Kesaksian Masinis KA Argo Bromo: Sepertinya Sinyal Eror
·waktu baca 2 menit

Masinis KA Argo Bromo Anggrek, Nofiandi, menyampaikan kesaksian terkait insiden yang menimpa keretanya dan KRL Commuter Line pada Senin (27/4).
Kecelakaan yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur itu menyebabkan 16 orang tewas. Kedua kereta yang terlibat juga mengalami kerusakan parah.
Nofiandi mengaku terkejut atas kejadian yang menimpa kereta yang dikendalikannya.
“Sama, kalau syok saya juga syok,” ucap Nofiandi sebagaimana dalam tayangan di YouTube Trainspotter ID sesaat setelah kejadian.
“Alhamdulillah, penumpang KA Bromo Anggrek relatif aman. Justru yang terdampak adalah penumpang KRL di bagian paling belakang,” sambungnya, mengacu pada KRL Commuter Line yang terlibat kecelakaan.
Nofiandi kemudian menduga adanya gangguan sinyal sebelum peristiwa tabrakan terjadi.
“Sepertinya ada sinyal yang eror,” ujar Nofiandi.
Ia juga menjelaskan detik-detik saat sinyal yang dilihatnya berwarna merah.
“Tadi sudah ada informasi dari PK (pusat kendali), tapi saya belum sepenuhnya copy (menerima informasi tersebut), sudah keburu sinyalnya merah,” paparnya.
“Dibilang mendadak juga tidak. Seharusnya (sinyal) tidak bisa merah, karena dari Bekasi sinyalnya hijau (urutannya: hijau, kuning, merah). Secara koneksi, kalau di sana hijau, di sini maksimal kuning, tidak bisa langsung merah,” lanjutnya.
Nofiandi menyebut kecepatan keretanya. “Kecepatan lumayan, sekitar 110 km/jam,” jelasnya.
Sekilas Argo Bromo Anggrek
KA Argo Bromo Anggrek adalah kereta kelas unggulan yang menghubungkan Jakarta Gambir dan Surabaya Pasarturi dalam waktu singkat, yakni hanya 8 jam.
Mengandalkan kecepatan tinggi di jalur utara, kereta ini hanya berhenti di dua stasiun utama, yaitu Cirebon dan Semarang. Efisiensi waktu ini menjadikannya pilihan utama bagi penumpang yang menginginkan kenyamanan sekaligus kecepatan maksimal.
