SQ, LIPSUS DINASTI JOKOWI, Cover Collection

Gibran Rakabuming: Habis Bisnis Kuliner, Terbitlah Karier Politik

6 Januari 2020 12:34 WIB
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Gibran Rakabuming Raka usai menyerahkan berkas pendaftaran anggota partai di kantor DPC PDIP Solo, 23 September 2019. Foto: ANTARA/Mohammad Ayudha
zoom-in-whitePerbesar
Gibran Rakabuming Raka usai menyerahkan berkas pendaftaran anggota partai di kantor DPC PDIP Solo, 23 September 2019. Foto: ANTARA/Mohammad Ayudha
Lewat PDIP, putra sulung Jokowi, Gibran Rakabuming, mengincar kursi Wali Kota Solo—jabatan yang mengawali pamor dan kiprah politik sang ayah di kancah nasional. Padahal, dulu, bukan cuma sekali Gibran bilang tak minat terjun ke dunia politik. Kenapa kini ia berubah pikiran?
“Enggak ada (niat politik) dinasti, kasihan rakyat...”
Gibran mengucapkan itu usai meluncurkan salah satu bisnis kulinernya, Sang Pisang X Markobar, di Jalan Raden Saleh, Cikini, Jakarta Pusat, Maret 2018. Menurut putra sulung Presiden Jokowi itu, jika keluarganya terjun ke politik mengikuti jejak sang kepala keluarga, rakyat bisa susah.
Lelaki 32 tahun itu mengaku tak tertarik politik. “Sekolah juga bukan sekolah politik, bukan bidangnya (saya),” imbuhnya.
Menempuh studi di dua universitas berbeda, Management Development Institute of Singapore dan University of Technology Sydney Insearch, Gibran mengambil studi manajemen. Masing-masing lulus pada 2007 dan 2010.
Ilmu manajemen itu pula yang menjadi bekalnya menekuni aneka bisnis kuliner. Tak kurang dari empat merek makanan-minuman ia luncurkan, yakni Martabak Markobar, Goola Drinks, Mangkok Ku Rice Bowl, dan Siap Mas Keripik. Itu belum termasuk jasa katering sekaligus wedding organizer Chilli Pari Catering di Solo.
Maka bila Gibran pernah beberapa kali menyebut diri awam soal politik, itu tak mengherankan. Pada 2005, Gibran bahkan sempat keberatan dengan pencalonan sang bapak, Jokowi, menjadi Wali Kota Solo.
Wajar Jokowi sempat menyebut Gibran dan adiknya, Kaesang Pangarep, antipati terhadap politik. “Wong saya paksa untuk megang pabrik saya saja pada enggak mau semua. Diberi saja enggak mau, apalagi kalau dipaksa-paksa. Dia jadi politikus kan ya sulit,” kata Jokowi kepada kumparan di Istana Bogor, April 2018.
Gibran lebih suka menggeluti bisnisnya sendiri di sektor kuliner ketimbang mengelola bisnis bapaknya. Hingga akhir 2018, Gibran disebut Jokowi tak punya insting dan minat pada politik.
“Masih 100 persen senang di dunia usaha," kata Jokowi di Kebun Raya Bogor, Desember 2018.
Gibran dan Kaesang dan bisnis kuliner mereka, Sang Pisang X Markobar. Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan
Kiprah Gibran di bisnis kuliner memang tak perlu diragukan. Bisa dibilang, ia sukses berat. Sampai-sampai ia didapuk menjadi Ketua Asosiasi Perusahaan Jasa Boga Indonesia (APJBI) Kota Solo.
Usia bisnis kuliner Gibran kini genap satu dekade. Semua ia mulai pada 2010, saat umurnya 23 tahun. Kala itu, ia meminjam duit dari bank untuk memodali bisnis pertamanya, Chilli Pari Catering, yang kemudian berkembang menjadi jasa wedding organizer dengan konsep one-stop wedding solution.
