Dokter Tirta Sentil Ade Armando Soal Angka Kematian COVID-19

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
7
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dokter Tirta. Foto: Instagram/@dr.tirta
zoom-in-whitePerbesar
Dokter Tirta. Foto: Instagram/@dr.tirta

Unggahan status dosen komunikasi Universitas Indonesia, Ade Armando, yang menyinggung jumlah kematian corona, menjadi perhatian publik. Banyak pihak menilai unggahan pendukung Jokowi pada pilpres lalu itu tidak menunjukkan rasa empati terhadap keluarga pasien corona.

"Penduduk Inggris 68 juta, meninggal karena Covid 128 ribu. Penduduk RI 270 juta, meninggal karena Covid 73 ribu," tulis Ade Armando dalam akun Twitternya, Minggu (18/7).

X post embed

Terkait unggahan itu, Dokter Tirta Mandira Hudhi mengatakan ada baiknya Ade Armando tidak berbicara terhadap hal yang di luar kompetensinya.

Sebagai akademisi dan pengajar, Ade dinilai tidak bijak mengeluarkan pernyataan tersebut.

"Menurut hemat saya, maaf kalau ofensif, 73 ribu yang meninggal itu orang. Bukan barang. Dan itu yang ketahuan karena tracing yang buruk," ujar Tirta dalam Twitternya yang telah diizinkan dikutip kumparan, Senin (19/7).

Tirta menambahkan, situasi pandemi yang dihadapi Indonesia berbeda dengan negara lain. Empat faktor di antaranya adalah jumlah faskes dan tenaga kesehatan yang tidak imbang dengan jumlah pasien. Kedua adalah penegakan di masyarakat bawah tidak selaras dengan instruksi dari atas.

Sementara itu, vaksinasi belum mencapai target dan maraknya hoaks yang beredar.

X post embed

"Karena Anda membandingkan Inggris dengan Indonesia. Inggris dengan tracing yang bagus. Dan sekarang sudah survive dengan positivity rate rendah. Dan Indonesia dengan tracing yang enggak begitu bagus," ujarnya.

"Kalau soal angka angka, percayakan saja pada ahli epidemiologi," tegas Tirta.

Ade Armando di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu (20/11). Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan

Karena itu, dengan positivity rate di Indonesia yang masih tinggi, pembatasan mobilitas merupakan solusi. Meski begitu, PPKM yang efektif bisa dilakukan dengan catatan warga yang terdampak diberikan kompensasi agar mereka tidak bekerja dan terpapar corona.

"Itulah alasan kenapa Pak LBP (Menko Marves Luhut Binsar Panjaitan) sampai meminta maaf. Karena memang PPKM tidak efektif," ungkap Tirta.

kumparan masih berusaha unuk mengkonfirmasi Ade Armando tentang pernyataannya yang sempat menjadi trending Twitter itu.

Pernyataan Luhut Juga Pernah Dikecam

Menko Marves Luhut Pandjaitan, berbincang dengan Menteri Energi UEA Suhail al Mazrouei. Foto: Instagram/@luhut.pandjaitan

Soal angka kematian yang jauh lebih "sedikit" dibandingkan jumlah populasi, juga pernah diungkapkan Menko Marves Luhut Pandjaitan pada April 2020. Kala itu, statement Luhut juga memicu kecaman.

“Buat saya juga jadi tanda tanya sih, kenapa jumlah meninggal sampai hari ini. Maaf sekali lagi, itu kita angkanya enggak sampai 500 (meninggal). Padahal penduduk kita ini kan 270 juta, infected 4.000-an lebih, katakan kali sepuluh 50.000,” kata Luhut saat konferensi pers secara virtual, Selasa (14/4/2020).

Pernyataan Luhut itu dinilai menyepelekan nyawa manusia yang meninggal karena virus corona.

kumparan post embed

"Sebagai pejabat negara, itu tidak harus diomongkan yang seperti itu. Ini kan peran negara di tengah masyarakat, kalau negara tidak lagi bisa menjamin kesehatan, keamanan, dan kenyamanan. Kalau itu sudah tidak bisa dilakukan lalu mau disebut apa negara kita ini. Maka tidak sepatutnya pejabat negara seperti Pak Luhut bicara seperti itu," kritik Wakil Ketua Komisi III DPR Desmond J Mahesa.

Tahun berganti, pandemi COVID-19 di Indonesia tidak juga membaik. Bahkan, kini Indonesia menjadi pusat pandemi di Asia menggeser posisi India.

embed from external kumparan