Data Kemarin: Kematian COVID-19 RI Tertinggi di Dunia, Kasus Tertinggi Kedua
ยทwaktu baca 3 menit

Pandemi COVID-19 di Indonesia belum terlihat ada tanda-tanda akan berakhir. Situasi gawat terlihat pada pekan lalu, saat kasus positif corona konsisten berada di angka 40-50 ribu, hingga mencatatkan rekor tertinggi pada 15 Juli dengan 56.757 kasus.
Pada awal pekan ini, Senin (19/7) kemarin, penambahan kasus positif corona memang menurun jadi 34.257 orang dalam 24 jam terakhir.
Penurunan ini terjadi karena jumlah spesimen yang diperiksa juga lebih sedikit, yakni 160.686 spesimen, dikarenakan sejumlah laboratorium tutup pada akhir pekan.
Namun, apakah ini artinya jumlah kasus harian Indonesia menunjukkan tanda-tanda membaik jika dibandingkan negara-negara lain? Kenyataannya tidak, karena Indonesia mencatatkan penambahan kasus terbanyak kedua di dunia kemarin, tepatnya di bawah Inggris.
Worldometers mencatat Inggris menjadi negara dengan kasus harian positif COVID-19 terbanyak pada Senin kemarin, dengan total 39.950 orang. Sedangkan Indonesia 34.257 orang, diikuti India dengan 29.424 orang.
Kasus Harian Kematian Indonesia Jauh di Atas Inggris
Kabar buruknya, Indonesia kemarin menjadi negara dengan kasus kematian tertinggi di dunia. Dengan tambahan 1.338 kematian baru, total sudah 74.920 jiwa yang meninggal akibat virus corona.
Bagaimana dengan Inggris? Meski kenaikan kasus positifnya tertinggi, hal sebaliknya terjadi pada kasus kematiannya. Inggris mencatatkan 19 kasus kematian baru dalam sehari, sehingga totalnya menjadi 128.727 jiwa.
Meski begitu, total kasus positif COVID-19 Indonesia masih berada jauh di bawah Inggris. Indonesia mencatatkan 2.911.733 kasus, sedangkan Inggris 5.473.477 orang.
Namun, jika pemerintah RI tidak menggencarkan penanganan pandemi dengan lebih masif dan ketat, bukan tak mungkin Indonesia bisa menyalip Inggris.
Perbedaan Situasi Penanganan COVID-19 di RI dan Inggris
Sejumlah provinsi di Indonesia saat ini tengah memberlakukan PPKM Darurat akibat merebaknya varian Delta. Berbagai upaya dilakukan demi menekan laju penyebaran COVID-19, seperti 100 persen WFO kecuali sektor esensial dan kritikal, penutupan pusat perbelanjaan dan mal, restoran tak diperbolehkan makan di tempat, pembatasan penumpang di transportasi umum hingga tempat ibadah, termasuk penyekatan.
Rencananya, PPKM Darurat akan berakhir hari ini, namun pemerintah hingga Senin siang belum memutuskan apakah akan memperpanjangnya atau tidak.
PPKM Darurat Jawa-Bali sudah berjalan selama dua pekan di bawah komando Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Meski belum menunjukkan hasil signifikan pada pekan pertama, kasus corona mulai mengalami penurunan memasuki pekan kedua.
Pada pekan pertama, kenaikan kasus corona RI justru kerap pecah rekor, sementara positivity rate naik 3,5% dari pekan sebelum PPKM Darurat berjalan. Akan tetapi, sejak mencapai puncak dengan kisaran 56 ribu kasus pada Kamis (15/7), atau pada pekan, tren kenaikan kasus harian berhasil menurun pada 3 hari berikutnya.
Sementara di Inggris, pemerintah setempat justru mencabut pembatasan kegiatan masyarakat di tengah lonjakan kasus COVID-19. Pemakaian masker dan bekerja dari rumah yang sempat wajib dilakukan sudah resmi dihentikan.
Kebijakan ini menjadi kontroversial. Meski begitu, Perdana Menteri Boris Johnson menyatakan pencabutan aturan-aturan terkait COVID-19 adalah hari kebebasan. Agar pencabutan aturan kegiatan berjalan lancar, Johnson meminta warga yang belum divaksin untuk segera disuntik vaksin.
"Bila kami tak melakukan sekarang, maka kami akan membuka ini semua pada Musim Gugur, dan bulan-bulan di Musim Dingin. Itu akan membuat virus itu mengambil keuntungan dari udara dingin," ucap Johnson seperti dikutip dari AFP.
