kumparan
search-gray
News13 Januari 2020 11:36

Iran Ingin Redakan Ketegangan dengan AS

Konten Redaksi kumparan
Rudal Iran di Irak, POTRAIT
Rudan Iran yang ditembakkan ke pangkalan udara koalisi pimpinan Amerika Serikat di Irak. Foto: Iran Press / via REUTERS
Iran memberi sinyal untuk meredakan ketegangan dengan Amerika Serikat. Selama sepekan terakhir kedua negara terlibat konflik yang berpotensi perang.
ADVERTISEMENT
Kekhawatiran perang muncul usai Iran membalas terbunuhnya jenderal Qassem Soleimani dengan menghujani pangkalan militer AS di Irak dengan belasan rudal.
Salat Jenazah Qassem Soleimani
Warga Iran berkumpul memberi penghormatan kepada jenazah Jenderal Qassem Soleimani saat akan salat jenazah di Teheran, Iran. Foto: AFP/Atta KENARE
Kondisi diperparah dengan jatuhnya pesawat sipil Ukraina setelah lepas landas dari bandara internasional di ibu kota Teheran. Iran mengakui pesawat tersebut jatuh lantaran terkena tembakan rudal mereka yang salah sasaran.
Krisis Iran-AS pun menjadi salah satu fokus pembahasan saat Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani melawat ke Iran. Dia mengatakan, Presiden Iran Hassan Rouhani sepakat deeskalasi atau meredakan ketegangan sebagai satu-satunya solusi krisis.
"Lawatan ini berlangsung di waktu krisis di kawasan. Kami sepakat, jalan keluar satu-satunya dari krisis ini hanya deeskalasi dari semua pihak dan dialog," kata Sheikh Tamim seperti dikutip dari AFP, Senin (13/1).
Pertemuan Emir Qatar dan Presiden Iran
Presiden Iran Hassan Rouhani (kanan) dan Emir dari Qatar Sheikh Tamim bin Hamad bin Khalifa Al-Thani, memberikan konferensi pers di Teheran, Iran. Foto: Iran Presiden Website / via REUTERS
Ucapan Sheikh Tamim dibenarkan Presiden Rouhani. Ia membuka peluang negosiasi dengan AS untuk mengakhiri pertikaian.
ADVERTISEMENT
"Kami memutuskan untuk lebih berkonsultasi dan bekerja sama untuk keamanan seluruh kawasan," kata Rouhani.
Qatar dikenal sekutu dekat AS. Mereka mengizinkan AS membangun pangkalan militer di dekat negaranya.
Walau bersahabat dengan AS, Qatar juga dikenal dekat dengan Iran. Kedua negara itu merupakan penghasil minyak terbesar di dunia.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Presiden Iran, Ayatulloh Ali Khamenei
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Presiden Iran, Ayatulloh Ali Khamenei. Foto: Reuters, AFP
Tak hanya Iran, AS juga mengirimkan sinyal positif serupa. Menteri Pertahanan AS Mark Esper mengatakan, Negeri Paman Sam siap berdialog dengan musuh bebuyutannya tersebut.
"Kami berkeinginan untuk duduk dan berdiskusi tanpa syarat sebagai suatu langkah baru dari tahapan menjadi Iran negara normal," kata Esper dalam wawancara dengan CBS.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white