinggi. Terbukti dari penuhnya fasilitas kesehatan di Jakarta.
Ketua Fraksi PSI DPRD DKI Jakarta Idris Ahmad di DPRD DKI Jakarta, Rabu (13/11). Foto: Darin Atiandina/kumparan
“Penambahan kasus aktif mendesak ditangani saat ini Jakarta sudah kewalahan. Tingkat keterisian ICU sudah mencapai 79 persen, keterisian ranjang isolasi sudah mencapai 87 persen. Daya tampung RSD Wisma Atlet juga nyaris penuh, hingga harus menolak pasien OTG. Ini membuktikan bahwa Jakarta sudah kesulitan menangani pertambahan kasus aktif yang sudah ada,” ujar Idris melalui keterangannya, Rabu (6/1).
ADVERTISEMENT
Dalam pengetatan libur Natal dan Tahun Baru, Pemprov DKI memang membatasi operasional segala jenis usaha pariwisata dan ekonomi kreatif, seperti restoran hingga hotel, hanya sampai pukul 19.00 WIB.
Lonjakan, kata dia, juga terlihat dari jumlah RW rawan di Jakarta yang bertambah seiring dengan klaster keluarga yang juga terus meningkat. Kondisi ini menurutnya menunjukkan adanya penularan yang besar di Jakarta.
Ilustrasi Jakarta - Pengendara melintas dengan latar belakang gedung-gedung bertingkat di kawasan Jakarta Pusat, Sabtu (2/1/2021). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO
“Ini menunjukkan Jakarta tengah mengalami penularan yang sangat masif, anggota keluarga yang hanya sesekali keluar rumah dapat menularkan virus di rumah,” kata Idris.
Dia meminta Pemprov DKI untuk terus mengingatkan bahwa pandemi corona masih ada dan terus mengancam kesehatan warga masyarakat. Selain edukasi penerapan 3M (menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak), pelaksanaan praktik 3T (Tracing, Testing, Treatment) harus terus ditingkatkan.
ADVERTISEMENT
Upaya pendekatan ke masyarakat menurutnya bisa melibatkan paguyuban seperti PKK dan Jumanatik. Bisa juga melalui pesan daring dan iklan informasi di koran dan televisi sehingga isu COVID-19 selalu terngiang di kepala warga.
”Harus sama-sama dilakukan, masyarakat melaksanakan 3M dan pemerintah meningkatkan 3T, tidak boleh putus harus terus dilakukan selama pandemi ini berlangsung,” tambahnya