Jubir Wapres soal Usul Ekspor Ganja: Dapat Disalahgunakan

Usul anggota Fraksi PKS, Rafli Kande, menjadikan ganja sebagai komoditi ekspor jadi polemik. Juru bicara Istana Wakil Presiden, Masduki Baidlowi, mengatakan usulan ini justru rawan disalahgunakan.
Masduki tak menampik manfaat ganja di bidang kesehatan dan kecantikan. Tapi, Indonesia saat ini belum siap mengekspor ganja karena statusnya saat ini masih ilegal.
"Kalau mengekspor untuk kepentingan kosmetika atau kesehatan kedokteran, apa ya, mengekspor sebanyak itu sebaliknya dapat disalahgunakan oleh orang-orang tertentu, yang akhirnya menimbulkan mudarat, dampak yang negatif, itu yang justru jadi masalah," ujar Masduki saat dihubungi, Senin (3/2).
"Negara kan harus memberikan contoh yang baik kepada rakyatnya agar itu tak dijadikan sebuah komoditas yang membahayakan umat manusia," sambungnya.
Usulan tersebut disampaikan Rafli, dalam rapat kerja dengan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto di Gedung DPR.
Masduki memandang gagasan haruslah didasarkan pada relevansi yang tepat. Relevan dengan keadaan masyarakat hingga sesuai dengan isi undang-undangnya menjadi prasyarat yang harus diperhatikan sebelum gagasan itu dimunculkan.
"Saya kira itu yang mesti menjadi pertimbangan bagi orang-orang yang mau menggagas sesuatu yang akhirnya menjadi hal yang produktif dan nyata ya dalam artian bisa direalisasikan dan menjadi hal yang menguntungkan bagi semua pihak apakah itu negara atau bagi rakyatnya," ucap Masduki.
Ia meminta gagasan serupa haruslah dipikirkan terlebih dahulu dan disesuaikan dengan apa saja yang diperbolehkan dan dilarang oleh hukum suatu negara.
"Dalam agama pasti kalau negara melihat sebagai sesuatu hal yang tidak baik dan dilarang oleh negara saya kira kan agama memerintahkan kita harus taat pada negara, taat pada ulil amri, kepada pemerintah sepanjang pemerintah tak mengajak kemaksiatan," kata Masduki.
Sebelumnya Anggota Komisi VI DPR, Rafli Kande, mengusulkan agar ganja dapat menjadi komoditas ekspor. Usulan itu disampaikannya, karena dia menilai ganja cukup menjanjikan untuk diperdagangkan Indonesia ke luar negeri.
"Ganja entah itu untuk kebutuhan farmasi, untuk apa saja jangan kaku. Kita harus dinamis berpikirnya. Jadi ganja ini di Aceh tumbuhnya itu mudah," kata Rafli di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (30/1).
Namun, Rafli mengakui sarannya tersebut saat ini masih terkendala karena belum adanya regulasi di Indonesia. Selain menyoroti ganja, Rafli menyarankan agar barang-barang perdagangan di Indonesia mempunyai daya tarik untuk ekspor.
"Maksud saya Indonesia harus kita berikan performance yang membuat dunia itu terkesima, apa sajalah. Jadi seluruh produk,” ungkap Rafli.
