Golkar Hati-Hati Pilih Capres-Cawapres, Harus Kombinasi Figur Partai-Populer

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menko Perekonomian RI Airlangga Hartarto pada pembukaan Panen Raya Nusantara di Taman Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (22/6/2022). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menko Perekonomian RI Airlangga Hartarto pada pembukaan Panen Raya Nusantara di Taman Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (22/6/2022). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Kalimantan Barat, Maman Abdurrahman, menilai publik harus hati-hati dalam memilih figur capres-cawapres di Pilpres 2024. Maman menilai, paslon capres-cawapres di 2024 harus berasal dari latar belakang figur parpol dan populer agar seimbang.

"Kita harus hati-hati pada saat kita sekadar memilih calon yang sekadar populer saja. [Sebab] akhirnya idealisme yang dimiliki si calon, si presiden terpilih, nanti mau tidak mau harus sedikit digeser karena harus dibangun kompromi, kompromi politik," kata Maman dalam diskusi rilis survei Akar Rumput Strategic Consulting (ARSC) terkait peta Pilpres 2024, Rabu (20/7).

Menurut Maman, figur capres-cawapres harus bisa segera berkonsolidasi di pemerintahan segera setelah terpilih. Ia menilai apabila figur tersebut tak memiliki basis parpol, maka akan sulit bersinergi dengan kelompok pemegang kekuatan di parlemen dan partai.

"Misalnya targetnya ke utara idealismenya, karena dia harus membangun konsensus-konsensus dengan kelompok-kelompok pemegang saham di parlemen dan partai, akhirnya dia harus geser idealismenya. Ini yang harus kita jaga sama-sama," ujar Maman.

"Saya memiliki kritik tersendiri terhadap mereka-mereka, yang istilah saya free rider-lah. Ini banyak contoh kasus bahwa dia bukan figur partai kita dukung, setelah jadi cenderung akhirnya bergeser dari idealisme-idealisme amanah partai," tambah dia.

kumparan post embed

Sebab itu, ia sekali lagi berharap capres-cawapres terpilih di 2024 bisa berasal dari kombinasi pimpinan parpol dan tokoh populer.

"Yuk, pada satu titik kompromi, kita satukan antara figur partai dengan figur non partai. Di mana titik temunya? Siapa pun yang menjadi Presiden Republik Indonesia ke depan terpilih tidak boleh lagi harus terganggu waktunya untuk melakukan konsolidasi politik dan adaptasi politik yang cenderung memakan waktu lama. Kombinasi figur partai-populer dapat menjadi solusi," imbuh dia.

Di sisi lain, Maman berharap tokoh-tokoh populer yang masuk bursa capres namun belum berpartai dapat segera mencari parpol apabila serius mencalonkan diri. Ia menilai tak etis apabila partai hanya menjadi 'calo tiket' pencapresan.

"Kita lihat Ganjar, Anies, Erick Thohir, Ridwan Kamil mereka enak, gampang, wajar kalau populer. Sangat mudah mereka cari popularitas. Khofifah, gubernur lain, mudah karena bukan calon partai. Mereka enggak dibebani internal partai dan persepsi publik negatif. Mereka cenderung tidak punya beban, fleksibel," ujarnya.

"Figur non partai ini seharusnya sudah masuk partai kalau mereka memang mau bangun persepsi citra partai. Jangan terkesan saat mau pencalonan baru sibuk cari partai. Kalau sudah jadi [terpilih], juga terkesan andalkan partai jadi alat pencalonan," pungkas dia.