Chilli Pari menawarkan pembuatan suvenir, undangan, dan dekorasi pernikahan, sampai penyewaan gedung untuk pesta perkawinan, sepaket dengan rias pengantin, foto pre-wedding, katering resepsi, plus hiburan dan MC. Pada Oktober 2019, omzet Chilli Pari mencapai Rp 1 miliar per bulan.
Sembari menjalankan Chilli Pari, pada 2016 Gibran membangun bisnis martabak berkonsep kaki lima, Markobar, yang diawali wirausahawan muda Arif Setyo Budi. Kini Markobar yang spesialis di rasa manis telah memiliki 33 gerai di seluruh Indonesia.
Tahun 2019, bisnis kuliner Gibran makin menggurita. Ia membuka tiga bisnis baru lewat kolaborasi dengan sejumlah pihak. Pertama, Goola Drinks yang mengkhususkan pada jenis minuman tradisional macam es doger, susu kelapa, susu gula aren, es cincau, kacang hijau, ketan hitam, sampai es asam jawan.
Agustus 2019, Goola mendapatkan pendanaan dari Alpha JWC Ventures sebesar Rp 71 miliar. Dana itu rencananya antara lain digunakan untuk memperbanyak gerai di 100 lokasi pada tahun 2020 ini.
Bisnis kedua yang dibuka Gibran tahun 2019 ialah Mangkok Ku. Restoran rice bowl yang diresmikan di bulan Juli itu kerja sama Gibran dengan adiknya, Kaesang Pangarep, serta Chef Arnold Poernomo dan Randy Julius. Berlokasi di Tanjung Duren, Jakarta Barat, Mangkok Ku akan membuka empat gerai lain yang tersebar di Jakarta dan Tangerang.
Berselang satu bulan saja dari peluncuran Mangkok Ku, Gibran kembali meresmikan bisnis ketiganya di tahun yang sama, yakni Siap Mas Keripik yang juga berkolaborasi bersama Kaesang. Keripik rasa singkong, seblak, dan nasi goreng yang dilengkapi minuman jahe kacang, jahe susu, dan kacang hijau itu akan dipasarkan lewat jaringan toko ritel.
Randy Julius, Gibran, Chef Arnold, dan Kaesang saat peluncuran Mangkok Ku. Foto: Azalia Amadea/kumparan
“Kalau kita jadi pengusaha, punya pegawai—ratusan pegawai, ribuan pegawai, itu bagus. Bisa menghidupi orang banyak,” kata Gibran soal alasannya menjadi pengusaha di Matraman, Jakarta Timur, November 2019.
Kini setelah satu dekade berkecimpung di bisnis kuliner, lima usaha milik Gibran—Chilli Pari Katering, Martabak Markobar, Goola Drinks, Mangkok Ku Rice Bowl, dan Siap Mas Keripik—secara bertahap dihibahkan pada Kaesang, sang adik, seiring keputusan Gibran untuk terjun ke dunia politik yang dulu tak ia sukai.
Saat ini, proses pengalihan bisnis Gibran ke Kaesang sudah mencapai 50 persen. Ia memantapkan diri mulai menekuni karier politik seperti ayahnya, dan telah mendaftar sebagai bakal calon Wali Kota Solo lewat Dewan Pimpinan Daerah PDIP Jawa Tengah pada Desember 2019, sementara pendaftaran di tingkat Dewan Pimpinan Cabang Solo kadung ditutup.
Debut Politik dari Solo. Desainer: Maulana Saputra/kumparan
Keputusan Gibran untuk maju ke Pilkada Solo tak ayal mengagetkan banyak kalangan. Ia telanjur dikenal dengan pilihannya menghindari politik. Di sisi lain, yang tak menyenangkan, majunya Gibran berpotensi menjegal bakal calon yang diusung DPC PDIP Solo, yakni petahana Achmad Purnomo yang maju bersama mantan Ketua DPRD Surakarta Teguh Prakosa.
Menurut Gibran, Ramadan 2019 menjadi titik balik dari keputusan drastisnya untuk mengikuti jejak sang ayah, Joko Widodo.
