Data Pasien COVID-19 Desember 2020: 72-77% Warga DKI, 17-18% Warga Bodetabek

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang instruktur senam yang mengenakan APD memimpin senam pagi untuk pasien virus corona COVID-19 di sebuah hotel di Karawaci,  Banten, Indonesia, Senin (5/10). Foto: Adek Berry/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Seorang instruktur senam yang mengenakan APD memimpin senam pagi untuk pasien virus corona COVID-19 di sebuah hotel di Karawaci, Banten, Indonesia, Senin (5/10). Foto: Adek Berry/AFP

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memaparkan sejumlah data terbaru terkait penyebaran COVID-19 di Ibu Kota.

Salah satunya berkaitan dengan fasilitas kesehatan yang dipakai untuk merawat pasien terindikasi positif COVID-19. Anies menyebut pasien yang dirawat di Jakarta tentu saja tak hanya berasal dari wilayahnya saja.

Melainkan ada juga dari wilayah di sekitar Jakarta yaitu Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi. Bahkan ada juga pasien yang berasal dari daerah lainnya.

"Di bulan Desember ini adalah pekan pertama, kedua, ketiga dari jumlah pasien yang dirawat di Jakarta itu 72 persen sampai 76 warga DKI, 17 sampai 18 persen warga Bodetabek dan 7 sampai 10 persen warga luar Jabodetabek," kata Anies, Sabtu (9/1).

Pemberlakuan dan pembatasan aktivitas luar rumah pada waktu PSBB DKI Jakarta. Foto: Dok. Pemprov DKI Jakarta

Tak hanya itu, dia pun meyakini ada warganya yang juga dirawat di daerah sekitar Jakarta. Hal ini mengindikasikan antara Jakarta dan wilayah sekitarnya punya keterkaitan dalam kasus penyebaran COVID-19.

"Saya yakin di kawasan tetangga kita pun ada sebagian yang dirawat adalah warga Jakarta, " ujarnya.

embed from external kumparan

Hal itu menjadi salah satu pertimbangan Anies untuk kembali menarik rem darurat dengan menerapkan masa PSBB ketat pada 11-25 Junuari 2021. Keputusan itu diambil demi mengendalikan penyebaran virus corona.

Dengan diterapkannya PSBB lagi, Anies berharap dapat benar-benar menekan penyebaran virus corona. Apalagi, Januari ini tidak ada libur panjang yang berpotensi menambah jumlah kasus.

"Pada saat ini kita tidak menyaksikan ada liburan panjang, kita tidak ada aktivitas yang memungkinkan mobilitas tinggi. Karena itu kita berharap bisa mengendalikan ini dengan sebaik-baiknya," kata Anies.