Iran Ingin Redakan Ketegangan dengan AS

kumparanNEWSverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rudan Iran yang ditembakkan ke pangkalan udara koalisi pimpinan Amerika Serikat di Irak. Foto: Iran Press / via REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Rudan Iran yang ditembakkan ke pangkalan udara koalisi pimpinan Amerika Serikat di Irak. Foto: Iran Press / via REUTERS

Iran memberi sinyal untuk meredakan ketegangan dengan Amerika Serikat. Selama sepekan terakhir kedua negara terlibat konflik yang berpotensi perang.

Kekhawatiran perang muncul usai Iran membalas terbunuhnya jenderal Qassem Soleimani dengan menghujani pangkalan militer AS di Irak dengan belasan rudal.

Warga Iran berkumpul memberi penghormatan kepada jenazah Jenderal Qassem Soleimani saat akan salat jenazah di Teheran, Iran. Foto: AFP/Atta KENARE

Kondisi diperparah dengan jatuhnya pesawat sipil Ukraina setelah lepas landas dari bandara internasional di ibu kota Teheran. Iran mengakui pesawat tersebut jatuh lantaran terkena tembakan rudal mereka yang salah sasaran.

Krisis Iran-AS pun menjadi salah satu fokus pembahasan saat Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani melawat ke Iran. Dia mengatakan, Presiden Iran Hassan Rouhani sepakat deeskalasi atau meredakan ketegangan sebagai satu-satunya solusi krisis.

"Lawatan ini berlangsung di waktu krisis di kawasan. Kami sepakat, jalan keluar satu-satunya dari krisis ini hanya deeskalasi dari semua pihak dan dialog," kata Sheikh Tamim seperti dikutip dari AFP, Senin (13/1).

Presiden Iran Hassan Rouhani (kanan) dan Emir dari Qatar Sheikh Tamim bin Hamad bin Khalifa Al-Thani, memberikan konferensi pers di Teheran, Iran. Foto: Iran Presiden Website / via REUTERS

Ucapan Sheikh Tamim dibenarkan Presiden Rouhani. Ia membuka peluang negosiasi dengan AS untuk mengakhiri pertikaian.

"Kami memutuskan untuk lebih berkonsultasi dan bekerja sama untuk keamanan seluruh kawasan," kata Rouhani.

Qatar dikenal sekutu dekat AS. Mereka mengizinkan AS membangun pangkalan militer di dekat negaranya.

Walau bersahabat dengan AS, Qatar juga dikenal dekat dengan Iran. Kedua negara itu merupakan penghasil minyak terbesar di dunia.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Presiden Iran, Ayatulloh Ali Khamenei. Foto: Reuters, AFP

Tak hanya Iran, AS juga mengirimkan sinyal positif serupa. Menteri Pertahanan AS Mark Esper mengatakan, Negeri Paman Sam siap berdialog dengan musuh bebuyutannya tersebut.

"Kami berkeinginan untuk duduk dan berdiskusi tanpa syarat sebagai suatu langkah baru dari tahapan menjadi Iran negara normal," kata Esper dalam wawancara dengan CBS.

kumparan post embed