“Bulan puasa kemarin saya di Solo, ketemu orang, tanya-tanya ke warga keadaan Solo seperti apa. Nah, saat itu saya mulai terbuka bicara masalah politik dengan Bapak. Saya mulai bicara masalah politik, tidak lagi masalah uang,” kata Gibran di Solo, Kamis (2/1).
Minat Gibran pada perkara politik akhirnya terbuka. Ia lantas berkenalan dengan banyak orang mendalami politik. Ia juga menyebut nama beberapa politisi yang ia anggap sebagai mentor, yakni Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan Ketua DPR Puan Maharani. Walhasil, Gibran merasa jadi paham kenapa politik bisa menjadi jalan baik untuk menolong banyak orang.
“Kalau di bisnis mungkin saya cuma bisa bantu ribuan orang pegawai saya, mungkin cuma bisa ngasih CSR. Tapi kalau masuk politik, saya ternyata bisa bantu lebih banyak lagi,” ujar Gibran.
Gibran mengikuti jejak sang ayah, Jokowi, terjun ke dunia politik. Ilustrator: Maulana Saputra/kumparan
Gibran pun meminta restu kepada sang bapak. Beberapa pesan disampaikan Jokowi, salah satunya mengingatkan Gibran untuk mengikuti seluruh mekanisme partai terkait penjaringan calon Wali Kota Solo.
“Harus melalui proses ini, masih panjang. Semua proses dilalui, jangan ada jalan pintas. Semua mekanisme partai harus dilakukan. Tidak ada yang namanya jalan pintas,” ujar Gibran menirukan ucapan Jokowi kepadanya.
Empat hari setelah memantapkan tekad dan maju lewat DPD PDIP Jawa Tengah, Gibran dihadapkan dengan hasil survei Median yang menempatkannya di bawah petahana, Wakil Wali Kota Solo Achmad Purnomo.
Gibran berada di posisi dua dengan elektabilitas hanya 19,1 persen berdasarkan survei Median dengan metode terbuka, dan 24,5 persen lewat metode tertutup. Sementara Achmad Purnomo pada masing-masing metode beroleh angka 40,9 persen dan 45 persen. Jauh di atas Gibran.
Namun, Gibran menyangsikan survei tersebut. Ia mengatakan lebih berpegangan pada survei internal PDIP yang menurutnya memberikan hasil lebih baik baginya. “Tidak serendah (survei Median) itu,” katanya.
Berikutnya, Gibran aktif blusukan ke beberapa titik di Solo. Bersama tim suksesnya, dia menyambangi Pasar Mojosongo dan Pasar Klewer pada akhir tahun 2019. Di sana, ia membagi-bagikan kalender tahun baru bergambar dia dan putranya, Jan Ethes yang kerap disebut orang amat menggemaskan.
Menurut Gibran, ia mengeluarkan banyak uang untuk blusukan, namun tak mau menyebut kisaran angkanya. Ia sadar duit modal politik itu tak bakal balik ke kantongnya seperti ragam bisnis yang ia bangun, namun ia merelakannya. Apa pun hasilnya, Gibran bilang bakal tetap melaju di jalur politik, termasuk bila rekomendasi PDIP untuk calon Wali Kota Solo nantinya jatuh ke tangan Achmad Purnomo, bukan dirinya.
“Saya sudah siap kecewa dan dikecewakan. Saya sudah tidak cari uang lagi. (Cari) uang itu sudah 10 tahun yang lalulah. Sekarang cita-cita saya berubah. Saya itu sudah sering ditegur Bapak,” kata Gibran.
“Ditegur” yang dimaksud Gibran itu ialah diingatkan bahwa politik bisa membuatnya membantu lebih banyak orang.
Jokowi dan Gibran di depan Istana Negara, Oktober 2019. Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan
Gibran kini punya relawan yang menurut salah satu anggotanya, Antonius Yoga, berjumlah 40 orang. Tim relawan itu disebut bukan bentukan Gibran, melainkan terwujud secara sukarela. Antonius berpandangan, Solo butuh figur baru yang mampu membawa perubahan signifikan sekaligus mempercepat pembangunan.
“Itu, menurut kami, hanya bisa dilakukan oleh seorang anak muda yang melek teknologi, punya pikiran out of the box, dan ini ada di Solo, (yaitu) Mas Gibran,” kata Antonius kepada kumparan di Solo.
Untuk itu tim relawan Gibran saat ini fokus mengejar ketertinggalan elektabilitas Gibran. Mereka bergerilya melalui jalur sosial media yang dianggap bisa jadi cara efektif. Tim memasang target mengunggah sosok Gibran ke medsos minimal satu kali sehari untuk memperkenalkannya lebih luas kepada khalayak. Mereka mendapat asupan foto-foto dan video dari Tim Internal Gibran.
“Gibran pakai sandal jepit, misalnya, sudah mulai (ada yang nanya), ‘Sandal jepitnya merk apa, Mas?’” cerita Antonius, mencontohkan interaksi antara timnya dan netizen.
“Dia megang es teh aja jadi viral. Sampai di-retweet Bu Susi yang ngomentari. Jadi efeknya sudah nasional. Foto itu tuh dia dengan spontan beli es teh di warung karena haus sehabis Jumatan, terus difoto, tau-tau viral,” imbuh Antonius.
Ia menggambarkan Gibran sebagai sosok yang tak kebanyakan bernarasi, punya pribadi ramah, dan berpenampilan menarik. Di sisi lain, ia disebut tak bisa diprediksi.
“Tidak pernah diprediksi. Tahu-tahu ngucapin selamat Natal kemarin, (sambil bilang) ‘Jangan lupa, adik saya juga ulang tahun hari ini,’” ucap Antonius seraya tertawa. Kaesang memang lahir 25 Desember, bertepatan dengan perayaan Natal.
Gibran Rakabuming mendaftar jadi calon Wali Kota Solo di kantor DPD PDIP Jawa Tengah, Semarang, 12 Desember 2019. Foto: Afiati Tsalitsati/kumparan
Namun, sambutan positif sebagian orang untuk Gibran tak berlaku di PDIP Solo. Majunya Gibran di Pilkada Solo yang terkesan mendadak membuat internal partai banteng moncong putih itu terbelah.
Menurut Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu PDIP Solo, Putut Gunawan, Gibran selama ini tak pernah berkomunikasi dengan baik ke pengurus partai, bahkan beberapa kali terjadi distorsi komunikasi. Oleh sebab itu, ujarnya, akan janggal jika pencalonan Gibran diteruskan.
“Apa pun motivasinya, secara sadar maupun tidak, yang terjadi adalah dia obrak-abrik partai di Kota Solo ini,” kata Putut kepada kumparan di kantor DPRD Solo, 31 Desember 2019.
Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun, berpendapat PDIP memang terbelah soal Pilkada Solo. Di satu sisi terdapat kelompok pendukung Achmad Purnomo dengan jumlah lumayan besar, di sisi lain ada pendukung Gibran yang juga tak sedikit. Achmad Purnomo diusung konstituen struktural dan elite lokal partai, sedangkan Gibran didorong konstituen kultural dan pemilih lepas.
Masih menurut Rico, banting setirnya Gibran ke jagat politik mirip dengan Jokowi semasa menjabat Gubernur DKI Jakarta. Semula Jokowi menyebut tak akan maju sebagai calon presiden, namun akhirnya ucapan itu ia langgar sendiri.
Ada baiknya, ujar Rico, PDIP memberi waktu pada Gibran untuk menunjukkan upayanya, apakah ia dapat meningkatkan elektabilitasnya atau tidak. Setelahnya, hal itu dapat menjadi rujukan partai dalam menentukan calon.
“Orang, ketika dia sampai di usia tertentu dan sampai pada karier tertentu, apalagi sudah merasa dirinya cukup dengan usahanya, mungkin sudah merasa waktunya untuk masuk ke politik. Itulah kenapa pintu itu jangan pernah ditutup,” tutup Rico.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten