kumparan
5 Mei 2018 13:03

Kata @NetizenTofa soal Setingan, Gelang Kode, dan Effendi Saman

Mustofa B. Nahrawardaya (Foto: Instagram @netizentofa)
Mustofa Nahrawardaya atau yang dikenal dengan sebutan @NetizenTofa, memberikan penjelasan mengenai tuduhan Susi Ferawati yang merasa terintimidasi olehnya di media sosial. Menurutnya, isi cuitan yang dia tulis ke Fera sama sekali tak mengandung unsur ancaman.
ADVERTISEMENT
"Bunyi tweet saya kira-kira begini, 'Ibu Susi, tolong dicopot kausnya supanya tidak ribut, jadi anaknya tenang', kira-kira begitu kalimatnya," ujar Mustofa kepada wartawan di restoran Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (5/5).
Menurutnya, cuitan itu dia tujukan ke Fera --panggilan Susi Ferwati-- beberapa jam setelah kejadian, yakni pada pukul 21.00 WIB. Sementara aksi dugaan intimidasi terjadi saat pelaksanaan car free day (CFD) sekitar pukul 09.00 WIB.
"Jadi sudah terlewat kegiatannya, padahal yang disebut ancaman itu sesuatu yang belum terjadi, tapi ini kan sudah terjadi, demo sudah selesai. Saya malam-malam itu untuk yang lain, kalau bawa anak-anak tolong hati-hati," jelasnya.
Mustofa mengatakan, kaos #DiaSibukKerja sangat mempengaruhi, karena kaus bermuatan politik. Sangat berbahaya bila seseorang membiarkan anaknya ikut mengenakan kaos semacam itu.
ADVERTISEMENT
"Karena dia kaus politik A, dia memasuki kaus komunitas kelompok B, berbahaya apa lagi bawa anak, maka saya sarankan copot kausnya. Rupanya itu dianggap sebagai ancaman. Ancamannya di mana? Saya sudah ditelepon senior lawyer, itu laporan sampah, biarin aja, enggak ada ancaman," tukas Mustofa.
Meski Fera sudah melapor ke polisi, namun hal yang sama tak akan dilakukan Mustofa.
Korban intimidasi Massa #2019GantiPresiden. (Foto: Facebook/Susi Ferawati)
"Kami kader Muhammadiyah tidak seperti itu, tipikalnya enggak lapor seperti itu. Tapi kalau mereka sudah berlebihan, sudah lebay, beberapa orang dari kelompok mereka banyak melaporkan saya, nanti saya tuntut balik mereka, tapi sementara ini belum," jelas dia.
Mustofa juga mengklarifikasi pernyataannya mengenai gelang kode yang menurutnya janggal. Baik pelaku, korban dugaan intimidasi maupun para provokator dan orang yang mengaku polisi di lokasi kejadian, menggunakan gelang yang hampir sama.
ADVERTISEMENT
"Dugaan saya setingan, karena yang saya temukan di lapangan, pelaku, korban, provokatornya maupun orang yang mengaku polisi pakai gelang yang sama, mirip, nampaknya satu kelompok, makanya itu harus diusut," ucap dia.
Mustofa mengaku muncul di dalam video dugaan intimidasi itu bertujuan untuk mengamati, karena dia curiga, gelang kode tersebut merupakan salah satu bentuk kode sandi yang sama dan merupakan bagian dari setingan.
"Saya muncul di video itu mengamati, bukan saya bagian dari mereka, begitu. Maka di video itu saya tangkap mereka itu, makai kode sandi yang sama, itu yang saya anggap ini setingan, entah siapa yang nyeting, mereka pun mungkin enggak tahu, pelaku, provokator, mungkin tidak tahu sedang diseting pihak lain," sambung Mustofa.
ADVERTISEMENT
Di kesempatan yang sama, Mustofa juga menjawab keraguannya tentang sosok Effendi Saman, yang disebut-sebut sebagai relawan Jokowi pada Pilpres 2014 lalu. Namun saat kejadian, Effendi mengenakan kaus #2019GantiPresiden.
"Masa lalu orang-orang ini bisa di cek lewat jejak digital, saudara Effendi Saman ini tidak kami kenal di lingkungan inisiator, kami punya markas di suatu tempat tentang gerakan 2019 Ganti Presiden. Effendi tiba-tiba ngaku sebagai koordinator nasional gerakan, ini tanda tanya saya, siapa mereka, kami cek," jelas Mustofa.
Menurut Mustofa, Effendi Saman merupakan sosok yang tak konsisten, pernah menjadi relawan Jokowi, namun pernah juga mendukung Prabowo Subianto.
"Dulu dia pernah jadi relawan Jokowi, pernah mendukung Prabowo, orang ini tidak memiliki pendirian, tidak punya idealisme. Jadi saya khawatir orang-orang seperti ini akan berkembang biak ke siapa-siapa dan merugikan banyak pihak pula," pungkasnya.
ADVERTISEMENT
Usai menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya, Jumat (4/5), Fera menegaskan kalau intimidasi yang dia alami saat Car Free Day bukanlah setingan. Fera juga mengaku tidak mengetahui dan tidak mengenal para pelaku yang mengintimidasinya.
"Tolong ya, ini kan memang natural, bukan disengaja, saya kan orang biasa ini ada teman saya juga namanya Mbak Siti," kata Fera di Polda Metro Jaya.
Fera mengatakan, dalam kejadian itu pihaknya pada mulanya memang berniat untuk melakukan jalan santai dengan lima rekannya. Ia tak menyangka akan ada sejumlah orang yang mengintimidasinya hanya karena memiliki paham yang berbeda.
"Jadi beliau (Siti, temannya Fera-red) ajak saya waktu itu dengan suaminya dan tantenya. Sedangkan saya dengan anak saya ya kita saat itu memang ingin jalan santai tapi kemudian saat di CFD terjadi peristiwa itu, ya syok saja," ucap Fera.
Effendi Saman. (Foto: Facebook/Saman Effendi)
Tuduhan @NetizenTofa tentang haluan politik Effendi Saman juga dikonfirmasi langsung oleh orang yang bersangkutan. Saat dihubungi kumparan (kumparan.com), Jumat (4/5), Effendi membantah semua tudingan Mustofa.
ADVERTISEMENT
"Iya, ini fitnah keji. Jejak digital itu tidak tiba-tiba, 2013 saya memang salah satu koordinator yang menggagas relawan Jokowi, itu 2013, di tahun itu juga saya mengundurkan diri dengan alasan Jokowi tidak pro rakyat tapi pro asing," ujar Effendi.
Kemudian, di tahun 2014, Effendi berubah haluan dan menjadi pendukung Prabowo Subianto. Saat itu, kata Effendi, dirinya juga ikut dalam deklarasi Prabowo-Hatta di berbagai kota.
Effendi juga mengaku tidak berada di lokasi ketika kasus intimidasi di CFD terjadi. Ia mengatakan, saat itu dirinya berada di kantornya di Jalan Veteran I No. 33.
"Saya tidak ada di lokasi, saya di kantor, gampang kok kalau mau dicari dengan teknologi sekarang tidak ada Effendi di situ," kata dia.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan