Kerang Hijau dan Kehidupan Warga Pesisir: Bahaya yang Mengintai Kesehatan

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Aktivitas para pekerja kerang hijau terlihat di pesisir Cilincing, Jakarta Utara, Jumat (5/12/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Aktivitas para pekerja kerang hijau terlihat di pesisir Cilincing, Jakarta Utara, Jumat (5/12/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Tumpukan cangkang kerang menggunung di pesisir pantai wilayah Cilincing, Jakarta Utara. Jumlahnya yang banyak membuat cangkang kerang itu seperti menjadi daratan baru.

Cangkang kerang yang menggunung itu berasal dari tempat-tempat pengupasan kerang yang berada tidak jauh dari bibir pantai. Pekerjaan mengupas kerang yang dilakukan oleh warga Kampung Kerang tersebut telah berlangsung dari generasi ke generasi.

Ada yang bilang sejak tahun 90-an, ada juga yang lebih lama dari itu. Warga di sana sudah begitu akrab dengan segala hal yang menyangkut kerang. Ada yang jadi peternak hingga hanya mengupas kerang.

"Turun-temurun," kata warga asli Kampung Kerang, Suparni (49), kepada kumparan, Jumat (5/12).

Sejak lahir, Suparni sudah bersinggungan dengan kerang. Suami Suparni adalah peternak kerang. Hasil beternak kerang yang dihasilkan suaminya diserahkan pada seseorang yang dipanggil 'bos'.

Bersama bos itulah, Suparni bekerja mengupasi kerang sebelum dijual kepada para tengkulak. Anak dan menantu Suparni juga melakukan aktivitas yang sama.

"Ini anak saya juga ngupasin kerang kalau pagi, kalau sore jaga cucu," ucap dia.

Tiap satu ember kecil kerang yang sudah dikupas, Suparni diupah berbeda. Jika mengupas kerang yang sudah matang, dia dibayar Rp 3 ribu untuk tiap ember. Sementara itu, untuk kerang yang masih mentah atau bagian akarnya masih menempel, dia dibayar Rp 5 ribu tiap ember.

"Rp 100 ribu masih dapet (sehari)" ujar dia.

Meski upah yang diterima relatif minim, warga Kampung Kerang tetap bersyukur. Terpenting, sambung Suparni, uang yang dihasilkan olehnya dan suaminya bisa mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

kumparan post embed

Di Balik Menggunungnya Cangkang Kerang

Aktivitas para pekerja kerang hijau terlihat di pesisir Cilincing, Jakarta Utara, Jumat (5/12/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Suparni mengungkapkan dulu cangkang kerang tak dibuang ke pesisir pantai. Meksi lupa kapan pastinya, saat itu hasil dari budidaya kerang belum sebanyak sekarang. Cangkang kerang diangkut oleh petugas kebersihan untuk dibuang ke tempat yang semestinya.

"Dulu nggak ada gunung cangkang gini," kata dia sambil menunjuk ke arah gunungan.

Seiring makin banyaknya 'bos' penjual kerang, cangkang kerang mulai menggunung. Kini, tidak terhitung jumlah cangkang kerang yang dihasilkan setiap harinya.

Apa lagi, ada satu lapak pengolahan kerang yang beraktivitas selama 24 jam. Dari sana saja, ribuan limbah cangkang kerang dihasilkan saban hari.

"Ya, dari bos-bos itu (awal mulanya buang cangkang ke pesisir). Banyak bos di sini," ucap dia.

"Satu lapak aja hampir seratus karung tiap lapak atau bos. Ini banyak bosnya, dari ujung ke ujung. Bayangin aja. Apa lagi jelang Natal dan tahun baru ini," ujar dia.

kumparan post embed

Ingin Gunungan Cangkang Kerang Dibersihkan

Cangkang kerang hijau di Cilincing, Jakarta Utara, Jumat (5/12/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Sebagai warga setempat, Suparni sebenarnya merasa tidak nyaman dengan gunungan cangkang kerang itu. Apalagi di lokasi tersebut banyak anak-anak bermain hingga lansia yang beraktivitas.

"Penginnya dibersihin sih, saya keberatan juga kena hawa baunya, terus juga kan kalau lagi musim hujan uletnya pada ke sini," kata Warga Kampung Kerang, Suparni, ketika ditemui, Jumat (5/12).

Suparni berharap ada alat pengolah cangkang kerang menjadi lebih bernilai. Sebab, cangkang kerang yang menggunung itu sudah begitu mengganggu, apalagi saat kesehatannya sedang tidak baik.

"Saya keberatan juga baunya. Apalagi kalau kesehatan lagi kurang enak, kan kurang enak. Ya penginnya mah dibersihin, ada yang apa gitu. Jalan keluarnya apa, diangkut pakai apa biar gak menumpuk gitu," ujar dia.

Hal senada dikatakan Sani (29). Ia punya anak yang masih berusia 2 tahun, dan berharap ada solusi atas cangkang kerang yang menggunung itu. Ia khawatir, belatung, lalat dan tikus mengganggu kesehatan anaknya.

"Penginnya dibersihin soalnya juga kan ngundang lalat kecil gak enak ya, kalau lagi sama anak juga suka nemplok di makanan," kata dia.

kumparan post embed

Bahayanya

Sebelumnya, praktisi kesehatan masyarakat lulusan Universitas Indonesia dr. Ngabila Salama, menjelaskan dampak kesehatan jangka pendek dan jangka panjang dari limbah cangkang kerang.

Terutama jika berada di lingkungan permukiman, pesisir, pasar, atau tempat pengolahan seafood.

Beberapa di antaranya ialah keracunan gas hidrogen sulfida yang timbul dari timbunan cangkang kerang yang membusuk. Kemudian dapat menyebabkan penyakit kulit, diare, gastroenteritis, leptospirosis, kolera, hingga penyakit lain yang dibawa oleh nyamuk seperti DBD dan chikungunya.